
Morgan menoleh ke arah pintu kamarnya, karena mendengar seseorang yang memanggilnya. Di sana, terlihat Fla yang memandangnya dengan tatapan tak percaya, dengan memegang sebuah plastik berisi bungkusan makanan yang baru saja ia beli.
Mereka tertangkap basah, dengan keadaan yang tidak seperti Fla pikirkan.
TUK!
Bungkusan makanan itu terjatuh ke lantai, karena terlalu lemas Fla untuk memegang plastik tersebut. Tenaganya seketika habis, karena ia melihat adegan yang tidak seharusnya ia lihat.
Kepanikan melanda Morgan saat ini. Ia merasa harus meluruskan semua ini dengan Fla, karena semua yang Fla lihat tidak seperti yang ia pikirkan.
Morgan melepaskan tangannya dari Ara, kemudian memandang ke arah Fla. “Fla ... Fla ini gak seperti yang kamu--”
“Aku mau istirahat, Bang. Kalau masih ingin bermesraan, silakan pakai ruangan lain,” pangkas Fla, yang mengucapkannya tanpa ekspresi sama sekali.
__ADS_1
Morgan malah merengek tidak jelas di hadapan Fla, karena ia merasa sudah membuat hati Fla terluka untuk kesekian kalinya. Kejadian ini sama sekali tidak mereka rencanakan, karena Morgan yang tidak tahu kalau ternyata Fla akan pulang mala mini.
“Fla ... bukannya kamu bilang gak akan pulang malam ini?” tanya Morgan, yang merasa sangat bingung harus menjelaskan seperti apa pada Fla.
Fla memandangnya datar, “Oh ... jadi karena hal itu, Abang jadi berani bawa wanita lain ke rumah ini?” tanyanya dengan datar dan tanpa ekspresi. Fla sedang mencoba untuk menahan tangisnya, dan tidak ingin menunjukkannya di hadapan Morgan.
Mendengar tuduhan Fla, Morgan merasa ia sangat salah sudah bertanya seperti itu padanya. Ia sudah sangat terpojok, dan tak tahu lagi harus berkata apa.
Morgan memandangnya dengan dalam, “Fla, saya mohon ... jangan seperti ini.”
Mata Fla membulat, tak habis pikir mendengar ucapan Morgan yang seperti itu.
“Jangan seperti ini? Seharusnya Fla yang bilang begitu, Bang.” Fla tidak ingin kalah dari Morgan, tetapi ia sama sekali tidak meluapkan emosinya di hadapan Morgan.
__ADS_1
Karena sikap Fla yang datar, hal itu malah semakin membuat Morgan merasa bersalah. Ia tidak bisa mengungkapkan apa pun lagi, karena sikap Fla yang lebih seram saat datar, dibandingkan saat ia meluapkan emosinya di hadapan Morgan.
“Enough, Bang. Abang bisa pergi dari kamar ini, atau--”
“Atau apa, Fla?” pangkas Morgan, Fla memandangnya dengan tajam.
“Atau Fla yang akan pergi dari rumah ini, sekarang juga!” ancamnya, Morgan merasa sangat tertekan, dan tidak bisa melakukan hal itu.
Morgan sangat tidak tega jika ia benar-benar melihat Fla yang pergi dari rumah ini. Mereka kakak-beradik, sudah tidak memiliki siapa pun lagi di dunia ini. Kedua orang tua mereka sudah tiada, membuat mereka hanya memiliki satu sama lain. Morgan tidak sampai hati jika Fla benar sampai pergi dari rumah ini.
Mau tinggal di mana dia?
“Baik, saya yang akan pergi dari sini,” ucap Morgan mengalah pada Fla, dan langsung menarik Ara untuk keluar dari ruangan kamar ini.
__ADS_1