Izinkan Aku Selingkuh

Izinkan Aku Selingkuh
Tidak Suka


__ADS_3

Fla paham, kalau ini bukanlah kesalahan suaminya. Memang Ara yang sudah bertindak terlalu jauh, sehingga membuat Fla tidak memedulikan hal itu lagi.


“Fla udah gak peduli lagi, Bang. Biarkan aja dia mau bersikap seperti apa. Yang penting, Abang memang benar tidak melakukannya,” ujar Fla, membuat Morgan sedikitnya tersenyum mendengar ucapan Fla.


Mereka saling menatap, membuat rasa sayang itu kembali timbul melalui pandangan dalam tersebut.


Suara perut Fla membuyarkan semuanya, membuat mereka tertawa mendengarnya.


“Lapar, ya?” tanya Morgan, Fla mengangguk dengan sisa senyuman yang masih merekah di pipinya.


“Ayo, saya buatkan makan siang,” ajak Morgan, Fla tertawa kecil mendengarnya.


“Memangnya Abang bisa masak? Terakhir masak telur pun gosong,” seloroh Fla, Morgan sampai malu mendengarnya.


“Jangan diungkit lagi, itu waktu saya belum jago masak,” ujar Morgan dengan rasa malu yang ada.


Fla memandang dalam ke arah Morgan, “Memangnya Abang bisa masak? Sejak kapan?” tanyanya, yang benar-benar tidak percaya dengan yang Morgan katakan.


“Sejak kamu menjauhi saya, saya beberapa kali terpaksa masak telur ceplok di malam hari. Kalau tidak, perut saya pasti sakit gak keruan,” jawab Morgan, sontak membuat Fla mendelik kaget mendengarnya.


Memang karena hal itu, Morgan menjadi sangat mandiri. Itu semua karena terpaksa, kalau saja Fla tidak melakukan hal itu, Morgan juga pasti tidak akan pernah memasak.


Fla terdiam sejenak, memikirkan kembali tentang permasalahan dan kesalahan yang terjadi di antara mereka, beberapa waktu lalu. Tangannya meremas sprei putih tersebut, saking kesalnya karena teringat permasalahan itu lagi bersama Morgan.


‘Kenapa semuanya jadi begini? Kenapa kita berdua saling menelantarkan satu sama lain? Aku gak ngurus dia, sementara dia juga gak pernah perhatian lagi sama aku,’ batin Fla, yang sangat menyesali apa yang sudah terjadi pada mereka.


Morgan menghela napasnya dengan panjang. Ia menyadari, Fla pasti akan teringat kembali permasalahan yang ada pada mereka.


Tak bisa dipungkiri, Fla memang tidak bisa benar-benar melupakan permasalahan tersebut.

__ADS_1


Morgan menciumi kening, pipi, hingga bibir Fla. “Jangan ingat-ingat lagi,” gumam Morgan lirih, lalu tetap menciumi Fla dengan sangat lekat.


Fla pasrah, dengan pikirannya yang memang masih memikirkan hal itu. Tidak akan pernah hilang permasalahan itu, yang sudah membekas di hati Fla.


Kesalahan Morgan sungguh sangat fatal, sehingga sekuat apa pun Fla melupakannya, tetap tidak akan pernah bisa menghapusnya dengan mudah.


Mereka kembali menjalani kehidupan mereka seperti biasa. Fla sudah mulai masuk dan kembali bekerja, sementara Morgan hanya sesekali masuk ke kampus, karena ada jadwal piket penerimaan mahasiswa baru.


Hari-hari mereka jalani dengan sangat harmonis, walaupun Ara selalu mengganggu hubungan mereka.


Siang itu Fla sudah kembali bekerja seperti biasa. Banyak sekali teman-teman yang merindukannya, termasuk juga Sakila dan Ilham.


Mereka saling berbincang, melepas rindu sesama staf dan juga teman sejawat. Mereka benar-benar sangat merindukan sosok Fla.


Setelah selesai berbincang ringan, Fla dan yang lainnya kembali bertugas. Mereka melakukan pekerjaan dengan lebih semangat lagi, karena Fla yang membawakan makanan dan camilan untuk mereka.


Tentu saja semua ini ada maksud dan tujuan tertentu. Fla membagikan makanan dan camilan ini, karena ia ingin meminta doa kepada teman-temannya, agar dirinya cepat diberikan momongan.


Fla sangat senang melihat mereka yang sangat bersemangat. Perasaan senang itu ada, setidaknya sampai Fla melihat Ara di hadapannya secara langsung.


Seketika senyumannya luntur, Fla benar-benar tidak mood melihat adik kandungnya itu, yang sedang memandangnya sinis.


“Ada apa?” tanya Fla dengan dingin, Ara berkacak pinggang di hadapannya.


“Gue mau bicara sama lo!” bentak Ara kasar, tak memedulikan lagi hubungan antara dirinya dengan Fla.


Melihat sikap kekanakkan Ara itu, Fla dengan sangat terpaksa menurutinya. Ia juga tidak ingin semua orang memusatkan perhatiannya pada mereka, karena ini adalah tempat umum.


“Lewat sini,” ajak Fla, yang melangkah mendahului Ara, untuk menuju ke sebuah taman yang sangat sepi pengunjung.

__ADS_1


Ara mengikutinya dari arah belakang, berusaha untuk melakukannya dengan cepat. Ia tidak bisa menunggu lagi, dan ingin sekali cepat-cepat meluapkan emosinya pada Fla.


Tibalah mereka di sebuah taman, yang sangat sepi dari pengunjung dan juga pasien. Taman yang luas, membuat mereka lebih leluasa untuk berbincang, entah membahas tentang apa pun itu.


Fla duduk di sebuah kursi taman, dengan Ara yang masih berdiri di hadapannya.


“Duduk di sini,” ajak Fla, sembari menepuk-nepuk tempat duduk di sebelahnya.


Ara memandangnya dengan sinis, “Gak usah! Gue gak sudi duduk sebelahan sama lo!” bentaknya, membuat Fla harus banyak-banyak menghela napasnya, demi menjaga kewarasannya berbicara dengan Ara.


“Ada apa? Apa yang mau kamu bicarakan?” tanya Fla, Ara memandangnya dengan tatapan yang semakin sinis.


“Gak usah basa-basi deh, Fla! Lo pikir, gue bakalan seneng kalau lo sama Morgan rujuk, dan honey moon kemarin? Gue sama sekali gak seneng!” bentak Ara kasar, dengan tidak menutupi maksud dan tujuannya yang ingin berbicara dengan Fla.


Baru beberapa kalimat terucap dari mulut Ara, tetapi sudah membuat kening Fla terasa pening.


“Saya masih sah istri Morgan!” ujar Fla, yang sudah tidak bisa lagi mengatakan apa pun pada Ara.


Ara mendengus kesal mendengarnya, “Ya, tapi tenang aja, gue gak akan pernah biarin kalian bersatu lagi! Gue akan hancurkan hubungan kalian, dan akan rebut Morgan dari lo!” bentak Ara, yang tidak ingin menutupi niat buruknya pada Fla.


Fla merasa sangat sedih, karena Ara yang sudah mengatakan hal itu padanya. Namun, kesedihannya itu hanya bisa ia tahan, tanpa bisa ia luapkan.


Ucapan Ara meninggalkan bekas di hati dan pikiran Fla. Ia merasa sangat terganggu, dengan hadirnya Ara di dalam rumah tangga mereka.


Fla menatapnya dengan nanar, “Kenapa sih, kamu selalu mau bikin hubungan saya dan Bang Morgan hancur?” tanya Fla, yang kepalanya sudah sangat pening.


Fla mengalami stress, karena ucapan kasar Ara yang sejak tadi selalu terngiang di benak Fla.


Lagi-lagi Ara berkacak pinggang, “Masih nanya juga? Ini semua karena lo lebih disayang sama ayah, dibandingkan gue! Mentang-mentang lo itu bisa kasih apa pun yang mereka pinta, terus lo jadi bisa disayang begitu sama ayah! Gue gak suka, dan gue dendam dengan hal itu! Gue gak suka ngelihat lo bahagia!” bentak Ara, membuat Fla semakin sendu saja mendengarnya.

__ADS_1


‘Ternyata, ini ada sangkut-pautnya sama kejadian masa lalu. Tapi kenapa dia gak menerima semuanya dengan lapang dada? Aku pun gak tau, aku juga gak mau seperti ini. Aku juga selalu berusaha bikin mereka sayang sama kamu,’ batin Fla, yang tidak bisa berkata-kata lagi di hadapan Ara.



__ADS_2