
Karena merasa kesal dengan keadaan, Fla segera menyiapkan semua barang-barangnya. Ia bergegas untuk segera pulang, karena ia tidak ingin melihat Morgan dulu, untuk sementara ini.
Yang mereka lakukan malam itu, masih membekas di benak Fla. Mungkin memang benar, kejadian itu tidak seperti yang Fla pikirkan, tetapi sedikit banyaknya kejadian itu sudah menyayat hati Fla.
Fla merapikan barang-barangnya, dan segera meninggalkan ruangannya.
Baru beberapa langkah keluar ruangannya, langkahnya terhenti karena melihat orang yang sangat ia kagumi.
“Fla?” gumam orang yang dikagumi oleh Fla.
“Ya, dokter Ilham.”
Ya! Namanya adalah Ilham. Ia adalah dokter di rumah sakit swasta, tempat Fla bekerja.
Sebelum Fla bertemu dengan Morgan, Ilham sudah lebih dulu mendekatinya. Namun, ia sama sekali tidak berhasil mendapatkan hati Fla.
__ADS_1
Sudah lama sekali, sejak pertama mereka kenal, Ilham masih tetap setia menunggu Fla. Sayangnya, Ilham sama sekali tidak menyatakan perasaannya, membuat Fla tidak memedulikannya.
Ilham mendekat ke arahnya, “Kamu mau pulang?” tanyanya, Fla mengangguk kecil mendengarnya.
Ilham menghela napasnya dengan panjang, “Saya dengar dari Sakila, Morgan dirawat?” tanyanya, lagi-lagi Fla mengangguk mendengarnya.
Memang, untuk menutupi dan mengubur perasaannya terhadap Fla, Ilham bersikap sewajarnya tetapi sangat peduli pada Fla.
Tidak hanya dengan Fla, ia juga sangat peduli dengan Morgan dan juga rumah tangga mereka. Ia selalu menunjukkan kepada Fla, kalau dirinya selalu ada untuk Fla, ketika Fla membutuhkan bantuan apa pun.
“Kamu gak ngerawat dia? Dia lagi sakit, lho,” ujar Ilham, Fla menghela napasnya dengan panjang.
“Saya lagi gak enak badan, dok. Saya mau langsung pulang aja,” ujar Fla, sontak membuat Ilham mendelik kaget mendengarnya.
“Kamu gak enak badan? Sini, biar saya periksa!” ujar Ilham, yang merasa sangat terkejut mendengar keadaan Fla.
__ADS_1
Fla menyeringai tak enak di hadapan Ilham, “Gak usah, dok. Saya cuma kecapean aja. Mungkin nanti akan pulih, setelah istirahat dengan benar. Beberapa waktu terakhir ini, saya selalu ambil shift jam 3 pagi, jadi ... istirahat saya terganggu,” sanggah Fla, tetap saja Ilham tidak tenang dengan keadaan Fla.
Ilham tidak bisa hanya diam, sembari memandang sebelah mata, apa yang terjadi dengan Fla.
Biar bagaimanapun juga, Fla masih ada di dalam hati Ilham, mengisi ruang kosong yang ada. Akan tetapi, Ilham sangat sadar diri, karena saat ini Fla dan Morgan sudah berumah tangga.
“Saya gak tenang. Gimana kalau saya antar kamu pulang?” tawar Ilham, lagi-lagi membuat Fla menyeringai tak enak di hadapannya.
“Maaf, dok. Suami saya sedang tidak ada di rumah. Khawatir ada orang yang berbicara lain, jika dokter Ilham mengantar saya pulang,” tolak Fla, Ilham mendelik kaget mendengarnya.
‘Benar juga,’ batin Ilham, yang tidak berpikir sampai ke sana.
“Lalu, kamu pulang dengan siapa?” tanya Ilham yang terlihat jelas kekhawatirannya itu, melalui cara ia menatap Fla.
“Saya pulang dengan sakila. Sebulan ini, saya selalu bareng sama dia. Berangkat pun bareng sama dia,” jawab Fla menjelaskan, agar Ilham tidak menawarkan kembali untuk pulang bersama dengannya.
__ADS_1
Ilham memandangnya dengan bingung, “Lalu, ke mana saja Morgan? Kenapa dia tidak mengantar kamu?” tanyanya, membuat Fla mendelik bingung mendengar pertanyaan Ilham yang seperti itu.