
Ara mendelik, tak terima dengan apa yang Morgan katakan padanya.
“Aku ini pacar kamu, Gan! Aku calon istri kamu! Kenapa masih aja mikirin dia, sih?!” pekik Ara kesal, Morgan semakin kesal mendengar ucapan Ara yang kasar pada Fla.
Matanya menajam kesal, “Tapi Fla istri saya, Ra!” bentak Morgan dengan kasar, membuat Ara semakin tidak menerimanya.
Tatapan Ara penuh rasa kesal, “Kamu bentak aku, Gan?” tanyanya tak percaya, Morgan memalingkan wajahnya dari Ara.
“Ini rumah sakit, Ara! Jangan ribut di sini! Kalau kamu mau ribut, lebih baik kamu keluar dari sini!” ujar Morgan, yang memang berniat mengusir Ara dari tempatnya ini.
Ara tentu saja tak terima. Ia merasa kesal, karena Morgan yang cenderung memikirkan perasaan Fla ketimbang dirinya.
“Kamu ....” Ara tak bisa melanjutkan ucapannya, lalu segera pergi dengan kesal.
Kini, tinggal hanya mereka di dalam ruangan. Suasana terasa canggung, karena keduanya yang tidak saling berbicara, selama beberapa waktu.
“Fla ke ruangan dulu, Bang—”
“Diam di sini sebentar. Ada yang ingin saya bicarakan sama kamu,” pangkas Morgan tiba-tiba, Fla paham dan langsung duduk pada kursi yang ada di hadapan Morgan.
Tangan Morgan menggenggam erat tangan Fla. Kali ini, Fla sama sekali tidak mengelak. Ia juga ingin memperbaiki hubungannya dengan Morgan, seperti apa yang Ilham katakan.
Apalagi, tadi Morgan sudah membelanya di hadapan Ara. Ia tidak memiliki alasan apa pun lagi, untuk membuat Morgan sedih kali ini.
“Apa benar, kamu sudah gak peduli lagi dengan saya?” tanya Morgan, Fla tersenyum pipih mendengarnya.
“Fla cuma marah waktu itu, bukan berarti Fla gak peduli lagi sama Abang,” bantahnya, tetapi tidak menjurus ke sana.
Morgan tersenyum mendengarnya, “Sekarang, apa masih marah?” tanya Morgan, Fla menggelengkan kepalanya kecil.
Satu senyuman merekah di sudut bibir Morgan, membuat Fla ikut tersenyum walau pipih.
Sebenarnya, Morgan tidak kuasa jika diacuhkan seperti itu dengan Fla. Namun, ia sangat menyadari kesalahannya. Walau itu hanya sebuah kesalahpahaman semata.
“Ada yang ingin saya jelaskan ke kamu. Malam itu ... saya dan Ara tidak—”
“Gak apa-apa, Bang. Fla tau, kok. Bang Morgan gak pernah bohong soal apa pun. Bang Morgan pasti selalu jujur,” pangkas Fla, yang memang sangat memercayai suaminya itu.
Selama mereka berumah tangga, Morgan sama sekali tidak pernah berkata dusta. Ia selalu berkata jujur, walau terkadang keadaan memaksanya untuk berbohong.
Morgan tersenyum simpul, “Saya gak bisa jauh dari kamu, Fla. Jangan bersikap acuh seperti ini. Saya gak akan bisa,” ujarnya dengan ******* kecil, membuat Fla juga merasakan sakit hati Morgan, ketika ia acuhkan kemarin.
“Iya, Bang. Fla akan berusaha untuk gak acuh dengan Bang Morgan. Fla mau kita baik-baik aja seperti dulu,” gumam Fla dengan sedikit penekanan di bagian akhir.
__ADS_1
Fla ingin memberitahu Morgan, kalau dirinya ingin mengulang semuanya dari awal bersama Morgan. Ia ingin berusaha lagi untuk mendapatkan keturunan, bersama Morgan.
Semua pasti ada jalannya.
“Terima kasih, Fla. Maafkan suamimu ini, ya?” pinta Morgan dengan tulus, Fla mengangguk ikhlas.
“Maafkan Fla juga ya, Bang. Tolong, berikan Fla kesempatan lagi, biar bisa memberikan Abang keturunan,” ujarnya, Morgan tersenyum mendengarnya.
“Ya, kita coba lagi. Mulai semuanya dari awal.”
Perkataan Morgan sungguh menyejukkan hatinya. Fla merasa sangat senang, karena ia bisa mendengar ucapan itu dari mulut Morgan.
‘Ternyata benar kata Ilham, kita semua harus pada jalan yang tegas. Jangan jalan di tempat seperti kemarin, itu tidak akan menyelesaikan masalah. Hanya akan menambahkan masalah, jika terus menghindar,’ batin Fla, memandang dalam ke arah suaminya yang sangat ia cintai itu.
“Tadi, kamu cium saya?” tanya Morgan, seketika membuat wajah Fla memerah mendengarnya.
Fla menunduk, lalu mengangguk mendengarnya. Morgan mengulurkan tangan lainnya ke arah wajah Fla, kemudian mulai menuntunnya untuk mendekati wajahnya.
Ilham seketika berbalik, tak ingin melihat kejadian itu. Ia yang melihat dari sela pintu yang terbuka, hanya bisa menghela napasnya dengan panjang.
Ternyata, Fla memilih untuk memperbaiki hubungannya dengan Morgan. Alih-alih ingin membuat Fla memilihnya, justru ia malah membuat Fla kembali ke pelukan suaminya.
Tak mengapa bagi Ilham. Ia hanya berpikir kalau sekarang belum waktunya untuk memiliki Fla.
‘Belum saatnya,’ batin Ilham, lalu segera melangkah pergi dari koridor kamar rawat Morgan.
Fla juga mengerti, tentang keterpaksaan Morgan dalam menerima Ara di sisinya. Itu semua karena orang tuanya sudah memakinya, dan mendesaknya untuk menerima wanita tersebut.
Mereka saling memandang satu sama lain, membuat Fla tersenyum sumringah di hadapan Morgan.
“Sudah lama ... entah sejak kapan tidak melakukannya lagi,” gumam Morgan, membuat Fla semakin malu saja di hadapannya.
Mereka sudah 5 tahun menikah, tetapi masih saja seperti muda-mudi yang masih berpacaran.
“Ya, sudah lama,” gumam Fla, mereka saling memandang kembali.
“Rawat saya, ya? Saya butuh kamu,” pinta Morgan dengan lembut, sembari memainkan tali tas Fla yang menjuntai.
“Ya, itu pasti,” ujar Fla, Morgan tersenyum mendengarnya.
Setelah kejadian itu, Fla dan Morgan terlihat semakin harmonis. Hampir tidak ada keributan di dalam rumah tangga mereka.
Fla juga merawat Morgan sampai ia benar-benar sembuh, dengan cara mengambil cuti tahunannya. Ia benar-benar menghabiskan cuti tahunannya, hanya untuk merawat Morgan sampai kondisinya benar-benar pulih.
__ADS_1
Perempuan itu kembali menjalani tugasnya sebagai istri dari Morgan. Ia menyiapkan makan untuk Morgan setiap harinya, menyuapinya, menggantikan pakaiannya, sampai tenaganya pulih kembali seperti sedia kala.
Morgan sangat bahagia, karena memang Fla yang ia butuhkan, untuk mengurusnya. Baginya, Fla adalah sosok wanita dan istri yang nyaris sempurna.
Namun satu kekurangannya, mereka belum dikaruniai keturunan selama 5 tahun berumah tangga.
Itu yang Morgan sayangkan.
Malam itu Morgan sudah merasa lebih baik. Fla sedang memasakkan makan malam untuk mereka. Morgan melangkah turun dari ranjang tidur kamar mereka, dan mencari keberadaan istrinya itu.
Mendapati istrinya yang sedang fokus memasak, Morgan melangkah pelan, sampai tak terdengar suara langkah kakinya.
Tangannya melingkar pada pinggang Fla, sukses membuat Fla terkejut mengetahuinya.
Perasaan nyaman tercipta, karena Morgan sudah bisa melakukan hal-hal manis lagi dengannya. Apalagi hal seperti ini ... ah, pasti semua wanita akan sangat menginginkannya.
“Sedang apa, Sayang?” tanya Morgan, yang memeluk erat Fla ke dalam pelukannya.
Fla yang sedang memasak, menjadi sedikit risih karena merasa dengus napas Morgan yang terasa hangat berembus di lehernya.
“Sedang masak makanan untuk makan malam,” jawab Fla seadanya, Morgan tak menghiraukan.
Sejak tadi ia hanya menghirup aroma tubuh Fla, yang tercium aroma khas bunga lili. Ia sangat mengenali wangi parfum yang Fla kenakan ini.
“JAR Bolt of Lightning,” gumam Morgan, yang menyebutkan merk parfum favorit wanita dari kota Paris yang Fla kenakan, yang harga per botolnya dijual sebesar US $765 atau setara dengan 10 juta rupiah.
Fla tersenyum simpul, suaminya tidak pernah salah mencium aroma parfum apa pun yang ia kenakan.
“Ya, Abang benar,” jawab Fla singkat.
Beberapa kali mereka mengunjungi kota Paris, dengan Morgan yang selalu membelikan apa pun yang Fla inginkan.
Namun, Fla tidak ingin menguras habis isi dompet suaminya. Ia hanya ingin meminta satu benda, yang bisa ia pakai ketika berada di rumah saja.
Ya, benda itu adalah parfum. Ia hanya ingin memakainya di saat bersama Morgan, agar Morgan bisa tersihir dengan aromanya yang sangat menggoda itu.
Fla sama sekali tidak pernah memakainya di luar rumah, bahkan tidak juga memakainya untuk bekerja.
Semua itu hanya ia khususkan untuk Morgan.
“Memangnya masih ada, parfum yang saya belikan waktu itu?” tanya Morgan, sembari tetap menciumi leher sampai bahu Fla.
“Masih. Fla cuma pakai di rumah aja, saat bersama Bang Morgan,” jawabnya.
__ADS_1
Morgan sama sekali tidak mendengarkan ucapan terakhir Fla. Ia sudah tersihir dengan wangi aroma lili, yang dihasilkan parfum tersebut.
Fla juga sudah merasakan, sesuatu yang terasa mengganjal, yang menempel pada bokongnya. Ia mengerti, sudah saatnya bagi mereka melakukan hal tersebut lagi.