
Fla terdiam, karena ia merasa memang semua permasalahan ini berawal dari hal itu.
Tak ada yang harus dibahas lagi mengenai keturunan.
Fla, sudah lelah.
“Saya sudah lelah, Ham. Berbagai macam pengobatan dan juga jalan, sudah kami coba. Belum juga kami diberi keturunan. Itu yang membuat Bang Morgan gusar, dan menerima perjodohan yang orang tuanya berikan padanya,” ujar Fla menjelaskan, membuat Ilham mendelik kaget mendengarnya.
“Morgan ... dijodohkan?” tanyanya.
“Ya.”
“Lantas, bagaimana dengan kamu?”
Fla menghela napasnya dengan panjang, “Saya tidak mengizinkannya, tidak juga mau dicerai.”
Suasana menjadi canggung, ketika Fla mengatakan hal itu.
Ilham merasa, usahanya kemarin menjadi sia-sia. Hanya mendengar ucapan seperti ini saja, Ilham sudah mengetahui, kalau cinta Fla pada Morgan begitu besar.
Itu akan semakin sulit untuk Ilham mendapatkan Fla.
Fla menyunggingkan senyumannya, “Tapi rasanya egois gak, sih? Memaksanya dalam keadaan seperti ini, dengan saya yang gak mau dicerai atau dimadu,” gumam Fla, yang sepertinya sedang meratapi kesalahannya sendiri.
Ilham tidak berpikir demikian.
“Kamu tidak egois, itu harga diri kamu sebagai seorang istri,” bantah Ilham.
Fla memejamkan matanya, “Tapi saya tidak bisa memberikan apa yang dia inginkan ....” Suaranya yang parau perlahan hilang, seperti orang yang sedang menahan tangisan.
Ilham sangat mengerti, kalau ini merupakan hal yang sangat berat bagi sepasang suami istri. Tujuan mereka menikah tentu saja untuk mendapatkan keturunan. Namun, karena Fla tidak mampu memberikannya pada Morgan, ia merasa sangat down dan bingung bagaimana cara untuk mempertahankan harga dirinya.
“Saya paham ... tetapi kamu juga tetap harus memiliki prinsip. Tentu saja dengan persetujuan Morgan juga, untuk menjalankan prinsip kamu,” ujar Ilham berusaha untuk memberikan masukan pada Fla.
“Prinsip?”
“Ya. Mau kamu apa atas hubungan ini. Kamu bisa jelaskan pada Morgan, supaya dia tidak menggantungkan hubungan ini dengan status yang tidak jelas. Menerima perjodohan, dengan tetap mempertahankan kamu. Kamu tidak menyetujuinya dan tidak juga mau dicerai. Itu semua adalah hal yang berlawanan, tetapi kamu menjalaninya dalam satu waktu yang bersamaan. Percayalah, itu hanya akan membuat kamu sakit sendiri,” ujar Ilham menjelaskan apa yang ia maksudkan.
__ADS_1
Fla menghela napasnya, membuka matanya dan berusaha memikirkan apa yang Ilham katakan barusan.
Kata-katanya seakan habis, Fla tidak mampu untuk mengatakan apa pun lagi.
Hanya bergeming.
Beberapa saat, mereka hanya bergeming. Tak ada kata terucap, Fla berusaha diam sembari memikirkan apa yang Ilham tuturkan tadi.
Sementara Ilham juga diam pada pemikirannya sendiri. Tak dapat dipungkiri, Ilham juga memiliki perasaan dan maksudnya sendiri pada Fla.
‘Jika kamu bersama saya, mungkin saya tidak akan pernah mempermasalahkan soal keturunan. Bisa saja kita mengadopsi anak, atau merawat keponakan saya yang lainnya. Saya tidak begitu peduli soal keturunan. Yang saya butuhkan hanya kamu,’ gumam Ilham dalam hati, yang tidak bisa ia ungkapkan saat ini.
Ilham tidak mau menambah beban pikiran Fla, karena saat ini mereka masih belum jelas statusnya.
Mungkin saja Fla juga masih sangat mencintai Morgan, sehingga ia tidak akan pernah membalas perasaan Ilham, pikir Ilham.
“Maafkan saya, jika perkataan saya terlalu menjurus. Saya tidak ingin kamu melakukan sebuah kesalahan, dalam mengambil keputusan kamu,” ujar Ilham, membuat Fla kembali berfokus pada orang di ujung sana yang sedang berbicara padanya.
Malam berlalu begitu cepat, hingga membuat Fla terkantuk. Mereka melakukan sleep call, dengan Ilham yang sama sekali tidak bisa memejamkan matanya.
Sudah pukul satu malam, Ilham merasa sudah sangat tanggung jika ia beristirahat sekarang. Pukul 3 nanti ia sudah harus sampai di rumah sakit kembali.
Hanya kali ini.
Permasalahan yang terjadi pada Fla, membuat Ilham merasa senang. Akhirnya, ia bisa masuk sedikit demi sedikit ke dalam kehidupan Fla, walaupun tidak gamblang membicarakan soal perasaannya pada Fla.
Ilham masih sangat setia menunggu Fla, bahkan ketika ia mendengar Fla sudah dinikahi Morgan sekalipun.
Pukul dua pagi. Ilham tersadar karena terlalu asyik memandangi foto kebersamaan dirinya dan juga Fla, dengan teman-teman sejawat mereka.
Tentu saja Ilham tidak memiliki foto bersama dengan Fla. Hanya selembar foto semua staf, yang bisa ia perhatikan setiap malamnya.
Kebetulan, posisi Fla berada tepat di belakang Ilham, yang sedang duduk di sebuah kursi. Semua dokter duduk rapi, dengan kursi yang sudah tersusun, sementara para asisten dan perawat lain berdiri di belakang mereka.
‘Kapan kita bisa foto bersama? Hanya berdua saja, tidak ada yang lain,’ batin Ilham, yang merasa sangat menantikan hal itu.
Delapan tahun bukanlah waktu yang singkat. Apalagi, ia juga harus menahan diri selama lima tahun ini, karena Fla yang terlihat sangat harmonis dengan rumah tangganya bersama dengan Morgan.
__ADS_1
Ya, harmonis. Setidaknya sampai permasalahan keturunan ini datang dalam rumah tangga mereka.
Banyak sekali wanita yang sering kakaknya jodohkan untuknya, tetapi Ilham sama sekali tidak menginginkannya, dengan alasan masih ingin meniti karirnya.
Padahal, Ilham sudah melakukan hal yang ekstrim. Yaitu menunggu seorang wanita yang sudah menikah dengan lelaki lain.
Sebuah hal yang sangat sia-sia, tetapi Ilham sudah menjalaninya selama lima tahun ke belakang ini.
Tak hanya wanita pilihan kakaknya, banyak teman sejawatnya yang juga mendekatinya. Bahkan banyak dokter muda yang juga terpesona dengan ketampanan dan kepiawaian Ilham dalam melakukan tugasnya sebagai seorang dokter.
Namun tetap saja, soal hati Ilham tidak bisa memaksakan. Yang ia cinta hanya Fla, tidak yang lain.
“Haha.” Ilham tertawa kecil dengan tangan yang menutupi matanya, menertawakan dirinya yang sudah melakukan hal bodoh ini.
Entah sampai kapan ia bisa bertahan, dalam ketidakpastian ini.
Hanya ia yang mengetahui jawabannya.
Terdengar sayup suara Ilham tertawa, membuat Fla terusik dari tidur lelapnya.
“Hmm ....”
Fla melihat ke arah layar handphone-nya, dan ternyata itu masih tersambung pada panggilan dengan Ilham.
Mendengar suara lenguhan Fla, Ilham menyadari jika Fla sudah bangun dari tidurnya.
“Fla? Sudah bangun?” tanya Ilham memastikan.
“Oh, maaf. Kenapa saya jadi ketiduran seperti ini. Semalam saya mendengkur, tidak?” tanya Fla, Ilham tertawa kecil mendengarnya.
“Mendengkur, keras sekali. Makanya saya tertawa tadi,” seloroh Ilham, sukses membuat Fla malu mendengarnya.
“Aduh ....” Fla mendesah malu, Ilham hanya tertawa kecil saja.
Ilham sangat senang, ketika ia bisa bercanda seperti ini dengan Fla.
Dulu, sewaktu mereka masih belum sedekat ini, jangankan untuk bercanda, berbicang saja jarang sekali. Hal ini yang membuatnya senang, karena sudah bisa sedikit ada kemajuan di antara mereka.
__ADS_1