Izinkan Aku Selingkuh

Izinkan Aku Selingkuh
Duri Dalam Daging


__ADS_3

Fla memandang Ara dengan sendu, “Udahlah, Ra. Semua juga udah terlanjur terjadi. Mereka pun udah gak ada, gimana bisa kita balikin keadaan seperti dulu lagi? Kita lupain aja kejadian dulu, dan kita buka lembaran baru,” ujar Fla, berusaha untuk meyakinkan hati Ara tentang masalah ini.


Ara memandangnya dengan senyuman yang menyungging, “Hah? Lupain? Enak banget lo bilang tinggal lupain! Gue gak akan pernah bisa lupa sama kejadian dulu. Gue juga udah sumpah, gak akan bikin lo tenang!” bentak Ara, Fla mendesah sendu, satu-satunya keluarganya yang tersisa ternyata memiliki perasaan untuk mengatakan hal kasar itu padanya.


Walaupun kakak beradik, sejak dulu mereka sama sekali tidak akur. Orang tua mereka selalu menasehati Ara, tetapi Ara sama sekali tidak menurut dengan apa yang mereka katakan.


Karena rasa cemburunya lebih besar, daripada rasa sayangnya terhadap Fla.


“Masa kamu sampai hati bikin rumah tangga saya sama Bang Morgan berantakan? Gak seperti itu juga, Ra. Kamu gak harusnya begini,” ujar Fla, menasehati dengan sisa-sisa rasa kemanusiaan yang ada pada diri Ara.


Ara mendelik, “Siapa suruh lo gak bisa kasih dia keturunan!” bentaknya kasar.


Sedikit saja ucapan Ara, sangat membuat hati Fla hancur berantakan. Fla benar-benar memikirkan ucapan Ara yang kasar itu, bahkan ucapannya itu sampai terngiang terus-menerus di telinga Fla.


Telinganya dipaksa mendengar ucapan yang buruk, yang sangat membuat dirinya down.


Matanya mendelik, kemudian teralihkan ke arah rerumputan taman. Ia merasa tidak bisa menerima apa yang barusan Ara katakan.


“Tega banget kamu, Ra ....”


Air mata mengalir deras dari pelupuk mata Fla. Ia merasa tidak bisa menerima, sehingga kedua tangannya terus menutupi kedua telinganya.


Rasa puas melanda hati Ara, ia merasa sangat senang melihat reaksi Fla yang seperti itu.


Ara menyunggingkan senyumannya, “Kalau lo gak bisa kasih kerunan secepatnya, jangan salahin gue kalau gue bakalan maju buat menikah sama Morgan!” bentaknya, kemudian segera pergi dari sana secepatnya.


Masih tersisa ucapan kasar yang Ara lontarkan padanya. Telinganya sampai berdengung, saking tidak bisa ia menghentikan ucapan Ara yang kasar itu.


“Kenapa?” gumam Fla, yang tidak bisa melakukan apa pun lagi.


Dua tangan yang kekar tetapi lembut, merengkuh Fla masuk ke dalam pelukannya. Sempat terkejut dengan orang yang tiba-tiba saja merengkuhnya, Fla memandang nanar ke arahnya.


“Dokter Ilham,” gumam Fla, yang merasa sangat terkejut mengetahui Ilham yang datang untuk merengkuhnya.


Fla berusaha untuk melepaskan diri dari Ilham, tetapi Ilham sama sekali tidak mengizinkan Fla untuk menghindarinya kali ini.

__ADS_1


“Jangan, tolong ... seperti ini saja.” Ilham semakin merengkuhnya dengan erat.


Sudah lama sekali mereka tidak bertemu, membuat Ilham sangat merindukan Fla. Sepanjang Fla cuti, ia sama sekali tidak menghidupkan handphone-nya. Hal itu yang membuat Ilham gusar.


Fla menunduk, berusaha menumpahkan rasa sakit hatinya dalam pelukan Ilham.


“Kenapa kamu blokir kontak saya?” tanya Ilham, Fla mendadak bingung dibuatnya.


Fla menghapuskan air matanya, menggunakan punggung jemarinya. Ia berusaha untuk bersikap biasa saja di hadapan Ilham.


“Saya gak blokir nomor dokter Ilham,” jawab Fla seadanya.


“Saya chat kamu, nelepon kamu, kenapa gak pernah ada respon?” tanya Ilham lagi dengan sendu, Fla tersenyum mendengarnya.


“Saya gak nyalahin handphone-nya. Saya fokus ngurus Bang Morgan,” jawab Fla lagi, Ilham tersadar dengan hal itu.


Morgan.


Saking rindunya Ilham pada Fla, ia sampai melupakan hal itu. Ia lupa, kalau Fla dan Morgan sudah kembali bersama lagi.


Mereka sama-sama salah tingkah, tak ada kata yang terucap setelahnya. Untung saja tempat ini sepi, sehingga mereka tidak terlalu malu karena pandangan orang lain terhadapnya.


Ilham memandang ke arah Fla dengan ragu, “Kamu kenapa? Kok nangis di sini?” tanyanya, membuyarkan suasana.


Merasa malu dengan Ilham, Fla hampir tidak bisa menatap mata Ilham dengan benar. Ia hanya bisa menunduk, kemudian memandang Ilham sejenak.


“Saya gak apa-apa, dok. Cuma ... pengen nangis aja,” sanggah Fla, Ilham memandangnya dengan pandangan tajam.


Firasatnya mengatakan, ada hal yang tidak beres yang terjadi di antara Fla dan juga wanita yang baru saja pergi.


“Ada yang lagi kamu pikirin? Tadi itu ... siapa?” tanya Ilham, penasaran dengan apa yang terjadi di antara mereka.


Fla mendelik kaget, ia menunduk, berusaha untuk mengalihkan suasana.


“Gak ada yang saya pikirin kok, dok. Yang tadi itu ... kerabat saya. Dia datang mau kontrol, sekalian kasih kabar duka. Saya jadi sedih, dan gak tahan nangis,” sanggah Fla lagi, dengan kata-kata yang ia karang bebas.

__ADS_1


Ironisnya Ilham percaya dengan kata-katanya. Ia hanya bisa menganggukkan kepalanya, dan tidak bertanya-tanya lagi tentang apa yang terjadi di antara mereka.


“Oh begitu. Oh ya, ngomong-ngomong, gimana kabar Morgan? Sudah baikan perutnya?” tanya Ilham, Fla mengangguk kecil mendengarnya.


“Sudah saya rawat semaksimal mungkin. Dia juga sudah sembuh sekarang,” jawab Fla, Ilham tersenyum mendengar kemajuan Morgan itu.


“Bagus, dong. Jaga dia baik-baik, ya. Bilang juga ke dia, jaga kamu baik-baik. Kalau enggak, dia akan tau akibatnya.” Ilham mengisyaratkan sebuah niat yang tersirat melalui perkataannya.


Mata Fla membulat, merasa ada sesuatu yang diisyaratkan Ilham padanya. Ia merasa ada sesuatu yang aneh dari ucapan Ilham, membuatnya agak canggung memandang ke arah Ilham.


Ilham menghapus sisa air mata Fla, membuat Fla agak tersentak karena terkejut menerima perlakuan Ilham itu.


“Jangan nangis lagi. Kalau ada apa-apa, kamu bisa ngomong sama saya. Gak akan saya bikin kamu menangis seperti ini lagi,” ujar Ilham, benar-benar membuat keadaan mereka canggung.


Fla tak ingin bertanya, meskipun ia merasa bingung dengan apa maksud dari setiap perkataan Ilham itu.


Mereka sama-sama memandang dengan tatapan yang dalam, membuat kecanggungan semakin terasa saja.


“Saya ke ruangan dulu. Jangan lupa semangat bekerja,” ujar Ilham, membuat Fla mengangguk kecil mendengarnya.


“Selamat bekerja, dok.” Fla memberikan sebuah ucapan untuk Ilham, membuat Ilham mengangguk kaku di hadapannya.


Ilham pun pergi dari hadapan Fla, membuat Fla menjadi semakin bingung dibuatnya.


‘Kenapa Ilham tiba-tiba aja meluk aku, ya? Kenapa dia sedih, karena aku gak bisa dihubungi?’ batin Fla, yang merasa sangat aneh dengan keadaan mereka saat ini.


Karena kedekatan mereka kala itu, Fla jadi merasa kalau Ilham terlalu berani mengatakan dan berbuat sesuatu secara terang-terangan padanya.


‘Kenapa semuanya terasa sangat sesak?’ batin Fla, aneh dengan keadaan yang ia rasakan itu.


Fla jadi merasa, kalau kedekatannya dengan Ilham adalah sebuah kesalahan. Ia merasa harus berjaga jarak dengan Ilham, demi keutuhan rumah tangganya dengan Morgan.


***


__ADS_1


__ADS_2