
Karena sudah terlalu lelah, Morgan pun akhirnya tertidur di atas ranjangnya. Ia menahan rasa sakit pada perutnya, dan juga menahan rasa sakit hatinya.
Mimpi buruk selalu Morgan rasakan beberapa bulan ini, karena hal yang ia buat sendiri. Namun, ia tidak bisa menceritakan mimpi buruk itu kepada Fla, karena Fla yang pastinya tidak akan pernah mau mendengarnya.
BRAK!
Seseorang membuka pintu kamar dengan kasar, membuat Morgan yang sedang bermimpi buruk mendadak tersadar dari mimpinya. Ia bangkit, dan langsung memandang ke arah pintu kamarnya.
“Sayang ....” Dari arah sana, Ara melangkah naik ke ranjang Morgan untuk memeluknya, sontak membuat Morgan mendelik dan menghindarinya dengan cepat.
Karena Morgan yang menghindar dan lekas bangkit dari ranjangnya, Ara tersungkur ke atas ranjang, kehilangan keseimbangannya.
__ADS_1
“Aduh!” teriak Ara, yang merasa terkejut karena kehilangan keseimbangan. Ia tidak menyangka, kalau Morgan akan menghindarinya seperti itu.
Morgan menatapnya dengan sinis, “Kamu ngapain di kamar saya, Ra?!” tanyanya dengan sinis dan tegas, membuat Ara memandangnya dengan tatapan yang sama dengan yang Morgan lontarkan padanya.
“Sayang, kamu kenapa sih? Kenapa kamu malah ngebentak aku begini?” tanyanya sinis, membuat Morgan mengalihkan pandangannya darinya. “Kamu kasar banget tau gak!” bentak balik Ara, Morgan sangat tidak peduli dengan apa yang ia katakan.
Morgan sangat peduli dengan yang namanya privasi. Ia tidak ingin siapa pun mengganggu privasinya, sekalipun itu Ara atau Fla.
“Kamu kenapa sih, Gan? Memangnya aku gak boleh masuk ke kamar calon suami aku?” tanyanya sinis dan menantang Morgan.
Morgan memandangnya dengan tajam dan tegas, “Gak boleh! Ingat, saya masih sah suami Fla, dan masih berstatus Kakak ipar kamu!”
__ADS_1
Ucapan Morgan sangat tidak bisa diterima Ara. Morgan membuat Ara teringat kembali, dengan status Morgan yang masih merupakan suami sah dari Fla. Ia merasa tidak dihargai oleh Morgan, karena ucapan Morgan yang sangat kasar dan menyakiti hatinya.
“Kamu tega banget, sih? Kamu sengaja ngomong gitu, karena kamu mau nyakitin hati aku, bukan?” tanya sinis Ara. Matanya menyipit tajam, “Ingat Gan, istri kamu itu mandul! Kamu gak akan bisa dapat keturunan dari dia!” teriak Ara yang sudah sangat kesal dengan keadaan yang terus menyudutkannya itu.
Morgan menghela napasnya sembari menunduk menahan amarahnya. Amarah Morgan hampir saja ia luapkan, karena mendengar Ara mencela Fla di hadapannya.
Matanya memandang tajam ke arah Ara, “Walaupun Fla gak bisa kasih saya keturunan, bukan hal yang tidak mungkin kalau kamu juga akan bisa kasih saya keturunan!” ujarnya, sontak membuat Ara mendelik kaget mendengar tuduhannya itu.
Ara merasa sangat sakit, ketika Morgan mengatakan hal itu. Terdengar dengan jelas nada celaan dari Morgan, membuat rasa sakit hati Ara kian memuncak, karena Morgan yang terus membela Fla di hadapannya.
“Kamu ngeremehin aku, Gan? Kamu gak percaya sama aku kalau aku bisa kasih kamu keturunan?” tanya sinis Ara, sembari memandang Morgan dengan sinis. Ara menarik kerah kemeja Morgan dengan kasar, “Sini, biar aku kasih tau kalau aku bisa mengandung anak kamu!” ujarnya dengan posisi Morgan yang berada sangat dekat di hadapannya.
__ADS_1
“Bang ....”