
Tangannya ia letakkan pada kepala Fla, “Makan yang banyak, ya. Kita pasti akan pulang malam,” ujar Morgan, membuat Fla mengangguk kecil mendengarnya.
Melihatnya menurut saja seperti ini, membuat Morgan merasa sangat senang.
Setelah mengisi perut mereka yang keroncongan, mereka pun pergi keluar hotel dengan berjalan kaki. Suasana di kota Paris ini sangat indah, karena banyak sekali pemandangan yang bisa mereka lihat di sini.
Dari hotel tempat mereka menginap, mereka berjalan ke arah menara eiffel, yang letaknya sekitar 500 meter dari hotel tersebut.
Menara eiffel adalah destinasi pertama yang mereka kunjungi, setibanya di Paris.
Sepanjang jalan mereka sangat menikmatinya. Banyak sekali wisatawan yang juga berlibur ke sini.
Banyak wisatawan lokal yang juga berdatangan, membuat Fla merasa sangat gemas ketika melihat anak-anak mereka yang sangat lucu.
“Mereka lucu banget, ya! Gemes Fla jadinya,” gumam Fla sembari memandang ke arah para anak kecil itu.
Morgan merengkuh mesra Fla ke dalam pelukannya, “ Nanti anak kita juga akan lucu, sama seperti mereka,” ujarnya, Fla tersenyum simpul mendengarnya.
Hanya mendengarnya saja, membuat Fla merasa sangat bahagia. Ia tidak bisa membayangkan, bagaimana jadinya ia jika memiliki anak nantinya.
“Pasti akan sangat menyenangkan!” gumam Fla dengan senyumannya yang manja, membuat Morgan merasa sangat senang dan juga bahagia melihatnya.
Mereka menyusuri jalanan, dan tiba tepat di sekitar menara eiffel. Mereka berfoto ria, melakukan apa pun yang mereka inginkan.
Mereka juga mengunjungi tempat-tempat lainnya, seperti taman Parc Du Champ De Mars, Museum Musee d'Orsay, Luxembourg Gardens, dan terakhir mereka singgah di sebuah jembatan bernama Pont d'Iena.
Setidaknya mereka tidak terlalu jauh dari tempat mereka menginap sekarang.
Suasana malam hari ini terlihat sangat indah. Taburan bintang di langit, membuat mereka sangat menikmati kebersamaan mereka, di hari pertama mereka berada di kota Paris ini.
Fla menunduk, memejamkan matanya. Ia merasa sangat nyaman berada dalam dekapan Morgan seperti ini.
Bukan salah mereka, bukan salah takdir. Ini semua karena campur tangan keluarga Morgan.
“Bang Morgan ...,” gumam Fla, Morgan masih memandang taburan bintang di langit Paris.
“Hmm ....”
__ADS_1
“Masih sayang Fla, tidak?” tanya Fla yang agak ragu.
“Saya selalu sayang sama kamu,” jawab Morgan yang membuat hati Fla sangat teduh mendengarnya.
Setiap perkataan Morgan, bisa membuat Fla sangat teduh, tetapi juga bisa membuat Fla sangat terpuruk. Entah kenapa, semua ucapannya selalu berimbas pada kesehatan mental Fla.
Mungkin, karena Morgan adalah tempat berlabuh hati Fla satu-satunya. Ia tidak memiliki tempat lagi selain kepada Morgan.
“Terus, Abang masih mau tetap menikahi Ara?” tanya Fla lagi, kali ini Morgan bergeming, tak bisa menjawabnya.
Fla mendonggak memandang sendu ke arah Morgan. Ia mengerti apa yang Morgan pikirkan, tetapi ia tidak ingin menanyakannya.
Fla kembali menunduk, menghela napasnya, kemudian memejamkan matanya kembali.
“Sudahlah, Fla gak mau bahas itu sekarang,” gumam Fla, yang menyadari situasinya akan menjadi sangat buruk, jika mereka membahas masalah ini saat ini juga.
Hal ini membuat situasi mereka agak canggung. Fla merasakannya, dan tidak berani memandang ke arah Morgan lagi.
Karena merasakan kesedihan Fla, Morgan pun memandangnya dengan dalam, tangannya mengelus lembut wajah Fla. Fla pun memandang ke arah Morgan dengan nanar.
“Maaf,” gumam Morgan, yang hanya mengucapkan satu kata, tetapi bisa membuat hati Fla hancur sehancur-hancurnya.
Morgan mendesah sendu, rasanya ia ingin sekali berteriak saat ini juga. Namun, ia tidak ingin orang lain memperhatikannya.
Dikecupnya dengan lembut kening, turun ke kedua pipi Fla, kemudian berakhir pada bibir Fla. Sejenak mereka menghilangkan perasaan sedih yang mereka alami, dan fokus kepada bulan madu mereka lebih dulu.
Tidak ada perasaan ragu melakukan hal ini di ruang terbuka ini. Fla mengerti, hal ini sudah biasa dilakukan di sini. Negara ini bukan seperti di negara tempat ia tinggal, yang melakukan hal ini di depan umum dianggap tabu.
Perasaan cinta kembali mengalir, semua beban yang Fla pikirkan sejenak menghilang dari pikirannya. Kini, matanya hanya fokus memandang ke arah lelaki yang ada di hadapannya saja.
‘Semoga kita terus bersama,’ batin Fla, yang memang tidak ingin Morgan pergi dari hidupnya.
Mereka saling memandang, membuat Fla merasa sangat bingung harus melakukan apa.
“Kita kembali ke hotel, ya?” ajak Morgan, Fla mengangguk kecil mendengarnya.
Mereka pun sama-sama kembali ke hotel, untuk segera beristirahat di sana.
__ADS_1
***
Hari ini adalah hari terakhir mereka berada di kota, yang menyandang julukan ‘kota cinta.’
Mereka menyempatkan untuk pergi ke daerah Montmatre, untuk melihat tembok cinta.
Tembok yang berdiri di taman Abbesses di Montmartre, dengan luas 40 m2 yang di sana tertulis ribuan kalimat ‘Aku cinta padamu’ dalam 300 bahasa yang berbeda.
Rasa penasaran Fla akan tembok ini, membuatnya ingin sekali mengunjunginya. Itu karena di beberapa kesempatan mereka tidak bisa mengunjungi tempat tersebut, karena harus segera melakukan penerbangan kembali ke tanah air.
Fla melangkah, menggandeng tangan Morgan dengan mesranya. Mereka melangkah menghampiri tembok yang diciptakan oleh dua seniman bernama Frederic Baron dan juga Claire Kito.
Suasana di pagi ini tidak terlalu ramai, karena hari ini masih merupakan hari kerja.
Fla berlarian ke arah kursi taman, yang tepat berada di hadapan tembok itu. Morgan tersenyum simpul, melihat Fla yang berlarian seperti seorang anak kecil.
Senyumnya terukir, ia memandang Morgan dengan lembut, “Sini duduk,” ajak Fla, sembari menepuk-nepuk kursi taman, meminta agar Morgan duduk di sebelahnya.
Di hadapan mereka kini, terlihat tembok cinta dengan background hitam, dengan warna tulisan putih dan sedikit merah sebagai sedikit hiasan.
Tulisan tersebut memiliki makna mendalam bagi Fla, karena walaupun ditulis dengan 300 bahasa yang berbeda, tetapi memiliki satu makna yang sama.
“Aku cinta padamu,” gumam Fla yang sedang memandang ke arah tembok yang ada di hadapannya.
Morgan menoleh, memandang ke arahnya, kemudian tersenyum hangat mendengarnya.
“Aku juga,” sahut Morgan, membuat Fla memandangnya bingung, kemudian tertawa bersama.
Mereka mengambil foto selfie bersama, untuk mengabadikan momen kebersamaan ini. Bukan hanya di sini, di beberapa tempat yang sudah mereka kunjungi pun, mereka akan melakukan foto selfie sebagai sebuah kenangan untuk mereka.
Mereka menikmati beberapa saat, sembari memandang ke arah tembok tersebut. Tangan mereka tetap menggenggam erat, walaupun mereka sedang dalam keadaan duduk bersampingan.
Tangan Morgan seakan terkena lem, ia sama sekali tidak ingin melepaskan tangannya dari Fla.
Mereka sama-sama mendekatkan wajah mereka, kemudian menikmati ciuman satu sama lain.
Fla sangat menikmati kebersamaan ini.
__ADS_1
***