
Morgan pulang ke rumahnya, karena ia merasa sangat sedih dengan kejadian yang pastinya sangat menghancurkan hati Fla itu. Ara tiba-tiba saja datang ke rumah mereka, membuat perkara yang sama sekali tidak direncanakan olehnya.
Hal itu pastinya sangat membuat hati Fla hancur berkeping-keping.
Perlahan, Morgan membuka pintu kamarnya, dan mendapati Fla yang sudah tidur membelakanginya.
Morgan menghela napasnya dengan panjang, “Seperti biasa,” gumamnya lirih, yang sudah terbiasa melihat posisi tidur istrinya yang membelakanginya seperti itu.
Morgan membuka jaketnya, sampai terlihat lekukan dadanya yang bidang, karena ia hanya mengenakan kaos polos yang ketat mengikuti lekuk tubuhnya.
Karena sudah terlalu lelah, Morgan meletakkan secara asal jaketnya lalu segera melangkah menuju ke arah kamar mandinya. Ia membasuh wajahnya, karena merasa wajahnya yang terlalu tegang akibat permasalahan ini.
SRAK!
Morgan membasuh wajahnya dengan air mengalir dari keran wastafel, kemudian segera membersihkan air yang masih mengalir di wajahnya.
Sejenak ia memandang ke arah wajahnya dari cermin, yang saat ini sudah terlihat lebih lentur dari sebelumnya. Ia menghela napasnya, karena merasa sesak akibat menahan napas beberapa saat sampai selesai membasuh wajahnya.
__ADS_1
“Ada apa ini? Saya bahkan gak bisa bernapas dengan lega,” gumamnya, yang semakin tidak tenang saja menghadapi sikap Ara yang terlalu berani.
Sejenak ia tumpahkan perasaan resah gelisahnya, hingga perasaan itu sedikit hilang dari hatinya. Ia tidak bisa menghilangkan semua perasaan itu, tetapi setidaknya ia bisa mengikisnya jika ia menyendiri dan memikirkannya sendiri.
Ketika sudah selesai melakukan apa yang harusnya ia lakukan, Morgan pun melangkah keluar kamar mandi ini. Ia naik ke atas ranjang yang sama dengan ranjang tidur Fla.
Dadanya terasa semakin sesak, ketika ia sudah berhasil membaringkan tubuhnya di atas ranjang tersebut.
‘Percuma satu ranjang, kalau kita masing-masing seperti ini terus,’ batin Morgan, yang merasa lelah dengan sikap dan perlakuan Fla padanya itu.
Tidak akan ada asap, kalau tidak ada api.
Morgan telah bermain api di dalam pernikahan mereka, yang sudah terbina selama lima tahun lamanya.
Karena sudah tidak mengisi perutnya seharian ini, Morgan merasa perutnya sangat sakit. Ia memegangi perutnya, sampai memejamkan matanya karena tidak kuat menahan rasa sakit ini.
“Aww ... perutku,” rintih Morgan dengan lirih, yang ternyata didengar oleh Fla.
__ADS_1
Fla belum tertidur dengan pulas, sehingga ia bisa mendengar rintihan Morgan yang sedang merasakan sakit pada perutnya itu.
Memang, awalnya Morgan tidak sengaja untuk melakukannya. Namun, karena mengingat Fla yang sepertinya belum tertidur pulas seperti biasanya, ia sengaja merintih terus-menerus agar Fla mendengarnya dan sedikit memperhatikannya.
‘Saya tau, kamu belum tidur,’ batin Morgan, yang meneruskan rintihannya itu.
Karena sudah terlalu lelah, Morgan menghentikan rintihannya dan berusaha untuk memejamkan matanya karena sudah terlalu lelah.
Di pagi harinya, Morgan terbangun karena mendengar suara alarm handphone, yang ia pasang sendiri di handphone-nya.
Morgan menoleh ke arah sebelahnya, dan tidak menemukan Fla di sana. Ia lalu duduk di pinggir ranjang, lalu mengambil handphone-nya dan mematikan alarm tersebut.
BIP!
Alarm sudah ia matikan, saatnya Morgan bersiap untuk membilas tubuhnya yang sudah lengket karena keringat.
Seperti biasa, Fla sudah lebih dulu pergi bekerja daripada Morgan, menjadikan Morgan terbiasa untuk bangun sendiri dan hanya mengandalkan alarm di handphone-nya saja.
__ADS_1