Izinkan Aku Selingkuh

Izinkan Aku Selingkuh
Kembali


__ADS_3

Setelah menikmati perjalanan mereka di Paris, mereka pun akhirnya kembali ke negara asal mereka.


Sampai di sana sudah pukul 11.00 waktu setempat, pada siang hari Sabtu ini. Mereka masih memiliki waktu satu hari, untuk sama-sama melakukan hal yang mereka ingikan.


Tangan Fla tetap menggandeng mesra tangan Morgan, dengan tangan yang satunya yang masih memegangi koper yang ia seret sepanjang jalan. Ia tidak ingin melepaskan Morgan, karena ia merasa tidak kuasa untuk berjauhan dengan Morgan.


“Kamu mau makan siang dulu, tidak?” tanya Morgan dengan lembut, Fla mengangguk sembari tersenyum simpul mendengarnya.


“Ya sudah, kita mampir sebentar buat makan,” ujar Morgan, Fla tak bersuara dan hanya bisa mengangguk kecil mendengarnya.


Mereka pun keluar dari dalam bandara, dan segera menuju ke arah mobil taxi yang sudah menunggu mereka di depan pintu masuk.


Mereka segera meluncur ke arah rumah mereka, dengan Fla yang tertidur pulas di dalam pelukan Morgan.


‘Yah ... gak jadi makan siang, deh!’ batin Morgan, yang tidak tega membangunkan Fla.


Dari arah depan, sang sopir tersenyum memandang ke arah Morgan dan juga Fla.


“Romantis sekali, Tuan. Kalian baru menikah, ya?” tanya sang sopir, membuat Morgan tertawa kecil mendengarnya.


“Kami sudah menikah 5 tahun lalu, Pak.” Morgan mengatakan apa adanya, tentang mereka.


Sang sopir kaget, “Wah, sudah lama juga ya, Tuan! Walaupun sudah lama, tetapi masih kelihatan mesra saja,” ujarnya sedikit menggoda Morgan.


“Ya, mungkin karena belum punya anak, jadi kelihatannya mesra terus,” sahut Morgan, sang sopir sedikit banyaknya merasa prihatin kepada Morgan.


“Oh, saya turut prihatin, Tuan. Semoga nanti cepat diberi momongan,” ujarnya, membuat Morgan tersenyum mendengarnya.


Setelah melakukan perjalanan selama hampir 2 jam, mereka pun sampai di kediaman mereka. Morgan tidak jadi mengajak Fla makan, karena ia tidak tega membangunkan Fla yang sudah sangat nyenyak tertidur.


Mobil berhenti, tepat di depan halaman rumah Morgan.


“Sudah sampai, Tuan.”


Morgan mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu memberikannya ke arah sang sopir.

__ADS_1


“Ini, Pak. Kembaliannya ambil aja,” ujar Morgan, membuat sang sopir yang mendengarnya menjadi sangat sumringah.


“Terima kasih, Tuan!” ujarnya dengan sangat bersemangat, membuat Morgan menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.


Morgan pun menggendong Fla di depan, dengan sang sopir yang membantunya untuk mengangkat dua koper besar yang mereka bawa.


Langkah Morgan terhenti, karena ternyata di depan pintu rumahnya, sudah ada Ara yang menunggunya.


Senyumannya seketika luntur, wajahnya sinis memandang ke arah Ara.


“Mau ditaruh di mana, Tuan?” tanya sang sopir, perhatian Morgan sedikit teralihkan.


“Di sini aja, gak apa-apa, Pak.”


“Baik, Tuan.” Sang sopir meletakkan koper itu di dekat pintu masuk rumah ini.


“Terima kasih ya, Pak,” ujar Morgan dengan ramah.


“Baik, terima kasih kembali. Saya permisi dulu, Tuan.”


Ara mendelik kesal, sampai rasanya bola matanya hampir keluar seluruhnya. Morgan tak mengerti, apa maksud pandangan Ara yang seperti itu padanya.


“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Morgan dingin, berusaha untuk acuh kepada Ara.


Ara kesal, “Kamu kenapa gak nyalahin handphone selama di sana, hah? Aku udah nunggu kamu, tapi kamu sama sekali gak hubungin aku. Sekarang, pulang-pulang kamu gendong dia di hadapan aku!” bentaknya, Morgan mendelik kesal mendengar ucapan Ara yang kasar seperti itu di hadapannya.


“Ra, saya lelah. Saya ingin istirahat. Gak bisa ya, kamu bahas ini nanti lagi?” ungkap Morgan, yang berusaha untuk membuat Ara mengerti dengan keadaan mereka.


Mendengar suara berisik, Fla pun tersadar dari tidurnya. Namun, ia tidak lantas bangun dan membuka matanya. Ia hanya bisa mendengarkan mereka berbincang saja, sembari menyimak keadaan.


“Gak bisa! Enak aja kalian bulan madu, senang-senang di sana, sementara aku di sini gelisah nungguin kabar dari kamu!” bentak Ara, Morgan semakin bingung saja harus mengatakannya pada Ara.


Untuk pertama kalinya, Morgan memberanikan diri untuk membuat Ara sadar dengan posisinya.


“Ra, kita gak ada hubungan apa-apa. Saya masih suami sah Fla, dan kamu gak berhak ikut campur apa pun dengan hubungan kami. Kamu gak berhak 24 jam tau saya ke mana, kamu gak berhak masuk ke dalam rumah saya tanpa izin. Kamu juga gak berhak ngusik dan kasar dengan istri saya!” ujar Morgan, berusaha untuk membuat Ara mengerti dengan posisi mereka saat ini.

__ADS_1


Ungkapan Morgan sedikitnya telah membuat Ara kaget. Ia tidak bisa menerimanya, meskipun semua yang Morgan katakan adalah benar kenyataannya.


Ara tidak siap menerima kenyataan, kalau dirinya hanyalah seorang pengganggu dari rumah tangga kakaknya saja.


“Apa kamu bilang, Gan? Aku gak berhak? Aku ini calon istri kamu! Aku berhak kontrol kamu di mana, sama siapa, berbuat apa, aku pengen tau semuanya tentang kamu!” bentak Ara, Morgan semakin memandangnya dengan tatapan nanar.


“Kamu gak bisa perlakukan saya seperti boneka, Ra! Saya gak akan terima, karena saya juga punya tanggung jawab dan rumah tangga sendiri!” bentak Morgan, dengan amarah yang kian lama kian memuncak.


Ara baru pertama kali melihat Morgan marah seperti ini di hadapannya. Biasanya, ia tidak pernah marah, meskipun Ara selalu berkata kasar dan membentak dirinya.


Dengan rasa tak percaya, Ara memandangnya dengan dalam, “Kamu bentak aku, Gan?” tanyanya, Morgan menghela napasnya dengan panjang, merasa sangat kesal dengan keadaan yang memojokkan dirinya itu.


“Sudahlah Ra, saya capek. Saya baru pulang dan baru aja sampai rumah. Jangan ganggu saya sekarang,” ujarnya memberi peringatan pada Ara.


Morgan membuka pintu rumahnya, lalu memasukkan koper dengan tetap menggendong Fla di dalam pelukannya. Ara tak percaya, karena Morgan akan mengatakan hal itu padanya.


Kali ini, Ara benar-benar sudah tidak bisa mengontrol Morgan lagi.


“Gak bisa gitu dong, Gan—”


Pintu ditutup cukup keras, membuat Ara terhenti dan hanya bisa melampiaskan kekesalannya pada pintu tersebut.


“Morgan!” pekik Ara, sembari memukul-mukul pintu rumah kediaman Morgan.


Semua itu sia-sia belaka, Morgan sama sekali tidak membukakannya pintu. Ia mengunci pintu dan langsung menuju ke arah kamar mereka.


Perlahan, Morgan meletakkan tubuh Fla dengan sangat hati-hati, agar dirinya tidak bangun dan tidak mengganggu tidurnya. Namun, itu sama sekali tidak berpengaruh, karena Fla yang memang sudah bangun sejak mereka adu mulut di depan rumah.


Mata Fla terbuka, Morgan agak terkejut melihatnya. Pandangan mereka sejenak saling menatap, membuat Morgan agak canggung dengan keadaan ini.


“Kamu gak tidur?” tanya Morgan, Fla menggelengkan kepalanya.


“Tadi kebangun karena suara teriakan seseorang,” ungkap Fla, Morgan menghela napasnya dengan panjang.


“Saya gak tau kalau Ara ada di sini,” gumam Morgan dengan sedikit nada sendu, Fla hanya bisa tersenyum mendengarnya.

__ADS_1



__ADS_2