
Morgan baru saja memasuki ruang pemeriksaan, dengan Dicky yang menunggu di depan ruangan kamar Morgan.
Salah seorang perawat di sana hendak keluar dari ruangan Morgan, dengan cepat Dicky menahannya sehingga ia tidak bisa pergi ke mana pun.
“Permisi, suster,” sapa Dicky, sang suster memandang bingung ke arah Dicky.
“Iya, ada apa ya, Pak?” tanyanya.
“Apa ... di sini ada perawat yang bernama Flareon?” tanya Dicky, perawat itu memandang heran ke arah Dicky.
“Memangnya, ada apa ya, Pak?” tanya balik suster itu, berusaha untuk tidak membocorkan informasi apa pun kepada Dicky.
Dicky menghela napasnya dengan panjang, “Kalau bisa ... tolong minta Fla untuk memeriksa pasien yang ada di dalam ruangan ini. Karena pasien tersebut adalah suami dari Fla. Mereka sepertinya sedang ada konflik keluarga, jadi saat ini hubungan mereka renggang. Jadi, tolong biarkan Fla yang memeriksanya, biar masalah mereka agak sedikit terlupakan,” ujar Dicky, yang berbicara terus terang kepada sang perawat.
Mendengar penjelasan dari Dicky, sang suster pun mengangguk kecil mendengarnya.
“Oh baik, Pak. Kalau itu permasalahannya, saya akan usahakan bilang pada Fla,” ucapnya mengiyakan permintaan Dicky.
Dicky tersenyum, “Jangan bilang kalau pasien ini adalah suaminya, ya. Terima kasih, suster ....”
__ADS_1
Dicky berusaha membaca tag nama yang ada di dada perawat tersebut.
“Sakila, nama saya sakila,” ujar perawat itu, membuat Dicky tersenyum mendengarnya.
“Oh, terima kasih suster Sakila yang cantik,” goda Dicky, yang masih saja memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan ini.
Sakila –teman dari Fla– hanya bisa tersenyum sembari menunduk malu, karena mendengar Dicky mengucapkan hal seperti itu padanya.
“Baik, saya permisi dulu.”
Sakila pun pergi ke arah tempat Fla bekerja, untuk memberitahu tentang keadaan suaminya padanya.
Karena dirinya yang bisa melakukan semuanya, Fla jadi merangkap menjadi apoteker, untuk meracik obat yang akan ia berikan kepada para pasien.
Sakila memandangnya sembari menghela napasnya dengan panjang, ‘Pantesan aja dia minta bareng sama gue terus, saat berangkat kerja. Ternyata, dia lagi ada konflik masalah sama suaminya,’ batinnya, yang merasa sangat kasihan dengan temannya itu.
Perlahan, Sakila menghampiri Fla, dan berdiri di hadapannya.
“Fla ...,” sapa Sakila, Fla memandang ke arahnya.
__ADS_1
“Ada apa, La?” tanya Fla.
Sakila memandang dalam ke arah Fla, “Tolong periksa pasien di ruang pemeriksaan. Dokter Dhanu sedang sibuk memeriksa pasien yang lain,” ujarnya, membuat Fla memandangnya dengan bingung.
“Kenapa harus aku, La? Aku lagi racik obat untuk pasien,” tanya Fla, yang secara tidak langsung menolak permintaan Sakila.
Sakila menarik Fla ke arah pintu keluar ruangan, “Ayo ... sudah gak ada waktu lagi. Tolong, pasien sedang sakit perut parah!” paksanya, membuat Fla khawatir dengan pekerjaannya di sini.
“Ini bagaimana?” tanya Fla.
“Biar aku yang kerjakan,” jawab Sakila, membuat Fla agak tenang mendengarnya.
Dengan sangat terpaksa, Fla melangkah ke arah ruangan pemeriksaan, yang ditunjukkan oleh Sakila.
Sakila memandang kepergian Fla, dengan napas yang ia hela.
“Semoga, setelah ini ... permasalahan kalian cepat selesai,” gumam Sakila, yang berharap agar permasalahan yang mereka jalani, dapat segera selesai dengan baik.
Fla melangkah menuju ke arah ruangan tersebut, dengan membawa stetoskop yang sudah ia ambil di lokernya.
__ADS_1
Stetoskop ini sangat berguna, untuk melakukan pemeriksaan awal untuk gejala yang dialami pasien.