
Ketika fokusnya kembali kepada Fla, Morgan mendapati handphone-nya kembali berdering, membuatnya gusar dan kesal.
‘Siapa yang malam-malam seperti ini menelepon?’ batin Morgan, yang masih berbaik sangka, kalau yang menghubunginya bukanlah Ara.
Namun dugaannya meleset, ternyata benar, memang Ara yang menghubunginya sejak tadi.
Morgan menghela napasnya kasar, bingung harus mengatakan apa jika Ara bertanya yang macam-macam tentang keberadaan dirinya.
Dengan sangat berani, Morgan mengangkat telepon dari Ara tersebut.
“Halo?” sapa Morgan dingin.
“Kamu di mana, sih? Aku dari tadi di luar rumah kamu, kenapa gak ada yang bukain pintu?” pekik Ara kesal, membuat Morgan bingung mendengarnya.
Di depan rumahnya, semalam ini?
Ah, Morgan hanya salah mengira. Perbedaan waktu kedua negara ini, sekitar 6 jam. Jika di sini sudah pukul 00:05 maka di sana sudah pukul 06:05 pagi.
“Ah, saya ... sedang gak di rumah. Fla mungkin juga sudah ke rumah sakit,” ujar Morgan, tentu saja dengan kebohongan.
Ara memandang ke arah hadapannya dengan sinis, “Mana mungkin? Tadi aku baru ke rumah sakit, dan ternyata Fla ambil cuti buat jagain kamu!” bentaknya, yang ternyata tidak bisa dibohongi sama sekali.
Morgan menghela napasnya dengan panjang, “Saya sama Fla ... lagi di Paris. Jangan hubungi saya dulu, karena saya ingin menikmati bulan madu ini dengan sebaik-baiknya,” ujar Morgan, sontak membuat hati Ara bergetar mendengarnya.
“A-apa? Bulan madu?” gumam Ara kaget, bingung harus mengatakan apa lagi.
Morgan mengakhiri telepon mereka, dan segera menonaktifkan handphone-nya, demi kenyamanan dirinya dan juga Fla.
Sudut bibir Fla menyungging, ia mendengar semua yang Morgan katakan pada Ara.
Morgan menghela napasnya, meletakkan baik-baik handphone-nya di meja sebelah ranjang, kemudian memandang ke arah Fla kembali.
Morgan mendapati Fla yang sedang tersenyum, membuatnya merasa sangat senang melihatnya.
“Kamu belum tidur, bukan?” tanya Morgan, Fla membuka sedikit matanya.
“Sudah, tapi saat Abang berbicara dengan dia, aku jadi terbangun,” jawab Fla apa adanya, tanpa ada yang ia tutupi dari Morgan.
Morgan kembali tersenyum, “Sini, biar saya tunjukkan sesuatu,” ajaknya sembari menarik tangan Fla dengan lembut.
Merasa penasaran dengan yang Morgan maksudkan, Fla segera melangkah menuju ke arah jendela. Tentu saja bersama dengan Morgan, yang menariknya lebih dulu ke arah hadapannya.
__ADS_1
Disibakkan tirai silver yang berada di hadapannya. Dua pasang mata itu membulat berbinar, melihat pemandangan kota Paris di malam hari yang sangat indah dari jendela kamar hotel mereka.
Di sana, mereka bisa melihat menara eiffel, yang benar-benar sangat dekat dari tempat mereka menginap.
Lampu-lampu tersebut, membuat menara tersebut tetap terlihat cantik, sekalipun pada malam hari.
Morgan menoleh ke arah Fla, yang masih saja terpukau karena melihat menara eiffel yang sangat besar, ada di hadapannya.
“Suka pemandangan kota Paris di malam hari?” tanya Morgan, Fla menganggukkan kecil kepalanya.
“Besok kita akan keliling ke tempat wisata. Tentu saja ... setelah puas bermanja-manja bersama,” ujar Morgan, yang sejauh ini masih saja membuat jantung Fla berdebar dengan sangat kencang.
Fla mengangguk, tersenyum mendengar ucapan Morgan yang sangat romantis. Perasaan yang telah sirna, kembali dengan semburatnya. Fla menemukan kembali kebahagian itu bersama dengan Morgan.
***
Tidak ada malam yang mendebarkan kali ini. Mereka sangat kelelahan, dan hanya bisa beristirahat sampai pukul 12:00 siang waktu setempat. Sarapan pun mereka lewati, padahal sejak tadi, banyak sekali pelayan yang berdatangan memencet bel kamar mereka.
Saking lelahnya, Morgan dan Fla sampai tidak menyadari siapa pun yang bertamu ke ruangan kamar mereka.
Mereka sama-sama terbangun, dengan wajah yang sangat berseri-seri. Mereka akhirnya bisa berlibur santai seperti ini, setelah sekian lama tertekan pada permasalahan yang berkutat pada satu topik pembahasan saja.
Morgan terbangun lebih dulu, berusaha untuk membangunkan Fla untuk memenuhi semua hasratnya yang muncul, ketika bangun di siang hari ini.
Perlahan Fla membuka matanya, dengan Morgan yang sudah berhasil melucuti semua pakaian tidurnya.
Fla pasrah.
Malam hari tadi mereka tidak melakukan apa pun, sehingga membuat Morgan merasa bergejolak. Ditambah lagi dengan rasa lelah karena penerbangan kemarin, membuat Morgan bertambah dengan gairah yang ia miliki.
Fla melayaninya, Morgan tak menahan diri dan lantas melakukan semua hal terbaik yang ia bisa.
Betapa rasa cintanya kembali terpupuk, oleh Fla yang sudah beberapa kali membuatnya jatuh cinta. Fla mampu menyihir Morgan, sehingga dapat membuat Morgan jatuh cinta lagi dan lagi kepadanya.
Sementara di sana Ara merasa sangat gusar. Ia tidak bisa membayangkan, bagaimana Morgan dan Fla melakukan bulan madu mereka. Ia sungguh-sungguh tidak rela, padahal ia sendiri tahu kalau Fla masih memiliki penuh haknya atas Morgan.
Hatinya mengerut, Ara menggerutu setiap kali teringat dengan bayangan Morgan dan Fla yang mungkin saja saat ini saling bercumbu mesra.
Ara menumpahkan semuanya pada benda-benda di sekelilingnya, tetapi itu sama sekali tidak ada gunanya.
Morgan masih tetap ada bersama dengan Fla, dan semua kemarahannya itu tidak akan pernah mengubahnya.
__ADS_1
Siang yang panas sudah mereka lalui. Beberapa jam berlalu, hingga akhirnya mereka pun menyelesaikan pertarungan sengit mereka.
Kali ini Morganlah yang menang. Entah sudah berapa ribu kali mereka melakukannya dalam 5 tahun ini, Morgan kembali menjadi pemenangnya, setelah kemenangan pertamanya saat awal pertama kali mereka melakukannya.
Mungkin karena terlalu lelah, Fla tidak bisa menahan dirinya lagi. Morgan juga tidak bisa memaksakan keadaan Fla, dan akhirnya menyelesaikan permainan yang cukup menegangkan ini.
Perasaan bahagia meliputi keduanya, mereka sampai melupakan permasalahan yang ada pada mereka.
“Sudah selesai,” gumam Morgan, dengan napasnya yang masih memburu akibat terlalu lelah.
Fla tersenyum pipih, “Ya. Terima kasih sudah memberikan yang terbaik,” ujar Fla, tangannya mengusap lembut wajah Morgan, yang kini sudah terasa bulu-bulu halus di sekitar bibir dan dagunya.
“Saya akan melakukan yang terbaik kali ini, agar kita bisa secepatnya mendapatkan keturunan,” ujarnya, Fla mengangguk kecil sembari tetap membelai lembut wajah Morgan.
Berkat beberapa waktu terakhir merawat Morgan, kini kondisi Morgan sudah menjadi lebih fit dan penuh semangat yang membara. Hal itu dirasakan Morgan, dari segala aspek dalam hidupnya, yang sangat membuatnya senang, dan lebih bergairah setelahnya.
Fla jauh lebih baik dibandingkan Ara.
Sekelibat bayangan Ara muncul di benak Morgan, membuat mood-nya agak terganggu. Namun, kehangatan kasih sayang dan belaian Fla, mampu membuat kesadarannya kembali, dan akhirnya tersenyum di hadapan Fla.
“Ayo, saya akan mengajak kamu berkeliling Paris,” ajak Morgan.
Fla tersenyum, “Kita mau ke mana dulu?” tanyanya penasaran.
“Entahlah, lebih baik sekarang kita bersiap untuk makan siang. Saya sudah lapar,” ujar Morgan, Fla mengangguk senang mendengarnya.
Mereka pun melangkah menuju ke arah kamar mandi. Mereka mandi bersama, saking rindunya mereka satu sama lain.
Morgan masuk ke dalam bath tub, dengan Fla yang diminta untuk masuk bersamanya. Mereka berendam bersama, dengan tangan Morgan yang sesekali melakukan hal nakal pada Fla.
“Katanya mau makan siang?” tanya Fla, sembari menahan tangan Morgan, agar tidak kembali melakukan hal yang akan membuat mereka terlambat makan kembali.
Morgan menyeringai malu, “Pesonamu membuat saya lupa segalanya,” gumamnya, kali ini sukses membuat Fla menjadi malu.
Fla menyambar bibir Morgan, berusaha menumpahkan semua perasaan yang ia rasakan saat ini.
Setelahnya, mereka bersiap untuk makan siang bersama. Mereka mengambil makanan prasmanan, dan segera memilih tempat duduk mereka.
Nikmatnya kudapan di hotel ini, membuat kebahagiaan mereka semakin bertambah. Kebahagiaan ini yang mereka harapkan, bisa membuahkan hasil yang maksimal, untuk mencapai tujuan mereka memiliki buah cinta bersama.
Mereka sudah lama mengindamkan menimang buah cinta mereka. Bahkan, mereka sudah banyak mempersiapkan nama untuk calon anak-anak mereka kelak.
__ADS_1
Morgan memandang Fla dengan tatapan penuh kebahagiaan, “Bagaimana sarapannya?” tanyanya meledek Fla.
Bibirnya mengerucut, “Ini bukan sarapan! Entah makan siang atau makan sore, intinya ini bukan sarapan,” gerutu Fla, sukses membuat Morgan tertawa renyah.