
“Kenapa sih, Gan? Kenapa aku gak boleh deket-deket kamu? Kamu gak suka lagi sama aku, Gan?” tanya sinis Ara, sontak membuat Morgan kesal mendengarnya.
Matanya mendelik, karena ia merasa sangat kesal dengan sikap Ara yang sangat kekanak-kanakkan.
Tangannya yang tertahan Ara, ia tepiskan, sehingga membuat Ara merasa sangat tidak terima dengan hal itu.
“Please, Ra. Jangan kekanak-kanakkan gini!” bentak Morgan, yang masih tertahan karena ia masih memikirkan keadaan sekitarnya.
Pandangannya saja sampai terus melirik ke segala arah, karena ia tidak mau terlihat oleh dosen lain. Ia bisa dicap sebagai dosen yang tidak berpendidikan dan berakhlak, kalau di kampus saja ia masih bisa melakukan hal-hal mesra seperti ini.
Mereka pasti akan memanfaatkan kesempatan ini untuk merendahkan Morgan, serendah-rendahnya.
“Aku? Kekanak-kanakkan? Jangan bilang gitu, Gan! Kamu yang kekanakkan, karena gak bales chat aku! Kamu gak pernah ngabarin aku, kamu gak pernah mau aku deketin. Terus kita ini apa, Gan?” tanyanya panjang lebar, semakin membuat Morgan kesal dengannya.
‘Si Ara ini ... dia sama sekali gak ngerti situasi di kampus!’ batin Morgan, yang lalu segera meninggalkan Ara di sana, tanpa sepatah kata pun.
__ADS_1
Melihat kepergian Morgan, Ara merasa sangat kaget. Ia tidak percaya, kalau Morgan sudah meninggalkannya sendirian di sana.
“Morgan! Morgan!!” pekik Ara, tetapi Morgan sama sekali tidak memedulikannya.
Karena kejadian ini, Morgan sampai kehilangan selera makannya. Ia merasa sangat kesal, karena lagi-lagi Ara membuatnya tidak bisa makan dengan benar.
‘Sudah Fla tidak memberikan obat, tidak memasakkan sarapan, Ara pula bikin saya gak makan dari kemarin! Mau membuat saya mati, kah?’ batin Morgan yang jengkel, sembari melangkah jenjang ke arah ruangannya.
Karena hendak mengawas ujian, paling tidak ia harus menekan dulu emosinya. Jangan sampai emosinya terbawa, ketika ia sudah berada di ruangan ujian.
Setelah berjalan menuju ke lantai lima, ia sampai di ruangannya dengan napas yang pendek. Satu lift di gedung itu sudah rusak dari dua hari lalu, sementara di sana tidak ada lift khusus yang hanya bisa digunakan para dosen.
Dengan sangat terpaksa, Morgan naik ke lantai lima dengan menggunakan tangga darurat, karena semua lift yang masih berfungsi, selalu penuh, membuatnya tidak bisa sampai ke lantai lima dengan cepat.
“Akhirnya sampai di sini,” gumamnya, sembari masuk ke dalam ruangan dosen tersebut.
__ADS_1
Di dalamnya, sudah banyak sekali dosen yang sibuk mengambil kertas ujian, yang akan dipakai untuk para mahasiswa dengan jurusan yang berbeda.
Tanpa basa-basi, Morgan segera merapikan berkas yang akan digunakan untuk mengawas, di ruangan yang sudah ditentukan kali ini. Ia tidak banyak berbicara, karena ia tidak memiliki tenaga lebih untuk sekadar berbicara dengan dosen yang ada di sana.
Efek dua hari belum makan, Morgan menjadi sangat lemas. Bahkan minum pun hanya sekali, di waktu ia bangun tidur saja.
Morgan memaksakan untuk mengawas pada ujian kali ini, karena ia sudah berjanji akan bekerja dengan baik di kampus ini.
Separuh waktu sudah berhasil Morgan selesaikan, hanya untuk mengawas ujian kali ini. Sebelum memulai pekerjaannya, ia juga sudah merasa lemas, karena tenaganya yang sudah habis terkuras.
Pandangannya mendadak buram, sekujur tubuhnya gemetaran, saking tidak ada makanan yang bisa ia olah menjadi tenaga.
Setelah itu, Morgan tidak tahu lagi apa yang terjadi dengannya.
***
__ADS_1