
Setelah pulang dari rumah rena, rangga pun langsung meluncur ke rumah orang tuanya disebuah komplek perumahan elit. Ketika tiba dirumah orang tuanya dia langsung masuk kedalam rumah kemudian menuju ruang keluarga yang disana sudah terlihat banyak orang sudah menunggunya.
"Assalamualaikum" ucap rangga memberi salam pada semua orang yang ada disana.
"Waalaikum salam" Jawaban serentak dari semua orang yang ada disana.
Rangga pun menyalami semuanya, tiba - tiba semua orang terperangah dengan penampilan rangga yang tidak seperti biasanya. Dia memakai baju koko putih dan sarung berwarna biru tua dengan peci hitam tertancap dikepalanya yang terlihat seperti pak Ustad habis ngajarin ngaji.
"Hellooo,,, kenapa kalian bengong kaya orang bego sih, emang ada yang aneh dengan penampilanku??" tanya rangga tak sadar dengan penampilannya.
Sontak semuanya tertawa terbahak - bahak.
"Huahahahaaaaaa" tawa menggelegar terdengar dari ruang keluarga.
Kemudian rangga duduk di sofa, sambil cemberut melihat semua anggota keluarga mentertawakannya.
"Udah puas sekarang tertawanya??" tanya rangga kesal dengan kelakuan keluarganya.
"Iya deh maaf kakak ku sayang, abis kami heran liat kakak berpakaian seperti ini enggak seperti biasanya, kakak terlihat seperti pak Ustad yang habis ngajarin ngaji Akila" ujar Rania adik rangga sambil tersenyum geli melihat rangga, tidak tahan ingin tertawa.
"Kamu ini sukanya ngeledek terus" jawab rangga sambil mengacak - acak rambut rania.
"Ngomong - ngomong mama ngapain sih nyuruh rangga pulang cepat enggak kaya biasanya deh??" tanya rangga pada mamanya sambil cemberut kesal sudah mengganggu momen bahagianya.
"Kamu itu datang bukannya minta maaf malah marah lagi sama mama, harusnya yang marah itu mama karena kamu tidak ingat ulang tahun mama" jawab mama rangga yang kesal pada anak sulungnya karena lupa ultah mamanya.
"Ah ya allah, rangga lupa kalo hari ini ultah mama.. maafin rangga ya ma,, sebagai hadiah mama mau minta apa aja rangga beliin deh" ujar rangga membujuk mamanya supaya tidak marah padanya sambil tersenyum memelas.
"Bener ya, apapun yang mama mau??" jawab mamanya rangga sambil tersenyum licik.
"Trus mama maunya apa??" tanya rangga sedikit takut dengan ekspresi mamanya karena dia suka minta yang aneh - aneh.
"Mama mau kamu bawa calon istri kamu diacara ulang tahun mama malam minggu nanti,, ok" jawab mama rangga sambil mengacungkan jempolnya.
"Ah mama, kenapa harus calon istri sih, pacar aja rangga tidak punya apalagi calon istri" rengek rangga yang bingung harus cari calon istri dimana sedangkan pacar aja tidak punya.
"Minta yang lain aja ya ma, mobil, tas, baju atau jalan - jalan keliling dunia rangga kasih deh ya, asal jangan calon istri" tawar rangga pada mamanya seperti lagi menawar di pasar.
"Enggak, pokoknya malam minggu nanti diacara ulang tahun mama kamu harus bawa calon mantu mama enggak pake tapi" jawab mama yang memang keras kepala kalau sudah pengen sesuatu harus, tidak boleh tidak seperti rangga.
"Ok, ok... tapi mama harus janji.. siapapun calon rangga nanti mau status dia apa, mama harus terima dia.. kalo tidak rangga enggak mau nikah sama siapapun" jawab rangga sambil menyilangkan tangannya didadanya.
"Ok, mama janji" jawab mama sambil berjabat tangan dengan rangga pertanda setuju dengan perjanjiannya.
"Ya sudah, sekarang kan sudah setuju, kalo gitu gimana kalo kita sekarang makan papa sudah lapar nih" ujar papa sambil mengelus perutnya.
__ADS_1
"Iya nih rania juga lapar tahu, kasihan debay dari tadi nendang - nendang minta makan" jawab rania sambil mengelus perut buncitnya.
"Kalian aja yang makan, rangga udah makan tadi" jawab rangga yang malas untuk makan karena dia dirumah rena sudah makan.
"Kamu makan dimana, tumben jam segini udah makan biasanya juga orang - orang udah tidur baru kamu makan" ledek mama pada rangga sambil melirik anak sulungnya.
"Dirumah temen ma" jawab rangga singkat
"Temen apa pacar" sahut rania sambil tertawa cekikikan.
"Temen..." jawab rangga sambil melotot ke rania.
"Idih biasa aja kali kak ngomongnya enggak usah pake urat kan bukan baso" jawab rania sambil menahan tawanya.
"Emang teman kamu itu cewek apa cowok??" tanya papa sambil mengunyah makanannya.
"Hemm.. cewek pa" jawab rangga malu - malu.
"Tuh kan... sikat aja kak tar ada yang ngambil duluan lo kalo dianggurin" sahut beny
suaminya rania adik ipar rangga.
"Ah lo ben main sikat aja, emang tuh cewek baju kotor minta disikat" jawab rangga sambil menoyor kepala beny.
"Aduh kak, benjol nih kepala suami rani main jitak aja" sahut rania sambil mengelus kepala suaminya beny.
"Tidak apa - apa ko sayang" jawab beny sudah terbiasa diperlakukan seperti itu oleh kakak iparnya.
Setelah selesai makan mereka pun berbincang - bincang hingga larut malam.
"Ran, kamu nginep aja disini kan udah malam kasihan bayi diperut kamu kalo pulang malam - malam" pinta mama pada rania.
"Iya ma, rania malam ini nginep aja disini, lagian rania udah ngantuk banget" ujar rania sambil berjalan menuju kamarnya.
"Kalo aku mau pulang aja ma, soalnya besok masuk kerja" sahut rangga kemudian berpamitan pada mama dan papanya.
"Ya sudah, hati - hati dijalan ya" ujar papa mengingatkan rangga.
"Ya pa ma, rangga pulang dulu" jawab rangga kemudian pergi dengan mengendarai mobilnya.
Keesokan harinya rena sudah masuk kerja seperti biasanya, tetapi tidak membawa motor kesayangannya. Dia naik taxi karena kakinya masih sedikit terasa sakit. Sesampainya dikantor, teman - teman kantornya menghampiri rena menanyakan keadaannya dan rena pun menjawab seperlunya.
Tiba - tiba rangga datang, yang membuat semua pegawai yang tadinya berkerumun di meja rena kemudian berhamburan ketika rangga datang.
"Yaelah... yang datengkan cuma bos rese, ampe segitunya banget pada kabur kaya liat setan aja" gumam rena dalam hati sambil menaikan alisnya.
__ADS_1
Tanpa rena sadari rangga sedang berada dihadapannya.
"Kamu sudah masuk kerja, apa sudah sembuh??" tanya rangga sambil menatap rena.
"Kalau saya belum sembuh, ngapain saya masuk kerja pak" jawab rena sinis.
"Oh,, syukurlah kalo kamu sudah sembuh" jawab rangga sambil berlalu menuju ruangannya.
Kemudian rena pun bekerja seperti biasanya.
Rena melihat daftar agenda kerja rangga yang begitu banyaknya karena 2 hari dia tidak masuk.
"ini banyak banget sih jadwal bos rese, baru saja 2 hari gue enggak kerja gimana kalo seminggu" gumam rena saking pusingnya melihat agenda bosnya yang berantakan ditinggal rena 2 hari karena sakit.
Rena pun menyusun agenda kerjanya rangga dan kemudian mengkonfirmasikan pada rangga agenda kerjanya hari ini.
"Permisi pak, apa saya boleh masuk??" tanya rena didepan pintu ruangan rangga.
"Masuk saja tidak apa - apa" jawab rangga sambil melihat notebook nya.
"Maaf pak saya mau memberitahukan agenda bapak hari ini" ujar rena sambil membacakan agenda kerja rangga hari itu.
"Baik, kalau begitu kamu boleh kembali ketempat kerja kamu dan hari ini kamu dikantor saja, biar hari yang menemani saya menemui klien hari ini" perintah rangga pada rena dan rena pun kembali ketempat kerjanya.
Seharian rena dikantor hanya berdiam diri duduk dikursi kerjanya sesekali menerima telpon dari relasi bosnya dan tidak terasa waktu pulang tiba. Kemudian rena pun bergegas pulang.
Di lobby kantor dia melihat sesosok pria yang dia kenal sedang menunggunya didepan mobil sambil memegang hp dan tidak lama terdengar suara pesan masuk di ponsel rena.
"Saya tunggu kamu di lobby, cepatlah keluar" isi pesan dari rangga untuk rena.
Kemudian rena menghampiri rangga.
"Ngapain bapak masih disini, kenapa belum pulang??" tanya rena sinis.
"Saya nungguin kamu" jawab rangga simple
"Ngapain bapak nungguin saya, saya bisa pulang sendiri ko" jawab rena dengan nada tinggi.
"Saya khawatir sama kamu, kaki kamu kan belum sembuh benar" jawab rangga beralasan padahal dia sengaja menunggu rena ingin mengantarkan pulang.
"Tapi tidak enak pak sama pegawai yang lain, nanti digosipin yang tidak - tidak lagi" ujar rena merasa tidak enak dengan pegawai yang lain.
"Udah biarin aja, ngapain mikirin mereka" jawab rangga sambil menarik tangan rena untuk masuk kemobilnya dan rena pun terpaksa masuk kemobilnya rangga.
Sesampainya dirumah rena, rangga langsung berpamitan pada rena karena sudah mau magrib.
__ADS_1
Akhirnya rangga pun pulang.