
Setelah dari klinik perusahaan yang berada di lantai dasar, rena kembali ke tempat kerjanya.
"Hari ini apes banget sih gue, ketemu mak lampir kaya dia. Cantik sih cantik tapi mulutnya pedes kalah cabe setan mah" gumam rena sambil menahan rasa sakit di tangannya.
"Ren, yuk ke kantin gue laper banget nih" ajak dara kepada rena sambil menarik tangannya yang sakit terkilir.
"Awww.... sakit" seru rena kesakitan tangannya ditarik dara.
"Eh... sorry, gue nariknya kekencengan ya?" tanya dara melepaskan tangan rena.
"Bukannya kekencengan, cuma tangan gue nya emang lagi sakit oneng" sahut rena sambil meringis menahan sakit.
"Sorry.. sorry... gue kagak tahu kalo tangan lo lagi sakit!!! emang kenapa tangan lo bisa sakit perasaan tadi pagi baik - baik aja deh gue liat??" tanya dara sambil memegang tangan rena yang sakit.
" Enggak... cuma gue tadi ke toilet jatuh kepeleset pas mau bangun tangan gue enggak kuat nahan beban berat badan gue jadinya terkilir deh tangan gue" jawab rena menyembunyikan dari dara.
Rangga mendengar percakapan rena dan dara yang membuat rangga merasa simpati pada rena, walaupun dia dibuly dia tetap saja baik tidak menceritakan pada orang lain.
"Ya sudah ayo kita ke kantin, gue udah laper banget nih" ajak dara pada rena sambil menggandeng tangan rena yang sebelahnya dan mereka pun pergi ke kantin.
Setelah istirahat rena dan dara kembali ketempat kerja mereka masing - masing.
Bily datang untuk membahas kerja sama dengan rangga masalah pembangunan kantor cabang baru perusahaan.
"Hallo nona cantik.... kita ketemu lagi " ujar bily pada rena yang sedang duduk fokus pada komputer dihadapannya.
"Eh... pak bily, silahkan masuk pak rangga sudah menunggu bapak di dalam" rena berdiri kemudian mengantar bily masuk keruangan rangga.
"Terima kasih cantik" ujar bily sambil tersenyum mesum.
Rangga yang sedang duduk di kursinya kemudian menghampiri bily dan duduk di sofa ruangannya.
"Hallo pak bily, silahkan duduk" rangga berjabat tangan dan kemudian mempersilakan bily duduk.
"Terima kasih pak rangga" ujar bily sambil tersenyum.
"Bagaimana proses pembangunan proyek cabang perusahaan kami yang ada di bekasi? apakah sudah hampir rampung??" tanya rangga tanpa basa basi.
"Oh.. itu sudah 70%, mungkin sebulan lagi sudah bisa ditempati" jawab bily sambil menyilangkan kakinya dan tangannya bertumpu pada salah satu ujung sofa.
"Apa ada kendala dalam pembangunan proyek ini??" tanya rangga
"Tidak ada semua lancar terkendali, jika anda ingin melihat kesana saya bisa menemani anda untuk melihat proyek disana" ajak bily
"Ok, berhubung hari ini saya tidak terlalu sibuk, saya ingin mengecek kesana" jawab rangga, kemudian keluar ruangannya bersama bily dan mengajak rena untuk pergi melihat proyek pembangunan kantor cabang barunya.
__ADS_1
"Rena, ayo ikut dengan saya melihat proyek pembangunan cabang kantor kita yang baru di bekasi" perintah rangga pada rena namun tiba - tiba ponsel rena berdering tanda panggilan masuk dari mamanya.
"Maaf pak, saya angkat telpon dulu" ujar rena langsung mengangkat telpon dari mamanya.
"Halo ma, ada apa tumben telpon??" tanya rena pada mamanya merasa aneh tidak biasanya beliau menelpon ketika dia kerja kecuali ada sesuatu yang sangat penting.
"Rena, sekarang kamu cepat kerumah sakit... bila keracunan makanan tadi disekolah, sekarang kondisinya sangat lemah, cepat kamu kesini" ujar mama rena sambil menangis khawatir pada cucunya.
"Ya ma, rena segera kesana, tolong kirim alamat rumah sakitnya" jawab rena kemudian mengambil tasnya untuk pergi.
"Maaf pak rangga, saya tidak bisa ikut dengan bapak saya ada urusan penting" ujar rena melangkah pergi sambil menangis khawatir dengan keadaan bila, namun rangga menarik tangannya.
"Sebenarnya ada apa, kenapa kamu buru - buru sekali??" tanya rangga menghentikan rena.
"Anak saya masuk rumah sakit, maaf saya harus pergi saya ijin pulang sekarang" rena melepaskan genggaman tangan rangga dan pergi.
"Maaf pak bily, saya sekarang tidak bisa ikut mengecek pembangunan proyek, lain kali saja... saya permisi dulu" ujar rangga meminta maaf kemudian pergi menyusul rena.
"Eh.. mereka main tinggal aja... tapi kenapa rangga sepertinya peduli banget sama asistennya ya? seperti ada sesuatu dengan mereka?? " gumam bily
"Rena tunggu... " ujar rangga menghentikan rena.
"Ada apa sih pak, saya buru - buru?" jawab rena
"Saya antar kamu kerumah sakit" ujar rangga
"Ini perintah, kamu tidak boleh membantah" perintah rangga pada rena yang menghentikan langkahnya terpaksa mengikuti kemauan rangga. Kemudian rena diantar rangga ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, rena langsung keluar mobil dan mencari mamanya yang ada di ruang UGD. Rangga mengikutinya dari belakang
"Ma, keadaan bila gimana? ko bisa kaya gini, emang bila habis makan apa disekolah??" tanya rena sambil menangis dan memegang tangan mamanya karena khawatir dengan bila.
"Kata temannya disekolah, bila habis jajan es krim yang dibeli diluar sekolahan dan tiba - tiba bila pingsan dan gurunya menelpon mama" jawab mama rena sambil menangis juga.
Dokter pun keluar dari UGD.
"Dok, gimana keadaan anak saya??" tanya rena sangat khawatir pada bila.
"Ibu tenang saja, dia baik - baik saja.... untung segera dibawa kesini kalau tidak bisa bahaya!! Sekarang pasien bisa dipindahkan keruang rawat dan harus dirawat beberapa hari agar kedaanya membaik... tolong urus pendaftarannya " ujar dokter
"Baik dok, terima kasih" ujar rena dan mamanya.
"Rena, mama ke pendaftaran dulu ya biar bila bisa dipindahkan ke ruang rawat" ujar mamanya.
"Iya ma" jawab rena diruang UGD menemani bila yang belum dapat ruang rawat
__ADS_1
Rangga kasihan melihat rena yang khawatir pada bila, dia pun menghampiri rena memegang pundaknya menenangkan rena supaya tidak khawatir lagi.
"Rena, tenang ya... bila pasti baik - baik aja" bujuk rangga agar rena tidak khawatir lagi.
"Tapi... bila kenapa belum sadar juga??" tanya rena
"Mungkin itu efek obat, sebentar lagi pasti bila sadar" rangga berusaha menenangkan rena.
"Pa... papaaa... " gumam bila dalam tidurnya dan kemudian dia sadar.
"Ma.... papa mana? bila pengen ketemu papa" pinta bila ingin bertemu papanya.
"Iya, sayang mama telpon dulu ya... bila tunggu disini dulu sama om rangga ya" ucap rena kemudian keluar untuk menelpon papanya bila.
"Halo mas aldy" ujar rena menelpon papanya bila.
"Iya ada apa? Mau ngapain kamu telpon aku?" tanya aldy
"Mas, bila dirawat dirumah sakit... dia keracunan makanan, bisa tidak mas kesini bila ingin ketemu sama mas" pinta rena pada aldy.
"Maaf, aku lagi sibuk kerja diluar kota tidak bisa kesitu" jawab aldy tidak peduli pada bila.
"Mas, aku mohon tolong datang sebentar saja bila pengen ketemu kamu" pinta rena memelas pada aldy, namun aldy tidak perduli.
"Aku udah bilang lagi sibuk, kamu dengar tidak??" ujar aldy kemudian menutup telponnya rena.
Rena menangis mendengar kata - kata aldy yang tidak perduli dengan anaknya bila dan rangga tidak sengaja mendengar percakapan rena dan aldy membuat rangga kesal pada aldy.
"Ehmm.... gimana apa papanya bila mau datang kesini??" tanya rangga
"Emm... dia bilang nanti kesini kalo urusannya sudah selesai" jawab rena berbohong.
"Ya sudah, ayo kita temani bila sampai papanya datang" ajak rengga pada rena kemudian masuk menemui bila.
"Ma.... papa mana, dia jadi kesini kan?" tanya bila
"Sayang, papa kamu lagi sibuk dia bilang nanti setelah selesai kerjanya dia bakalan kesini jenguk kamu" ujar rena
"Iya bila sayang, sambil nunggu papa kamu datang om mau kok jadi papa kamu sementara sampe papa kamu datang" sahut rangga sambil mengelus kepala bila.
"Emang om mau jadi papanya bila?? " tanya bila
"Iya om mau, asal bilanya cepet sembuh" ujar rangga tersenyum pada bila.
"Makasih ya om ganteng, mau jadi papa sementara bila" senyum bila pada rangga.
__ADS_1
"Ya udah bila istirahat ya, om temenin disini" jawab rangga
"Ko om sih, katanya mau jadi papanya bila, jangan bilang om tapi papa... ok" ucap bila kemudian tidur ditemani rangga dan rena.