Janda Cantik Kesayangan Presdir

Janda Cantik Kesayangan Presdir
Menghindar


__ADS_3

Sesampainya dirumah, rangga bergegas masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri setelah seharian beraktivitas. Setelah mandi dia solat magrib dan setelah solat dia berbaring diranjang tempat tidurnya sambil memikirkan dimana dia harus mencari wanita yang mau jadi calon istri bohongannya diacara ulang tahun mamanya nanti. Tiba - tiba terlintas dipikirannya wajah seseorang yang dia kenal. Wanita itu adalah rena, asisten sementaranya.


"Apakah dia mau, jadi calon istri bohongan gue ya??" tanya rangga pada dirinya, yang merasa ragu kalau rena mau menjadi calon istri bohongannya.


"Tapi kalau dia menolak bagaimana, bisa - bisa jatuh pamor gue" gumam rangga merasa takut jika permintaannya ditolak rena.


"Tapi.... gue kan belum nyoba gimana gue tahu kalau dia nolak atau terima gue, secara gue ini kan tampan, kaya masih lajang lagi, cewek mana yang mau nolak, cuma cewek yang enggak normal yang mau nolak gue" guman rangga yang terlalu pedenya, beranggapan bahwa rena tidak akan menolak permintaannya itu sambil tersenyum.


Keesokan harinya dikantor seperti biasanya.


Rena memberitahukan agenda kerja rangga hari itu. Namun rangga malah memperhatikan rena entah apa yang dia pikirkan. Sontak rena membuyarkan lamunan rangga.


"Pak... pak rangga, apa bapak baik - baik saja??" tanya rena sambil menatap rangga, yang masih bengong menatap rena.


"Oh, maaf saya sedang banyak pikiran jadi tidak fokus dengan apa yang kamu bicarakan" jawab rangga sambil memegang kepalanya untuk mengalihkan kecurigaan rena.


"Baik kalau begitu saya ulangi lagi, kalau hari ini ada miting dengan dewan direksi jam 10 pagi dan jam 3 sore ada pertemuan dengan PT. Graha Abadi di restoran seafood untuk membicarakan kontrak kerja bersama... baik hanya itu agenda bapak hari ini" ujar rena menjelaskan agenda kerja rangga hari itu.


"Baik, kamu temani saya nanti untuk bertemu dengan PT Graha Abadi dan siapkan berkas kontrak kerjanya" perintah rangga pada rena.


"Baik pak, kalu begitu saya permisi dulu" ujar rena kemudian kembali ketempat kerjanya.


Beberapa jam berlalu waktu istirahat pun tiba.


"Hai ren, makan bareng yuk udah lama nih gue enggak makan bareng lo.. semenjak lo jadi asisten si bos ganteng lo jadi sibuk, jarang bareng gue" ujar dara yang kangen sama sahabatnya itu.


"Ok, gue juga kangen bareng sama lo, yuk kekantin bareng" ajak rena pada dara sambil menggandeng dara.


Sesampainya dikantin mereka makan bareng sambil berbincang - bincang, tak terasa waktu istirahat sudah hampir habis. Merekapun kembali ke tempat kerja masing - masing.


Semua berkas kontrak kerja sudah selesai, tiba - tiba rena kebelet ingin ketoilet. Sesampainya ditoilet tidak sengaja rena mendengar perbincangan staff direksi lain yang sedang membicarakannya.

__ADS_1


"Len, gue kemarin liat si bos ganteng didepan lobby lagi nungguin seseorang... lo tahu enggak siapa cewek yang dia tungguin??" ujar feny pada lena staff Akunting.


"Iya gue juga liat, dia lagi nungguin janda anak satu itu.. siapa tuh namanya renata atau siapa lah enggak penting" jawab lena pada feny.


"Eh jangan salah lo, biarpun janda anak satu tapi dia itu banyak yang suka tahu... contohnya gebetan lo dani dia dulu demen sama dia cuma kagak berani ngungkapin aja sama tuh cewek jadinya cuma dianggap temen doang" ujar feny membela rena.


"Emang apa bagusnya sih tuh cewek ampe si bos rela nungguin dia??" Tanya lena penasaran.


" Ya gue denger - denger sih, dia pernah nyelametin si bos dari insiden kecelakaan makanya si bos jadi simpati sama dia dan dia dijadiin asistennya" ujar feny


"Oh... berarti si bos cuma merasa hutang budi dong sama dia bukan karena si bos suka sama dia, secara si bos mana mau sama barang bekas" ujar lena yang sirik pada rena.


"Hustt... kalo ngomong jangan sembarangan tar ada yang denger bahaya" ujar feny mengingatkan


"Udah yuk, kita balik kerja tar dicariin bos" ajak feny pada lena yang kemudian pergi dari toilet.


Rena keluar dari toilet dengan merasa kesal, dengan gosip murahan yang barusan dia dengar. Kemudian dia kembali ketempat kerjanya sambil muka ditekuk bibir sedikit manyun.


"Pak sebentar lagi waktunya pulang kerja, saya akan kembali kekantor duluan untuk membawa kontrak kerja ini... saya permisi dulu" ujar rena menghindar dari rangga, gara - gara gosip yang ia dengar dari pegawai lain ketika ditoilet.


"Tunggu... kenapa buru - buru, biar saya antar kamu sekalian saya ada sesuatu yang tertinggal di kantor" ujar rangga mencari alasan agar rena mau diantar olehnya.


"Tidak usah pak, saya bisa naik taxi" jawab rena ketus.


Tiba - Tiba rangga menghentikan langkah rena, dia menarik tangan rena sontak rena pun kaget yang kemudian melepaskan genggaman tangan rangga.


"Kenapa kamu tiba - tiba menghindari saya, apa salah saya??" tanya rangga yang bingung dengan perubahan sikap rena.


"Saya tidak menghindari bapak dan bapak juga tidak punya salah pada saya" jawab rena ketus.


"Trus kenapa kamu tidak mau bareng sama saya, kalau kamu memang tidak mau menghindari saya" ujar rangga ngotot ingin mengantarkan rena.

__ADS_1


"Iiihhh... nih cowok rese susah banget sih dibilanginnya, kalo bukan bos gue udah gue bejek - bejek ni cowok rese" gumam rena dalam hati.


"Ya sudah saya mau bareng bapak" jawab rena sambil menghela napas karena kesal.


"Ya sudah ayo kita pergi" ujar rangga sambil tersenyum tipis agar tak terlihat oleh rena.


Disepanjang perjalanan rena kembali diam. Sesampainya dikantor rena menaruh berkas kontrak kerja sama itu didalam lemari meja kerjanya dan kemudian beranjak pergi untuk pulang. Namun rangga didepan lobby sedang menunggunya seperti kemarin. Rena berusaha menghindar dari rangga namun tidak bisa. Terpaksa dia ikut dengan rangga pulang.


Beberapa hari rena menghindar dari rangga dan rangga pun merasakan perubahan sikap rena padanya. Tidak sengaja rangga mendengar gosip antara dia dan rena yang membuat dia berpikir mungkin itu yang menyebabkan rena berubah.


Ketika akan pulang rangga menunggu rena seperti biasa di depan lobby dan rena pun keluar. Tiba - tiba rangga menghampiri rena dan menarik tangan rena untuk masuk kedalam mobilnya. Kemudian rangga melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh yang membuat rena berteriak ketakutan.


"Pak rangga berhenti pak, kalo tidak saya akan loncat keluar" ujar rena yang ketakutan dengan sikap bosnya itu.


Rangga pun menghentikan mobilnya secara mendadak yang membuat kepala rena terbentur kedepan.


"Brukk... awww... sakit pak, bapak mau membunuh saya ya.. salah saya apa pada bapak??" tanya rena pada rangga sambil memegang jidatnya yang kepentok.


Melihat rena kesakitan rangga pun tersadar kalau yang dia lakukan salah.


"Ma... maafkan saya, saya tidak sengaja... kamu tidak apa - apa kan?? " tanya rangga yang merasa bersalah sambil memegang kepala rena yang benjol karena kepentok.


"Maaf.. maaf.. udah tau kepala saya benjol masih tanya lagi, kalau mau mati jangan ngajak - ngajak dong... mati aja sendiri saya masih mau hidup" ujar rena sewot pada rangga.


"Udah enggak usah pegang - pegang, cari kesempatan dalam kesempitan" sewot rena yang tidak mau dipegang rangga.


"Kalau bapak masih mau kebut - kebutan, saya turun disini saja... saya mau naik taxi saja" ujar rena ngambek.


"Ok.. ok... saya tidak akan kebut - kebutan lagi" ujar rangga kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan normal dan sampai lah dirumah rena.


Rena turun tanpa berkata apapun yang membuat rangga sangat merasa bersalah padanya. Kemudian rangga pun pulang dengan rasa bersalahnya pada rena.

__ADS_1


__ADS_2