
Keesokan harinya, rangga dikantor semakin pusing memikirkan mencari dimana calon istri bohongannya karena waktunya tinggal 2 hari lagi. Sedangkan rena selalu menghindari dirinya setiap mereka bertemu.
Dari pulang kerja kemarin sampai siang ini rangga belum juga makan, bahkan dia semalam kurang tidur karena memikirkan permintaan mamanya dan memikirkan rena yang sedang marah padanya.
Rangga memanggil rena dan rena pun datang.
"Rena, tolong jadwal saya hari ini dibatalkan semua... saya mau pulang duluan karena sedang tidak enak badan" ujar rangga sambil berjalan keluar ruangannya.
Tiba - tiba tubuh rangga jatuh terkulai, rangga pingsan. Terlihat wajahnya yang pucat karena kekurangan cairan dan energi karena dari semalam belum makan.
Kemudian rena berteriak meminta tolong pada hari agar membawa rangga ke rumah sakit. Hari dan rena membawa rangga ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, rangga dilarikan ke Unit Gawat Darurat. Kemudian dokter disana memeriksanya. Setelah memeriksa rangga dokter pun keluar.
"Dok, bagaimana keadaan pak rangga??" tanya rena yang begitu khawatir.
"Tensi darahnya rendah dan magh nya kambuh, sepertinya dia kurang istirahat dan pola makannya yang tidak teratur... tolong nanti ketika dia sadar, suruh dia makan supaya penyakit magh nya tidak tambah parah" ujar dokter yang menjelaskan keadaan rangga.
"Baik dok, terima kasih" ujar rena yang kemudian masuk ke ruang UGD untuk menemui rangga yang masih tidak sadarkan diri.
Setelah diperiksa rangga dipindahkan ke ruang rawat inap. Rena menunggu rangga di kamar rawat sendirian sedangkan hari membeli makanan untuk rangga, agar ketika dia sadar bisa langsung memakannya.
Setengah jam kemudian rangga sadar dari pingsannya. Terlihat rena disampingnya sedang menunggunya.
"Rena, kenapa saya ada disini??" tanya rangga binggung kenapa dia bisa ada di rumah sakit.
"Bapak tadi pingsan di kantor, makanya saya dan pak hari membawa anda ke rumah sakit" ujar rena menjelaskan kejadiannya pada rangga.
"Trus hari dimana" tanya rangga mencari hari yang tidak ada disana.
"Oh... pak hari sedang membeli makanan untuk bapak, soalnya kata dokter magh bapak kambuh.... jadi kalo bapak sudah sadar, bapak harus segera makan biar magh bapak tidak tambah parah" ujar rena
Beberapa menit kemudian hari datang, membawa makanan untuk rangga.
"Pak rangga sudah sadar?? ini saya belikan makanan untuk bapak, soalnya dari pagi bapak belum makan" ujar hari sambil menaruh makanan diatas meja.
"Kalau begitu saya ijin pamit untuk kembali ke kantor" ujar rena, namun hari menahannya agar menemani rangga.
"Rena, kamu disini saja temani pak rangga... saya mau kembali ke kantor masih banyak pekerjaan yang harus saya urus" perintah hari pada rena.
"Tapi pak, pekerjaan saya dikantor gimana??" tanya rena
__ADS_1
"Kamu tidak usah khawatir, biar saya handle semuanya, kalo begitu saya permisi" ujar hari sambil pergi.
Kini didalam ruangan tinggal rangga dan rena. Suasana disana sunyi tanpa adanya perbincangan diantara mereka. Rangga pun memulai obrolan supaya suasana tidak terasa canggung.
"Ehemmm... Tolong ambilkan saya minum, saya haus" perintah rangga pada rena mencairkan suasana dan rena pun mengambilkan segelas air untuk rangga.
Tiba - tiba suster datang membawa makanan dan obat untuk rangga.
"Maaf ini saya bawakan makanan dan obat untuk bapak, tolong dimakan biar bapak cepat sembuh... kalau begitu saya permisi dulu" ujar suster kemudian pergi setelah mengantarkan makanan dan obat untuk rangga.
Rangga mencoba meraih makanan yang ada di meja namun tidak sampai oleh tangannya, kemudian rena membantunya.
"Sini biar saya bantu" ujar rena mengambil makanan dimeja kemudian menyuapi rangga sedikit demi sedikit.
Setelah selesai makan, rangga kemudian meminum obat yang diberikan suster.
"Apa kamu masih marah sama saya, gara - gara kejadian kemarin??" tanya rangga sambil duduk bersandar diranjang pasien.
"Tidak" jawab rena singkat
"Kalau kamu sudah tidak marah lagi, kenapa sikap kamu masih seperti ini.. selalu ketus sama saya" ujar rangga merasa rena masih marah padanya.
"Terus saya harus gimana, biar bapak puas" ujar rena sedikit ketus.
"Gitu dong jangan cemberut terus, jelek tahu diliatnya" goda rangga yang membuat rena salah tingkah.
"Kalau bapak sudah mendingan, saya pamit dulu masih banyak kerjaan di kantor" ujar rena
"Ngapain kamu ke kantor, kan tadi hari nyuruh kamu nemenin saya disini, urusan kantor ada hari yang handle" ujar rangga yang tidak mau ditinggalkan rena.
"Tapi pak" ujar rena
"Tidak ada tapi - tapian pokoknya kamu temani saya disini sampai saya sembuh" perintah rangga pada rena sambil melotot
"Iya, saya temenin bapak sampai sembuh, puas" ujar rena yang kesal dengan sikap rangga yang seperti anak kecil.
Kemudian suasana pun kembali sunyi, rangga mulai memberanikan diri mengungkapkan keinginannya pada rena.
"Rena, saya boleh minta tolong sama kamu?" tanya rangga ragu takut rena menolak permintaannya.
"Minta tolong apa pak, ngomong aja" jawab rena sambil mengotak - atik ponselnya.
__ADS_1
"Kamu mau tidak jadi calon istri saya??" tanya rangga gugup.
"Apa??? jadi calon istri bapak??" ujar rena yang terkejut mendengar permintaan rangga, yang tanpa sengaja menjatuhkan ponsel yang ada di tangannya.
Tiba - tiba rena memegang kening rangga yang dia kira rangga demam sehingga berkata yang ngelantur.
"Bapak tidak demam, apa bapak mengigau atau kepala bapak sakit... biar saya panggil dokter buat periksa bapak?" ujar rena yang merasa bingung dengan sikap aneh bosnya.
Baru hendak berdiri tangan rena ditarik oleh rangga.
"Saya tidak demam atau pun sakit kepala, saya baik - baik saja" ujar rangga dengan ekspresi wajah yang serius.
"Tapi kenapa bapak ngomong kaya gitu dan kenapa harus saya, kenapa enggak yang lain... yang lebih cantik dan yang masih gadis, bapak tahu kan latar belakang saya... saya ini janda punya anak satu, saya tidak pantas untuk bapak " ujar rena merasa tidak pantas untuk rangga.
"Saya tahu kamu seperti apa dan latar belakang kamu, makanya saya minta tolong sama kamu buat jadi calon istri bohongan saya diacara ulang tahun mamanya saya, karena wanita yang saya kenal dan dekat dengan saya cuma kamu" ujar rangga sambil memegang kedua pundak rena.
"Tapi saya tidak bisa pak" jawab rena menolak permintaan rangga sambil melepaskan pengangan rangga pada rena.
"Saya mohon rena, kalo bukan permintaan mama saya, saya juga tidak akan meminta kamu jadi calon istri bohongan saya... saya ingin memberi kado ulang tahun yang mama saya mau walau pun hanya bohongan. Saya ingin melihat mama saya bahagia dihari jadinya" ujar rangga sambil memohon pada rena.
Karena kasihan melihat rangga memohon, rena pun mau menjadi calon istri bohongannya.
"Ok, saya mau jadi calon istri bohongan bapak tapi hanya dipesta ulang tahun mama bapak, diluar itu kita hanya sebatas atasan dan bawahan" tegas rena pada rangga yang membuat rangga tersenyum kegirangan.
"Ok, saya setuju" ujar rangga sambil tersenyum bahagia.
"Ada satu lagi, jangan coba macem - macem sama saya apalagi pegang - pegang, tidak boleh... ngerti" tukas rena sambil menatap rangga sinis.
"Iya, saya mengerti" jawab rangga
Beberapa jam kemudian, dokter datang mengecek keadaan rangga.
"Keadaan pak rangga sudah mulai membaik, jangan lupa diminum obatnya dan makan yang teratur agar tidak kambuh lagi" ujar dokter
"Saya ingin pulang dok, saya tidak betah disini... apa saya boleh pulang sekarang??" tanya rangga pada dokter.
"Sebenarnya pak rangga belum boleh pulang, keadaan pak rangga masih lemah kecuali bapak ada yang merawat dirumah untuk mengawasi kesehatan pak rangga" jawab dokter
"Dokter tidak perlu khawatir saya punya perawat yang lebih ahli dari pada perawat di rumah sakit ini, ini calon istri saya yang akan merawat saya... jadi dokter tidak perlu khawatir lagi dengan keadaan saya" jawab rangga dengan pedenya yang mendapatkan cubitan dari rena.
"Baiklah kalau begitu, pak rangga boleh pulang sekarang tapi kalau ada apa - apa tolong hubungi saya" jawab dokter terpaksa memperbolehkan rangga pulang.
__ADS_1
"Baik kalau begitu saya permisi mau mengecek pasien yang lain" ujar dokter yang kemudian pergi dari ruangan rangga.
Rangga pun pulang ditemani rena dan hari sudah menunggu di lobby rumah sakit untuk mengantarkan rangga dan rena pulang.