
Keesokan paginya rena dengan aktivitas seperti biasanya berangkat kerja ke kantornya dengan membawa sepeda motor kesayangannya.
"Toott,, toottt, toottt.." suara klakson mobil dan motor yang tidak sabaran karena jalanan yang macet.
"Berisik banget sih, udah tahu macet bunyiin klakson kenceng lagi" sewot rena yang kesal dengan suara klakson kendaraan disekitarnya.
"Tumben banget nih jalan macet, biasanya juga lancar - lancar aja... ada si komo lewat kali ya,, haha.. " gumam rena sambil tersenyum.
Beberapa menit kemudian jalanpun lancar kembali.
Jam menunjukan pukul 7:05.
"Huuhh,, gara - gara macet gue kesiangan jadinya,, untungnya enggak telat.. huftt" rena menggerutu kesal karena terkena macet.
Sesampainya di kantor seperti biasa rena menyalami teman kerjanya.
"Pagi semua" ucap rena pada teman kerjanya sambil tersenyum.
"Pagi... " sahut teman kerjanya.
Kemudian rena menuju meja kerjanya dan melakukan pekerjaannya seperti biasanya.
Rena kemudian melirik ke meja kerja dara, namun dara tidak ada di meja kerjanya.
"Tumben tuh anak enggak ada,, apa dia enggak masuk ya??" gumam rena merasa kehilangan sahabatnya yang biasanya bawel kalau dia datang.
"Dan,, sini deh gue mau tanya sesuatu sama lo" ujar rena pa dani sambil melambaikan tangannya.
Kemudian dani pun menghampiri rena.
"Ada apa lo manggil gue tumben..?? " tanya dani pada rena sambil tersenyum mengejek.
"Gue mau tanya, si dara kemana enggak kelihatan batang hidungnya... secara dia biasanya kalo liat gue langsung nyamperin gue??" tanya rena merasa kehilangan sambil menyiutkan bibirnya.
"Waaahh,,, lo kehilangan yaaa... " sahut dani sambil mengacungkan jari kepada rena.
"Iya gue kehilangan dia kan yang paling deket sama gue, diantara semua teman - kerja kita" jawab rena sambil manyun.
"Dia ijin satu hari, soalnya ada saudaranya yang meninggal.." ujar dani menjelaskan.
"Ko dia enggak ngasih tahu gue sih, malah lo yang tahu duluan?? " tanya rena sebal.
"Dia telpon gue kemaren, trus bilang hubungin lo tapi enggak diangkat telponnya makanya dia telpon gue" jawab dani menjelaskan.
"Ooh,, gitu ceritanya... makasih ya infonya" ujar rena berterima kasih pada dani atas infonya.
"Ok, sama - sama" sahut dani sambil kembali ke meja kerjanya.
Kemudian mereka pun bekerja seperti biasanya.
Tiba - tiba terdengar suara telpon.
"Tut,, tuutt,, tuuttt" suara telpon berdering.
"Halo rena, kamu dipanggil pak rangga.. disuruh ke ruangannya sekarang" ujar pak joko memberitahukan rena.
"Baik pak, saya kesana sekarang" jawab rena atas perintah pak joko.
"Ada apa sih tu cowok rese, manggil gue segala.. apa jangan - jangan gara - gara masalah kemaren di mall itu ya" gumam rena merasa aneh karena dia dipanggil oleh rangga.
"Hmm.. mungkin masalah kerjaan kali ya" gumam rena tidak mau memikirkan masalah di mall waktu itu.
__ADS_1
Di depan pintu ruangan rangga.
"tok,, tok,, tookk,, " suara ketukan pintu.
"Masuk" sahut rangga di dalam ruangannya.
"Permisi pak, apa bapak memanggil saya" ujar rena kepada rangga.
"Iya, benar" jawab rangga tanpa basa basi.
"Hari ini jam makan siang nanti, kamu tolong ikut dengan saya" ujar rangga tegas.
"Kemana pak?? " tanya rena penasaran.
"Kamu tidak perlu banyak tanya, cukup ikuti saja apa yang saya suruh" ujar rangga kesal dengan pertanyaan rena.
"Baik pak,, apa masih ada yang lain??" tanya rena kepada rangga.
"Tidak ada, kamu boleh kembali bekerja" jawab rangga.
"Baik pak, kalau begitu saya permisi" jawab rena merasa senang karena dia tidak perlu berlama - lama diruangan rangga.
Kemudian rena pergi ke meja kerjanya.
"Mau ngapain tuk cowok rese nyuruh gue ikut sama dia, emang enggak ada yang lain apa??" gumam rena sambil cemberut kesal.
Beberapa jam pun berlalu dan waktu istirahat pun tiba.
Tiba - tiba rangga datang menghampiri rena di meja kerjanya.
"Ayo ikut dengan saya" ujar rangga kepada rena.
Di parkiran rena pergi menuju motor kesayangannya belum sempat sampai motor.
"Kamu mau kemana?? " tanya rangga sambil melihat rena menuju motornya.
"Saya mau mengambil motor saya pak, kan tadi bapak menyuruh saya ikut dengan bapak" jawab rena tanpa merasa bersalah.
"Huhh,, kamu ikut naik mobil saya, jangan bawa motor butut kamu itu" ujar rangga sambil menghela nafas melihat rena dengan nada kesal.
Kemudian rena pun ikut dengan rangga menaiki mobilnya bersebelahan dengan rangga.
"Duh, kenapa sih jantung gue dag dig dug kencang banget" gumam rena dalam hati.
Selama perjalanan rangga dan rena diam seribu bahasa, tidak ada satu katapun terlontar dari mulut mereka.
Setibanya di mall yang kemarin rena datangi.
"Pak, kenapa kita kesini?" tanya rena penasaran.
"Saya mengajarkan kamu kesini karena saya mau minta tolong" ujar rangga menjelaskan kepada rena.
"Mau minta tolong apa pak?" tanya rena tambah penasaran.
"Jangan - jangan gue disuruh nyobain baju atau perhiasan buat pacarnya lagi" gumam rena yang terlalu berlebihan memikirkan bosnya.
"Begini, hari minggu nanti keponakan saya ultah,, saya tidak tahu kesukaan anak kecil.. jadi saya minta tolong kamu pilihkan hadiah buat ponakan saya" ujar rangga dengan malunya menjelaskan pada rena.
"Oohh,, begitu rupanya... ponakan bapak cewek atau cowok,, berapa tahun usianya?? tanya rena tanpa hentinya nyerocos.
"Cewek, usianya sama seperti anak kamu" jawab rangga singkat.
__ADS_1
"Baik kalau begitu, mari bapak ikut saya" ajak rena pada rangga yang tak senganja sambil menarik tangan rangga.
"Deg,, deg, deggg,, " suara jantung rangga berdebar dengan kencangnya, yang reflek melepaskan tangannya dari genggaman tangan rena.
Rena pun terkejut dengan tingkah bosnya itu dan tersadar apa yang telah diperbuatnya.
"Oh, maaf pak.. saya tidak sengaja menarik tangan anda" ujar rena menjelaskan dengan malunya atas apa yang telah ia lakukan.
"Oh, enggak apa - apa" jawab rangga gugup karena salah tingkah.
Kemudian mereka pun berkeliling mencari hadiah untuk keponakannya rangga dan memilih beberapa mainan yang kemudian mereka bayar.
Selama rangga mengantri untuk membayar belanjaannya, rena berkeliling ditoko mainan itu dan melihat satu boneka kesukaan bila. Namun melihat harganya yang mahal rena mengurungkan niatnya.
Dari kejauhan rangga memperhatikan rena yang kembali dari melihat lihat.
"Pak, apa sudah selesai memilih hadiahnya?" tanya rena sambil mengelus perutnya karena lapar.
Tidak sengaja rangga pun melihat kelakuan lucu rena dan kemudian sedikit tersenyum menahan tawanya.
"hemm,, belum.. mari kita cari yang lain" ujar rangga sambil senyum tipis melihat rena yang kelaparan.
"Aduh lapar banget perut gue, kapan selesainya sih nih cowok rese belanja,, kalah tante rempong mah" gumam rena kesal saking laparnya.
Disuatu restoran rangga berhenti dan masuk kesana.
Rena bengong melihat bosnya masuk ke restoran mahal.
"Gila nih cowok rese, ngapain makan ditempat gini... gue kagak sanggup bayar walau cuma minum doang juga" gumam rena seakan tidak mau masuk ke restoran karena takut dengan harga makanan disana.
Kemudian rangga memanggil rena yang sedang bengong kaya orang bego.
"Rena, kemari ngapain kamu berdiri disitu?? kaya patung selamat datang" ujar rangga sambil tersenyum tipis menahan tawanya.
Kemudian rena menghampiri rangga dan duduk bersebelahan dengan rangga.
Rangga pun memesan makanan dan mereka pun makan.
Selesai makan mereka kembali ke kantor.
"Terima kasih, sudah membantu saya mencari hadiah" kata rangga kepada rena dan kemudian mereka pun kembali ke tempat kerja mereka masing - masing.
Beberapa jam berlalu dan waktu pulang kerja pun tiba.
"Akhirnya pulang juga, melelahkan sekali kerja hari ini" gumam rena sambil beres - beres untuk bersiap pulang.
Sesampainya di rumah.
"Bila, mamah pulang" ujar rena pada bila anak kesayangannya.
"Mama kayanya capek banget" ujar bila pada mamanya.
"Iya sayang hari ini kerjaan mamah melelahkan banget" jawab rena.
"Oya ma, tadi ada telpon dari temen mama" ujar bila memberi tahu rena.
"Siapa sayang" sahut rena penasaran.
"Om ferdy ma, dia bilang mama ditunggu di cafe biasa mama sama dia ketemu, jam 8 jangan sampe enggak dateng katanya" ujar bila menjelaskan.
"Baik sayang kalo gitu mama mandi dulu ya" ujar rena menuju kamarnya.
__ADS_1