
Tak selang beberapa lama, ada seseorang memanggil anin dari kejauhan.
"Aninn...! panggilnya dari kejauhan.
Ternyata temen yang dia tunggu adalah seorang cowok, hati ku pun saat itu langsung hancur. Mengetahui siapa temen yang di tunggu untuk pulang bareng.
"Siapa itu, apakah dia mempunyai hubungan dengan anin?" pikirku lesu.
______________________________________________
Dengan berlari kecil dia mendekati Anin, saat itu perasaan ku seperti terpecah belah. Tidak tau akan kemana arah tujuan, apakah ini yang namanya cemburu. Sungguh itu sangat sakit sekali, melihat dia dan Anin ngobrol sangat dekat sekali. Apakah aku harus perlahan mundur.
"Yok nin kita pulang." ucap cowok itu.
"Eh bentar-bentar. nih kenalin dulu temen anin, namanya Gilang." ucapnya sambil mengenali aku kepada dia.
"Ohh.. ini yang namanya Gilang, salam kenal. aku Sandi." sapa nya dengan menjulurkan tangan.
"A-aku Gilang, biasa di panggil Alang." jawab ku.
"Ya udah yuk kita pulang san, ummi pasti sudah menunggu. Eh lang kita pulang dulu ya, assalamu'alaikum."
"Yo lang kita pulang dulu, assalamu'alaikum." ucap sandi.
"I-iya assalamu'alaikum, hati-hati di jalan." jawab ku lesu, apalagi saat mendengar ummi nya menunggunya di rumah.
Anin dan Sandi langsung pulang dengan mengendarai motor N-Max. kulihat sebelum mereka pergi, wajah anin terlihat bahagia sekali. Senyuman itu sebuah senyuman yang pernah di berikan kepadaku tadi, saat menyanyikan lagu untuknya.
"Apakah dia bukan jodohku." ucapku langsung menghidupkan motor untuk langsung pulang.
Disaat sedang menghidupkan motor, ada sebuah tangan yang memegang pundak ku.
"Aninn.. Ku kira kau tidak mau pulang denganku." ucapku memegang tangan itu dengan tersenyum.
"Anin teross.. jatuh cinta kali nampaknya kau sama dia."
"Ah kampret lu wan, ku kira anin." ucap ku kesal sambil menjauhkan tangannya dari pundakku.
"Yee.. santai dong, lu ngapa sih. kelihatan bener galaunya." tanya irwan melihat wajah ku tidak seperti biasanya.
"Tadi si anin pulang dengan cowok, aku lihat dia dengan anin terlihat sangat dekat. Terus anin bilang kalau Ummi nya menunggu mereka di rumah."
"Wah wah wah, saran aku sih lebih baik sekarang kamu mundur alon-alon dengan anin." ucap irwan.
"Baru kali ini aku merasakan sakit hati dan sangat cemburu, lu tau aku kan dulu di SMP." tanyaku.
"Iya tau lu kan paling anti dengan namanya pacaran, padahal banyak kali cewek-cewek naksir lu waktu itu. Bikin iri tau."
"Kenapa disaat aku merasakan cinta, yang ku terima itu perasaan ini."
"Ya mungkin itu karma kali, karena lu dulunya gak menerima perasaan mereka." ucapnya membuat aku berpikir.
"Mungkin kali ya. Eh lu ada apa kesini." tanyaku.
"Hehehe pulang bareng yok." jawabnya.
"Ha ihh.. Najis pulang bareng lu, emangnya aku cowok apaan."
"Punten ni ya, lapangan kosong ni. Baku hantam yok anj*ng." ucap nya kesal.
__ADS_1
"Hahahaha canda woy canda cok, emang motor lu mana?" tanyaku.
"Motor lagi di pakai bapak."
"Oalah, yok lah aku antar. Entar sampai rumah masakan mie goreng tambah telor setengah matang."
"Anj*ng nolongin gak ikhlas amat dah.
"Hahaha tidak ada yang gratis bujang, aku juga mau main ps dirumah lu sampai hilang galau ni."
"Yee kambing, yo dah lu kasih tau dulu Ummi kalau lu main ke rumah aku." ucapnya mengingat kan.
"Eh iya, bentar-bentar aku sms dulu Ummi." ucapku sambil mengambil handphone dan memberitahu Ummi kalau mau main kerumah Irwan.
"Dah ayok pergi," ucapku.
"Kuy lah," balasnya.
Untung ada si Irwan saat ini, kalau tidak mungkin aku bakalan galau terus. Kami pun langsung pergi menuju rumah Irwan dengan kecepatan penuh.
Skip.
Akhirnya sampailah kami berdua di kediaman rumah Irwan. Aku parkir kan motor di garasi rumahnya, aku sangat suka main ke rumah Irwan,karena rumahnya itu loh bagus banget sumpah.
"Yok masuk, lu langsung aja ke kamar." ucap Irwan.
"Gas keun lah, assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam." jawabnya.
Di dalam rumahnya hanya dia sendiri, karena kalau masih siang gini Ibu dan Bapaknya kerja. Ibunya membuka tokoh baju, dan Bapaknya kerja di sebuah perusahaan tambang. Irwan ini termasuk dalam keluarga yang kaya, apapun yang dia minta pasti di belikan. Tapi yang aku suka darinya, dia gak pernah menyombongkan kekayaan bapaknya. Dia selalu berpenampilan sederhana serta orangnya ringan tangan dalam membantu orang-orang di sekitarnya termasuk aku.
Keluarganya sangat baik kepadaku, sering aku menginap di rumahnya dan makan bersama. Sangking seringnya,Ibu dan Bapaknya sampai menganggap aku seperti anak sendiri. Irwan anak satu-satunya di keluarga mereka, maka nya dia sangat di manja. Namun perhatian seperti itu tidak membuat irwan menjadi anak yang sombong ataupun pembangkang, karena kekayaan kedua orang tuanya. Itulah alasan yang membuat aku menjadikan dia sahabat karena prinsip hidupnya.
"Langgg... lu mau pedas atau tidak mienya..!! teriak dia dari dapur.
" Pedasss... jangan lupa telor setengah mateng sama sosis dan kerupuk!! teriak ku membalas.
"Ngelunjakkk... lu anj*ng!!" teriaknya
"Hahahaha," tawaku sambil memainkan game God Of War di kamar Irwan.
Rumah Irwan sudah aku anggap seperti rumah sendiri, mau apa-apa tidak malu lagi untuk meminta ataupun mengambil.
"Lang, mienya udah jadi, lengkap sama telor, sosis dan kerupuk." Irwan masuk ke dalam kamar sambil membawa semangkuk mie dan kerupuk ikan satu toples.
"Weh punya aku mana cok?"
"Ambil sendiri, lah. Lu kan cuma minta di bikinin, bukan dibawain. Lu kate aku babu apa."
"Janc*k lah," kata ku sebelum keluar kamar untuk mengambil, mie yang ada di dapur.
"Eh eh sekalian ambilin minum untuk aku!"
"Ambil sendiri, lah. Lu kan punya kaki."
"Janc*k, balas dendam dianya."
Skip.
__ADS_1
"Nih, minum lu." kata ku sambil memberikan minuman untuk nya.
"Weh mantap kali."
Dengan lahap aku menghabiskan mie buatan irwan itu sampai habis tanpa tersisa sedikit pun.
"Gilak lu lang, cepat amat makannya. Itu kelaparan atau doyan." katanya.
"Dua-dua cok, mie buatan lu emang uenak banget dah."
"Waiya dong, Irwan gitu loh." katanya penuh bangga.
"Ho'oh karena enak mie buatan lu, besok buatin lagi ya. Ingat harus di tambah telor setengah mateng, sosis dan kerupuk."
"Bangs*t bener,"
"Hahahaha, sini mangkok lu. Mau gua cuci."
"Nah gitu dong, harus tau diri. Udah di masakin, wajib nyuci piring." katanya sambil memberikan mangkok mie.
"Bangke," Kataku sebelum menuju dapur untuk mencuci piring.
Setelah selesai mencuci dan membereskan mangkok dan garpu di dapur, aku langsung menuju ke kamar. Untuk melanjutkan permainan yang belum selesai.
Breemmmm...
Suara mobil yang sedang melaju dengan kencang, di saat aku mau membuka pintu. Ternyata irwan mengganti kaset game God Of War dengan game Balapan.
"Buaji*gan wan!" kataku mengumpat padanya.
"Apa sih lu, dateng-dateng malah marah?"
"Lu ngapain ganti itu game, bangke."
"Ha emang kenapa?" tanyanya bingung.
"Itu belum aku save dulu kambing, malah main langsung ganti aja. Mana tadi susah payah bunuh bos nya."
"Hahaha sori-sori aku gak tau, kirain sudah di save."
"T*i lah!!
Hari ini ku habiskan waktu dengan bermain game di rumah Irwan sampai malam, untuk menghilangkan sementara kegalauan yang aku rasakan saat ini.
"Wan, aku pulang dulu. Dah malam soalnya."
"Oke, hati-hati di jalan. besok jangan kesini lagi. Nyusahin aja lu." katanya.
"Set dah jadi gak ikhlas ni?"
"Hahaha canda cok, ih baperan amat sekarang."
"As* , dah aku pulang. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Skip.
Setelah sampai rumah, aku langsung mandi, dan bergegas tidur. Semoga dengan tidur, aku bisa melupakan perasaan sakit ini.
__ADS_1