
Sesekali aku melihat kebelakang untuk memastikan jarak dengan Anindya, karena tidak ingin merasakan sakit di kuping. Walaupun sebenarnya ada rasa ingin, bukan ingin merasakan sakit. Namun lebih tepatnya membuat dia senang walaupun aku harus menahan tarikan kuping itu. Apakah itu aneh? Apakah semua lelaki melakukan hal yang sama ketika membuat seseorang yang dicintainya marah dan ingin memukul atau mencubit. Semoga saja aku tidak menjadi satu-satunya lelaki yang melakukan hal itu.
"Anin!" panggil seorang lelaki dari kejauhan.
Aku dan Anindya serempak berhenti, lalu melirik ke arah sumber suara itu. Lelaki itu segera mendekati Anindya.
"Kamu sudah sembuh, Dek?"
"Sudah, Kak Bima," jawabnya tersenyum.
Aku yang melihat itu mendengus kesal kepada Bima, seorang lelaki yang berusaha merebut Anindya dari dekapanku.
"Syukur lah kalau begitu, oh ya sebentar lagi acara Maulid Nabi. Kamu sudah siapkan, Dek?"
"InsyaAllah siap, Kak."
"Bagus, nanti setelah pulang sekolah kumpul di ruangan latihan ya."
"Baik, Kak," jawab Anindya.
Lalu Bima berlalu pergi dengan senyuman terindah miliknya, namun itu membuat aku jijik. Aku mendekati Anindya, lalu berkata, "Sudah selesai ngobrolnya?"
"Sudah dong!" jawabnya.
"Oh."
Tanpa aku sadari, wanita cantik itu memperpendek jarak denganku. Ketika sudah sangat dekat, ia langsung menarik telinga kananku dengan kuat.
"Adedede! Sakit!" gerutuku.
"Katanya janji gak akan lagi cemburu?"
"Maaf, namanya juga manusia." Aku mengusap-usap telinga yang sedikit memerah.
"Bakso dua porsi," ucapnya.
"Ha?! Gak! Gak! Kamu baru sembuh, gak boleh makan bakso, apalagi pedes dan banyak," protesku menolak keinginannya.
"Aih, Anin maunya bakso~."
"Gak! Gak boleh. Makan yang lain aja."
"Gak mau, maunya bakso. Ya, ya, ya." Dia mengedipkan matanya beberapa kali sambil tersenyum.
Aku menjadi luluh melihat sikapnya yang lucu. "Iya boleh," jawabku.
"Asik!" Dia menyatukan kedua telapak tangannya sambil tersenyum.
"Tapi! Gak boleh pakai sambal cabai. Kalau ingin pedas, ambil sejumput sendok teh aja."
"Yah! Gak nikmat dong. Anin maunya pedas."
"Gak! Udah ayo ah, masuk kelas kita."
"Mau pedas," bujuknya merengek.
__ADS_1
Aku tidak menjawabnya, hanya menarik lengan kanan Anindya. Namun kulit di telapak tanganku tidak bersentuhan dengan kulitnya, karena aku melapisi dengan kain pada jaket yang aku kenakan.
Sesampainya di kelas, semua mata tertuju kepada Anindya yang terlihat sudah sembuh dari sakitnya.
"Assalamu'alaikum. Selamat pagi, Teman-teman!" serunya kepada semua.
"Wa'alaikumsalam," jawab beberapa dari mereka.
"Selamat pagi juga, Anindya," jawab mereka yang non-muslim.
Beberapa dari mendekati Anindya dengan senyuman ramah. "Bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya Tasya.
"Alhamdulillah sudah baikan, Tasya."
"Syukur lah." Tasya memegang pundak telapak tangan Anindya.
"Ayo siap-siap! Sebentar lagi bel pelajaran pertama di mulai!" seruku mengingatkan semuanya.
Akhirnya tibalah bel istirahat berbunyi setelah beberapa jam mengikuti mata pelajaran. Seperti biasanya kami menata meja menjadi bentuk persegi panjang untuk makan bersama.
"Kamu bawa bekal gak, Anin?" tanyaku kepadanya.
"Kalau tidak salah bawa deh." Dia memeriksa tasnya. "Loh?! Kok tidak ada sih?!" sambungnya.
"Apanya yang tidak ada?"
"Bekal Anin lah, apalagi? Aduh, bekalnya lupa Anin bawa," ucapnya.
"Emangnya kamu letakkan dimana? Sampai-sampai bisa lupa gitu."
"Di dapur, saat itu Anin mau pergi ke kamar mandi."
"Kamu mau kemana, Lang?" tanya dia heran.
"Ada deh," jawabku.
Aku mempercepat langkah menuju ke kantin untuk membeli nasi hangat dan sop ayam sebagai lauknya.
"Berapa, Bude?" tanyaku kepada penjual.
"Sepuluh ribu."
Lalu aku memberikan selembar uang pecahan sepuluh ribu kepadanya ."Saya pinjam piring dan sendok ya, Bude."
"Boleh, tapi jangan lupa dikembalikan dengan keadaan bersih loh."
"Baik, Bude," jawabku dan bergegas kembali ke kelas.
Sesampainya di kelas, aku langsung memberikan kepada Anindya. "Nih, langsung makan mumpung masih hangat."
"Berapa?"
"Udah gak perlu, ayo makan! Waktu istirahat tinggal empat puluh menit lagi loh!"
Di sekolah ini memberikan waktu istirahat kepada muridnya selama satu jam lamanya agar semuanya bisa istirahat dengan puas dan konsentrasi kembali membaik.
__ADS_1
"Makasih ya, Alang~."
Saat lagi makan, aku merasakan sesuatu yang kurang saat ini. Kemana sih Irwan? Biasanya dia selalu hadir untuk nimbrung makan bersama sambil membawa teman makan—Seperti gorengan—.
"Tumben Irwan gak datang?" ucapku pelan.
"Iya ya, tumben dia gak ada. Tidak jadi deh dapat gorengan," ucap Tasya cemberut.
Namun beberapa saat kemudian, Irwan datang dengan semangat menggebu sambil membawa keranjang. "Siapa mau pempek!" serunya lantang.
Semua menjadi riuh karena kedatangan Irwan yang tentu saja membawa keranjang berukuran sedang berisikan pempek itu.
"Aku mau, Wan!"
"Aku juga!"
"Mang Irwan! Aku mau tiga!"
"Aku lima, Mang!"
"Kalian kata aku ini mamang-mamang apa? Setiap orang dapat jatah tiga," ucap Irwan.
"Kenapa lama sekali, Wan?" tanyaku ketika ia telah selesai membagi rata makanan itu kepada semua.
"Tadi aku harus jemput ini dulu di tempat langganan ketika istirahat tiba." Dia menunjukkan keranjang yang telah kosong.
"Oh begitu. Kau udah makan, Wan?" tanyaku kembali.
"Udah tadi saat lagi menunggu mereka menyiapkan makanan itu, aku beli bakso mercon di dekat tempat langganan."
"Bakso mercon?!" Anindya menatap tajam Irwan.
"Aduh!" Aku memukul pelan jidatku.
Irwan terlihat bingung. "Kenapa, Lang?"
"Dia sedang ingin makan bakso nanti sore selepas pulang sekolah."
"Ya udah nanti aku antar kalian ke tempat itu."
"Benarkah?!" tanya Anindya dengan sangat antusias.
"Iya," jawab Irwan.
"Wan!"
"Apa, Lang?"
"Astaga kau lupa ya kalau Anindya baru sembuh?! Malah diantar makan bakso mercon lagi.
"Eh? Aduh aku lupa." Dia menepuk pelan jidatnya.
"Jadikan nanti selepas pulang sekolah makan bakso mercon?" tanyanya ketika aku dan Irwan lagi berdebat kecil.
"Gak!" Kami berdua serempak menjawabnya.
__ADS_1
**
Jangan lupa Like, Comment, Favorit dan Votenya guys! Agar saya jadi lebih semangat untuk updatenya.