Janjiku Kepadamu Anindya

Janjiku Kepadamu Anindya
Jus Jeruk


__ADS_3

Senyuman dirimu membuat seisi duniaku terperanjat bahagia.


Pancaran indah dari manik matamu.


Setiap kedipan dan lirikan itu membutakan mata hati ini.


Bagai kilatan petir yang membelah bumi.


Tutur katamu terjaga dari hasutan kegelapan dunia.


Setiap orang yang mendengar kau berkata akan langsung terpana.


Tanpa ada rasa ingin menyela yang membuat jiwamu terluka.


Jujur ....


Dalam relung lubuk hati yang terdalam


Aku sangat mencintaimu.


Rambutmu ....


Manik matamu ....


Senyumanmu ....


Tawamu ....


Tutur katamu ....


Semuanya dalam wujud raga dan jiwamu membuat aku jatuh cinta.


Aku ingin memilikimu sepenuhnya


tanpa ada seorangpun yang menghadang


Tapi ....


Hanyalah Sang Pencipta yang memiliki kehendak itu semua.


Akanku pimpin dirimu sampai ke Janah


Jika Allah mentakdirkan kita bersama.


Akanku doakan kau bahagia, walau takdir menyatakan kita harus berpisah.


-Gilang Sanjaya-


...


Dalam lubuk hati yang terdalam aku berharap sang kesembuhan segera menghampirinya tanpa ada rintangan yang menghalangi. Sedih, itulah yang aku rasakan saat ini. Bahagia, seperti itulah yang akan aku dapatkan ketika melihat dia seperti sediakala.


Bercengkrama bersama, makan berdua, belajar ilmu dunia dan akhirat bersama-sama. Itulah yang aku rindukan saat ini darimu.


Cahaya sang surya yang hangat dan nyaman menggapai wajahnya yang sayu, itulah yang aku lihat saat ini. Sambil menunggu dia terbangun dari mimpinya, aku memutuskan untuk berzikir memohon kesehatan segara menghampirinya, tanpa aku sadari ke dua manik mataku perlahan menutupkan dirinya untuk masuk ke alam mimpi.


...


Aku seperti merasakan kehangatan dan nyaman di sekujur tubuh, dan ada suatu tangan yang membelai pelan kepalaku.


Aku terbangun dari alam tidur dan melihat ada sosok seorang wanita yang tersenyum manis ke arahku.


"Bangun, Nak. Udah sore ini, kamu gak pulang?" tanya wanita itu.


"Udah jam berapa sekarang, Ummi?" Aku bertanya sambil mengucek ke dua manik mata.


"Sudah jam lima sore ini," katanya pelan sambil menghampiri anaknya yang masih baring di kasur itu.


Sontak aku teringat sesuatu yang harus di pastikan, membangunkan tubuh ini untuk menghampiri seorang wanita yang tadi pagi aku rawat dengan kasih sayang.


"Gimana keadaannya, Ummi?"


"Alhamdulillah, suhu badannya sudah turun. Wajahnya juga tidak lagi pucat." Wanita itu mencium kening anaknya.


Akhirnya ciuman itu membuat Anindya terbangun dari tidurnya yang panjang dan indah.


"Ummi," ucapnya manja.


"Iya, Sayang. Makan dan minum obat lagi yuk!" seru orang-tuanya.


Dia mengangguk pelan seraya mencoba duduk dan menyenderkan punggungnya ke dinding kasur.


"Kamu kenapa belum pulang, Lang?" tanya Anindya.


"Dia tadi ketiduran menunggu kamu di kursi sofa." Umminya menjawab pertanyaan itu.


Aku hanya memberikan senyuman yang indah kepadanya, memberikan jawaban kebenaran dari apa yang di katakan oleh orang-tuanya.


"Ayo sekarang waktunya makan," kata Umminya yang beranjak mengambil semangkok bubur ayam di meja kecil yang terletak di samping ranjang.


"Biar Gilang aja yang suapi Anindya, Ummi," kataku kepada wanita itu.


"Gilang ... hari sudah sore, kamu pulang ya, Nak. Sekarang biar ummi yang merawatnya."


"Ta-tapi, Ummi."


"Gilang! Jangan ngeyel, atau aku jewer!" seru Anindya yang mencoba memperingatiku.

__ADS_1


"Aku sudah mulai baikan, jadi kamu gak perlu cemas lagi," sambungnya ketika tadi melihat wajahku sedikit murung.


"Beneran sudah sembuh?" tanyaku mencoba memastikan sekali lagi.


"Sini kamu kalau gak percaya."


Aku mendekati dan duduk di dekatnya.


"Adedede ampun, sakit! Kenapa aku di jewer sih?!" tanyaku heran.


"Udah percaya kalau aku sembuh? Atau mau di jewer lagi?"


Melihat apa yang di lakukan anaknya, membuat Ummi Fatimah tertawa kecil. Dia tidak menyangka bahwa ada lelaki yang bisa membuat anaknya menjadi seperti ini.


"Iya, iya percaya kok percaya," kataku yang masih mengusap telinga yang perih.


"Ya udah kalau percaya sana pulang, ini sudah sore. Jangan bikin Ummi di rumah khawatir."


"Judesnya mulai keluar, iya siap Tuan Putri Anindya," kataku sedikit bercanda.


"Coba bilang sekali lagi! Biar aku jewer itu kuping satunya!"


"Ummi, Anindya galak banget." Aku berlari kecil ke belakang Ummi Fatimah.


Sekarang sang tawa dan senyuman menghampiri ruangan yang tadinya redup lesu, sinar senja perlahan menampakkan dirinya lewat kaca jendela kamar Anindya.


"Udah mulai magrib, kamu harus pulang, Nak."


"Iya, Ummi. Gilang pulang dulu. Nanti kalau Anindya bandel gak mau makan dan minum obat, cubit aja hidung dan pipinya yang tembem itu."


"Gilang! Sini kamu aku jewer lagi!" serunya kesal.


"Wuek," ejekku kepadanya.


"Ya udah Gilang pamit, Ummi." Aku menyalami orang-tua Anindya.


"Nin aku pulang dulu ya, jaga kesehatan. Jangan malas makan dan minum obat."


"Gak, gak mau!"


"Bakso dua mangkok deh," kataku merayunya.


"Janji!"


"Iya janji, makanya jangan malas malas makan dan minum obat."


Dia menjawab dengan senyuman dan anggukan tanda setuju dengan apa yang aku perintahkan kepadanya.


"Aku pulang dulu ya, Nin. Gilang pamit pulang, Ummi. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam," ucap mereka berdua.


...


"Kata Irwan kamu gak masuk sekolah, apa benar itu, Bang?" tanya Ummi yang mengusap kepalaku.


"I-iya, Ummi."


"Kenapa? Kenapa kamu gak sekolah?"


"Anindya, Ummi."


"Maksudnya?" tanya Ummi bingung.


"Dia demam tinggi tadi sejak tadi malam. Tadi pagi dia nitip ijin ke Alang kalau dia sakit. Makanya tadi pagi Alang langsung buru-buru."


"Demam? Terus-terus gimana keadaannya sekarang?"


"Alhamdulillah dia sudah baikan, Alang rawat dia sepenuh hati," kataku sedikit bangga.


"Tapi kamu gak macam-macam kan?!" tanya Ummi sedikit menekankan kata itu.


"Ya enggak lah, Ummi."


"Syukurlah, besok kalau masih sakit dianya, beritahukan kepada Ummi ya," ujarnya kepadaku.


"Emang kenapa, Ummi?"


"Biar Ummi buatkan makanan dan minuman untuk dia." Dengan senyuman yang indah Ummi menjawab itu seraya meninggalkan aku di meja makan.


'Kelihatannya ummi benar-benar suka sama Anindya. Semoga ini pertanda jodoh, amin.' kata gue dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.


...


Suara adzan subuh berkumandang membangunkan aku dari lelapnya akan mimpi, mimpi yang aku tidak aku ketahui arah dan tujuannya.


Terlintas sedikit pertanyaan dalam benakku, tentang kesehatan Anindya sekarang. Apakah dia sudah sembuh atau belum.


'Semoga dengan bergantinya hari, dia telah sembuh total dan aku bisa kembali melihat senyumannya yang indah.'


Setelah selesai sholat berjamaah bersama keluarga dan membereskan perlengkapan sekolah, aku mengecek handphone untuk memastikan apakah ada pesan darinya.


Sesuai dugaan yang aku pikirkan, dia mengirim pesan whatsapp kepadaku. Ternyata dia masih demam, suhu badannya kembali naik dari sebelumnya yang sudah turun.


Mengetahui kondisinya aku langsung memberitahukan kepada ummi, karena ummi telah berpesan untuk memberitahu tentang keadaan dia.


"Ummi, Anindya masih demam," kataku menghampiri ummi di dapur.

__ADS_1


"Sesuai dugaan ummi, ini kamu tolong berikan ke dia ya." Ummi memberikan rantang berisikan nasi yang di lembutkan dengan ikan goreng dan sayur bayam sebagai lauknya, dan setelah itu Ummi memberikan sebotol minuman jus jambu.


"Wih bubur dan jus jambu. Ummi, Alang mau juga," kataku merengek meminta.


"Kamu makan nasi goreng tuh di meja makan, ada juga itu ummi siapkan jus jambu."


“Asik ...." Aku langsung menuju meja makan dan menyantap habis nasi goreng itu.


...


Waktu sudah menunjukkan jam enam lewat dua puluh, aku sudah sampai di rumah wanita tersayang.


"Assalamu'alaikum," kataku sambil mengetok pintu.


Tak beberapa lama, terdengar suara pintu yang akan di buka.


"Waalaikumsalam, eh Alang. Ayo masuk!" seru Ummi dari Anindya.


Dalam perjalanan menuju kamarnya, aku banyak bertanya tentang perkembangan kesehatan Anindya.


Ternyata benar yang di sampaikan Anindya dalam pesan tadi pagi, kalau suhu tubuhnya mulai naik kembali.


Tok, Tok, Tok!


"Pangeran tampan telah tiba!" seruku dari luar kamar.


"Buka aja, Lang!"


Seperti kemarin dia duduk menyenderkan bahunya ke dinding ranjang.


"Udah makan dan minum obat belum?" tanyaku.


Dia menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


"Taraa! Ummi aku bawakan makanan dan jus jambu loh."


"Aduh gak usah repot-repot kenapa."


"Udah jangan banyak cerita, ayo segera makan," ucapku yang langsung menyiapkan makanan itu.


"Cepat buka mulutnya, bilang aaa ...."


Dengan perlahan dia mengunyah makanan yang aku berikan kepadanya.


"Gimana enak kan?" tanyaku.


"Iya enak, mau lagi," ucapnya manja.


Setelah selesai makan, aku langsung memberikan dia obat demam kepadanya.


"Nanti setelah 30 menit, jusnya jangan lupa di minum ya."


Lagi-lagi dia menjawab dengan anggukan tapi sambil tersenyum.


"Kamu sekolah sana, nanti kamu terlambat."


"Iya, tapi ingat loh jangan lupa minum jusnya," kataku tersenyum kepadanya.


"Iya."


"Aku pergi sekolah dulu, assalamu'alaikum." Sebelum pergi aku mencubit hidungnya pelan.


"Ih apaan sih cubit-cubit hidung orang!"


"Biarin, Wuekk!" seruku kepadanya.


Tiba-tiba handphonenya berbunyi, ada seseorang yang menghubunginya.


"Siapa?" tanyaku penasaran.


"Hmm kak Bayu."


"Oh. Angkat lah!"


"Mulai deh cemburunya keluar. Bukannya udah janji gak cemburu lagi?"


"Iya-iya maaf," ujarku lesu.


"Sini kupingnya!"


Seperti janji kemarin yang telah di sepakati, aku harus memberikan kupingku untuk di jewernya.


"Adedede ...."


"Lain kali jangan lagi ulangin!"


"Iya bawel!"


"Apa kamu bilang?!"


"Enggak-enggak."


"Ya sudah sana pergi sekolah, nanti terlambat! serunya kepadaku.


"Siap Big Bos," ucapku kepadanya sambil hormat.


Setelah keluar dari rumahnya, aku melihat ke arah jendela kamarnya.

__ADS_1


'Cepat sembuh ya peri kecil."


__ADS_2