Janjiku Kepadamu Anindya

Janjiku Kepadamu Anindya
Yasinan


__ADS_3

"Besok dirumah Anin mau yasinan selepas magrib, lu ama gua di suruh datang."


"Ah males ah,"


"Eh bang*e, itu Umminya yang minta."


"Iye iye... tapi lu yakin mau ke rumahnya?


"Kalu bukan karena Umminya yang nyuruh, gua mah.."


"Apaan.."


"Ya gua tetap mau lah, hahaha." kataku tertawa


"Bang*e sekali anda ya." jawabnya sambil mendorong badanku.


Irwan merasa lega, karena apa yang dia lakukan hari, bisa membuat aku kembali seperti semula.


______________________________________________


"Wan ayok, cepetan." kataku sambil memakai kopiah.


"Setdah cok, cepet amat perginya. Kan acaranya selepas maghrib."


"Kita datang cepat itu, supaya bisa bantu-bantu." jawabku.


"Ini kan masih jam 5 bujang, kecepatan!" ucap Irwan menunjuk jam dinding.


"Bacot... pokoknya sekarang!"


"Iye iye, setdah. Tunggu bentar." katanya sambil berganti baju.


Aku memang sengaja untuk datang lebih awal ke rumah Anin, karena Umminya meminta. Supaya bisa bantu-bantu untuk menyiapkan segala keperluan.

__ADS_1


Setibanya di rumah Anin, aku langsung memberi tahu dia lewat pesan singkat.


Assalamu'alaikum, nin aku dan irwan sudah di depan rumah.


5 menit kemudian, Anin membalas pesan.


*Anindya ❤


Loh... kok cepet amat sih datang nya, ya udah tunggu*.


Anin pun, langsung membuka pintu dan melihat kami berdua.


"Alang... kok cepat amat datangnya?" kata Anin.


"Biar, bisa bantu-bantu." kataku.


"Ya udah, yuk masuk."


"Di dalam, sudah ada Sandi juga tuh." kata Anin, yang membuat ku sedikit lesu.


Aku dan Irwan langsung masuk kerumah dan membantu menyiapkan semua keperluan sampai acara di mulai. Banyak orang yang datang, sampai tempat kursi tidak cukup untuk menampung mereka. Beberapa dari mereka yang tidak dapat tempat duduk, aku arahkan untuk lesehan di tikar dan ambal yang sebelumnya sudah di sediakan.


Acara pun di mulai dengan khusyuk, semua membaca yasin, berdzikir dan berdo'a. Aku dan Irwan memilih duduk di paling ujung, supaya aku tidak melihat wajahnya si Sandi. Entah kenapa, aku merasakan seperti rasa kesal dan jijik ketika melihat dia. Setelah selesai berdoa, acara selanjutnya adalah mempersilahkan tamu undangan untuk menikmati hidangan yang telah di siapkan oleh tuan rumah. Semua orang berbaris dengan rapi untuk mengantri mengambil makanan, sambil bercanda gurau ala bapak-bapak. Gak cuma Ibu-ibu yang suka menggosip, bapak-bapak pun juga. Hanya bedanya bapak-bapak membahas topik pekerjaan dan hobi masing-masing.


Semua orang menikmati makanan yang telah di hidangkan dengan bersenda gurau, Abi Anin sangat senang, karena acaranya lancar tanpa kendala apapun saat mulai sampai selesai. Setelah semua tamu undangan telah pulang, aku dan Irwan membantu Abi Anin membereskan kursi dan mengambil piring kotor untuk segera di cuci. Saat mengantarkan piring cuci ke halaman belakang rumah Anin, disitu aku melihat sandi dan beberapa orang sedang sibuk mencuci piring sambil bercanda.


"Ha.. itu cocok untuk mu, jadi tukang cuci piring." ucap ku ngebatin.


"Tunggu, tunggu.. kenapa aku sekarang menjadi orang yang seperti ini." ucapku berpikir sambil menggaruk kan kepala meninggalkan Sandi dan yang lainnya yang sibuk mencuci piring sampai bersih.


Setelah menyatukan semua kursi, aku dan Irwan langsung mengumpulkan gelas plastik minuman yang berserakan di halaman. Abi Anin turut ikut membantu membersihkan sampah yang ada di halaman rumah. Akhirnya selesai juga semua nya, Aku dan Irwan langsung pamit untuk pulang, karena sudah jam 10 malam.


"Ummi, Abi.. saya dan Irwan pamit pulang."

__ADS_1


"Terima kasih ya nak, sudah ikut membantu sampai selesai."


"Iya.. Ummi merasa tertolong banget, soalnya tadi banyak sekali undangan yang datang."


"Eh... tunggu-tunggu, jangan pulang dulu!" teriak Anin dari dalam rumah menuju ke luar, membawa bungkusan makanan untuk di bawa pulang.


"Nah.. ni bawa pulang, Alang satu, Irwan satu." kata Anin.


"Wan....?"


"Ha..."


"Lu bungkusan nya aja ya, isinya untuk gua semua." candaku.


"Weh... wehh.. ngajak gelud rupanya, samping gua ini kayu loh. Mau gua pukul?"


Semua orang tertawa, melihat tingkah laku kami berdua. Setelah itu aku dan Irwan langsung menyalami Abi dan Ummi Anin untuk pamit pulang.


Disaat mau memutar motor, aku melihat Sandi mendekati Anin dan mengajak kedalam sambil bercanda di susul Abi dan Ummi nya.


"Udah ah cok, ini sudah tanda nya lu harus mundur alon-alon sambil bawa galon." canda Irwan.


"gembul, ngapain aku mundur sambil bawa galon." ucapku.


"Hahaha, udah ah moveon moveon. Cewek di dunia ini banyak, gak dia doang. Pasti ada yang lebih baik dari dia." katanya mencoba menyemangati.


"Eh, lu tidur di rumah gua aja ya wan. Udah malam soalnya, ngantuk aku."


"Ha.. gilak lu, gua gak bawa pakaian dan perlengkapan sekolah."


"Biar, gua aja yang bawa motor." kata Irwan langsung mengambil alih.


Skip.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, aku langsung memanaskan sebentar lauk yang di berikan Anin, agar tidak basi esoknya. Dan memasuki semua nya kedalam lemari makan.


Setelah itu aku langsung membersihkan diri sebelum tidur, dan menyiapkan keperluan sekolah untuk besok.


__ADS_2