
Aku pun mulai menjelaskan arti makna lukisan yang aku buat ini. Awalnya aku bingung, apa yang harus aku jelaskan kepada mereka. Tapi karena aku melihat wajah Anin tersenyum indah, aku mulai mendapatkan ide yang cemerlang.
Ku jelas kepada semua tentang arti makna lukisan itu. Bahwa lukisan ini menunjukkan seorang wanita biasa yang memiliki wujud seperti bidadari surga dengan segala kesederhanaan nya. Suasana makin meriah dan panas karena mendengar penjelasan ku ini, ku lihat wajah Anin memerah seperti Kepiting rebus. Anin tersenyum malu dan salah tingkah karena sorakan mereka.
______________________________________________
Kerusuhan sedikit terjadi di depan mading pengumuman sekolah, banyak anak-anak berkumpul melihat sesuatu yang yang tertempel di mading itu. Semua pada merasakan takjub karena melihat apa yang di tempelkan di mading itu. Aku pun penasaran, apa sih itu?.
"Minggir-minggir, air panas mau lew...."
seketika aku terkejut, terheran-heran dengan apa yang tertempel di mading itu. Ternyata, lukisan wajah anindya yang aku buat tadi saat mata pelajaran seni budaya. Setdah kenapa ibu Indah menempelkan lukisan ku, mana disitu tertulis nama ku lagi. Dengan perlahan, aku mundur dari kerumunan, agar semua orang tidak menyadari aku sedang ada disana. Tapi semua itu sia-sia, karena ya si kampret rupanya malah manggil nama aku.
"Woy... Lang! Teriaknya dari sisi kanan kerumunan. " Cie ... yang ngelukis wajahnya si Anin." sambungnya.
Karena ulang Irwan lah, semua pandangan mata menuju ke arahku. Disaat itu aku melihat, banyak model tatapan yang mengisyaratkan untuk ku kabulkan. Ada yang memohon untuk di lukiskan, dan ada juga yang seperti kagum akan kemampuan melukis aku. Dan ya benar yang aku duga, beberapa dari mereka, terutama cewek-cewek yang suka menggunakan kemampuan wajahnya untuk merayu seseorang pria agar bisa di kabulkan. Mendekati aku, dan memuji atas hasil karya aku yang kata mereka semua , itu sangat menakjubkan dan keren.
"Lukis aku dong ..." ucap salah satu cewek yang mendekati aku.
"E-eh ... anu, aku gak bisa melukis."
"Ah, bohong kamu mah. Itu coba lihat lukisan itu, ada nama kamu dan kelas nya." ujar mereka.
"A-anu ... kalau mau lukis bisa sih, tapi harus bayar dong." jawabku kepada mereka.
"yah ... gratis dong, kan kita satu sekolahan."
"Yah, kalau gitu aku gak mau. Jasa lukis dengan kualitas bagus gak ada yang gratis mbak, kalau mau gratis mah, minta tolong sama anak SD aja sana." jawab aku dengan meninggalkan mereka semua, untuk langsung pulang kerumah.
Sejak kejadian itu, semua orang mengenal siapa aku, dan apa kemampuan yang aku miliki. Ya namanya manusia ya, ketika ada orang yang mempunyai kemampuan lebih, pasti ada aja tuh orang-orang yang mendekati hanya karena ingin memanfaatkan. Kejadian seperti ini sih sudah aku alami sejak SMP dulu, banyak cewek-cewek mendekati aku hanya karena ingin di lukis secara gratis.
Namun bedanya, dulu ketika aku di dekati cewek-cewek waktu SMP, aku langsung mengiyakan permintaan mereka semua. Waktu itu, aku berharap bisa mendapatkan teman lebih banyak untuk bisa di ajak susah maupun senang. Tapi semua itu hanyalah angan-angan semata dari aku yang masih polos. Dari semua cewek-cewek yang aku lukis wajahnya, hanya beberapa saja yang tetap mendekati, dan menyambut aku menjadi teman. Sisanya ya, hanya ingin di lukis doang. Ketika sudah di lukis, mereka langsung mencuekan aku kembali.
Sesampainya dirumah, aku baru sadar kalau banyak masuk notifikasi whatsapp di handphone. Banyak nomor baru yang ingin berkenalan dengan aku, dan ya ujung-ujungnya minta di lukis secara geratis gitu. Saat menelusuri semua notifikasi, rupanya ada Anin juga.
__ADS_1
"Alang.... lukisan anin yang kamu buat kok di pajang di mading sih?"
"*B*ukan aku yang menempelkan nya, tapi bu Indah, sebelum pelajaran selesai bu Indah meminta lukisan aku, untuk di jadikan bahan referensi. Eh rupanya di tempelkan di mading."
"*Yahh ... gara-gara itu, aku jadi pusat perhatian juga tau. (ಥ ͜ʖಥ)
padahal anin ingin meminta lukisan itu, untuk di pajang di kamar 🥺."
"Ya maap, iya nanti aku buatkan lagi lukisan itu untukmu."
"Janji ya buatkan lagi 🥺."
"Iya*."
Ku rebahkan badan ini ke dalam empuknya kasur, tak kusangka hari ini menjadi awal mula aku di kenal seluruh anak-anak karena kemampuan aku dalam melukis. Apalagi di kelas tadi, bisa melihat senyuman Anin itu kembali, yang membuat aku senyum-senyum sendiri.
Tok-Tok!!
"Alang ... kamu sudah makan apa belum, Nak?" tanya Umi dari luar kamar.
"Ayo makan dulu, Umi udah masakin makanan kesukaan kamu."
"Iya Umi." jawabku yang langsung berdiri untuk mengganti pakaian dan langsung menuju meja makan.
Ketika menuju meja makan, aku melihat mala di ruang tamu yang sedang asik menonton acara kartun kesukaannya, sampai lupa kalau dia belum makan, dan ada bang Satria juga yang sedang selonjoran di sofa sambil chatingan dengan seseorang yang dia suka.
"Orang gilak, senyum-senyum sendiri." gumamku menuju meja makan.
Ternyata Ummi memasak gulai jengkol yang di tambah telur rebus, serta ikan asin goreng dan lalapan. Melihat itu semua, mendadak air liur ku menetes sedikit, karena melihat makanan yang sangat nikmat itu.
"Wah ... bisa nambah berkali-kali ini." gumamku langsung mengambil nasi dengan banyak, dan memakan masakan Ummi dengan lahap.
Dari kejauhan Ummi melihat aku yang makan dengan lahapnya,tersimpul lah sebuah senyuman bahagia dari Ummi, karena melihat anaknya sangat menikmati masakan yang telah dia buat hari ini. Apapun masakan yang telah Ummi buat, aku selalu melahap dengan habis dan selalu berkata kepadanya, bahwa makanan Ummi itu enak sekali.
__ADS_1
Walau masakannya terkadang sedikit asin ataupun hanya makan dengan lauk Tahu goreng dan sedikit garam, ketika dulu ekonomi keluarga ini belum stabil. Sungguh tidak tega hati ini ketika berkata makanan itu tidak enak, karena aku tahu makanan yang telah Ummi buat itu terselip dengan berkah dan cinta untuk anaknya. Ketika ekonomi lagi tidak stabil, Abi selalu menasehati aku dan bang Satria untuk selalu memuji semua makanan yang telah Ummi buat, walaupun itu hanya tahu goreng saja. Karena didikan itulah, sampai hari ini aku selalu makan dengan lahap semua masakan yang telah di buat Ummi.
Pernah ketika itu, disaat kami semua makan bersama dengan hanya lauk tahu goreng di tambah garam. Dari kejauhan aku melihat Ummi meneteskan air mata kesedihan nya, karena tidak bisa memberikan masakan yang enak untuk suami dan anak-anaknya. Seketika hati ini langsung hancur, dikala melihat Ummi menangis. Aku pun membisikan kepada Abi dan bang Satria bahwa Ummi sedang menangis di dapur, aku pun memberikan ide kepada Abi dan bang Satria untuk makan dengan lahap dan bilang kepada Ummi, bahwa makanan yang telah dia sediakan itu sangat enak sekali.
"Ummi ... makanan Ummi enak sekali hari ini!" teriak aku dari meja makan.
"Iya itu Ummi, tahu yang Ummi buat enak sekali. Lihat aku sampai nambah dua kali loh." sahut bang Satria.
"Lihat Ummi, anak-anak mu sangat menyukai masakan mu hari ini. Besok masak makanan yang enak seperti ini lagi ya? Abi sangat suka juga nih." ujar Abi membantu menyenangkan Ummi.
Ketika mendengar itu, wajah Ummi langsung tersenyum sambil menyeka air mata yang jatuh di pipinya yang indah itu. Tanpa di ketahui Ummi. Abi, aku dan bang Satria menahan tangis di meja makan, karena kami bertiga sangat mencintai Ummi, dan tidak tega jika melihat dia bersedih.
Tanpa ku sadari air mata ini mengalir dengan sendirinya dari pelupuk mata ini karena mengingat kembali itu semua. Dari kejauhan Ummi menyadari itu dan langsung mendekati aku. Untuk memastikan aku tidak kenapa-kenapa.
"Nak, kamu kenapa menangis?" Mengelus kepala ku dengan kasih sayang.
"E-eh, enggak kok mi, alang gak nangis kok." jawabku sambil mengelap air mata ini.
"Tuh kan, kalau gak menangis kenapa itu mengelap air matanya?"
"Anu Ummi ... ini aku tadi kelilipan." jawabku berbohong, karena aku tidak ingin membuat Ummi khawatir.
"Ya udah, sini sini biar Ummi tiup matanya." Ummi langsung menarik lembut wajah aku, dan langsung meniupkan mata ini yang Ummi kira sedang kelilipan.
"Dah, udah Ummi tiup. Udah enakan kan sekarang?"
"Udah Ummi, makasih ya Ummi."
"Iya, Nak." Ummi langsung menuju ruang tamu, untuk menemani Mala yang sedang menonton kartun sambil menyuapi makanan untuk Mala.
Setelah selesai makan, aku langsung membereskan dan mencuci piring yang kotor sampai bersih. ketika sedang asik mencuci, ada whatsapp masuk dari Anin.
*Anindya ❤
__ADS_1
"Alang... kamu kemarin jutek dan cuek sama anin, apa karena cemburu*?