Janjiku Kepadamu Anindya

Janjiku Kepadamu Anindya
Kalahnya si Beruang


__ADS_3

Bukan lautan hanya kolam susu


Ikan ****** sukanya malu-malu


Ada anak cowok sedang cemburu


Lihat gebetan sama cowok minta ini itu.


~Gilang Sanjaya~


...


Jam 06:50


Telah sampai diri ini ke sekolah dengan wajah cemas takut terlambat, menatap nanar ke arah satpam dan guru yang menjaga pintu gerbang sekolah. Waktu tersisa tinggal lima menit lagi untuk gerbang sekolah ditutup. Seperti itulah aturan sekolah ini, lima menit sebelum pukul 7 gerbang harus segera ditutup. Jika ada yang telat maka akan disuruh balik kanan langkah berjalan pulang ke rumah.


Setelah memarkirkan motor, aku buru-buru berlari ke kelas agar tidak terlambat. Karena hari ini yang mengajar adalah guru killer di mata siswa-siswi, gimana gak killer coba, tidak fokus dalam mendengarkan penjelasan darinya saja bakalan disuruh keluar kelas.


"Cepetan, Lang! Dua menit lagi guru itu masuk!" seru salah satu temen.


"Jidat lu lebar! Masih enam menit lagi ini," kataku terengah-engah ketika bernapas.


"Aku cowok atau cewek?" tanya dia.


"Cewek."


"Udah tahukan cewek akan menjadi orang-tua, dan lu pasti tahu bagaimana orang-tua bangunin anaknya."


"Eh iya ya, bilangnya sudah jam setengah tujuh. Tapi ketika bangun dan lihat masih jam enam," ucapku mengingat itu.


"Jadi gak salah dong?" tanyanya.


"Salah!" seruku.


"Kok salah?!"


"Karena cewek selalu salah," ucapku sambil tertawa.


"Cowok itu salah!"


"Cewek!"


"Cowok!"


Kami berdua saling berbalas menyalahkan sampai tidak sadar kalau guru itu sudah berada di depan pintu kelas.


"Kalian berdua yang salah!" seru Pak Guru itu yang membuat aku dan teman langsung kaget.


"Eh, Bapak. Selamat pagi, Pak!" seru kami berdua sambil menundukkan kepala.


Ketika pelajaran berlangsung tidak ada yang berani untuk bersuara sedikitpun, suasana di kelas seketika hening seperti hati jomblo yang sudah bertahun-tahun tidak mendapatkan cinta.


Murid di dalam kelas hanya bersuara ketika ditanya apakah mengerti atau tidaknya. Kami semua hanya menjawab mengerti tanpa bertanya lagi, karena hawa diskriminasi dari Bapak itu sangatlah kuat. Sehingga secara tidak langsung membuat semua murid tidak berani bertanya kepadanya.


Semua pasti sangat setuju kalau belajar dengan guru killer akan terasa sangat lama waktunya, namun ketika belajar dengan guru yang seru dan asik pastinya terasa cepat sekali waktu berlangsung.


...


Setelah jam pelajaran dari guru itu telah selesai, terlihat raut wajah kami semua lega seperti habis bertahan dari gejolak perang.


Dewi menghampiriku dan bertanya, "Kamu kemarin kenapa gak masuk, Lang?"

__ADS_1


"Duh sotong, kalau aku bilang karena Anindya pasti bakalan dia tertawa.'


"Gilang!"


"Eh itu anu, aku kemarin ijin ngerawat orang sakit."


"Siapa? Keluarga atau jangan-jangan ...." Raut wajah Dewi—Wakil Ketua Kelas—berubah seperti ingin mengejek.


"Guru sudah datang!" seru salah satu murid ketika melihat keluar jendela kelas.


"Habis ini lu harus ngomong kabar Anindya ke gua!" Dewi memberikan isyarat dengan dua jari mengarah ke matanya dan mataku, kalau dia akan terus meminta jawaban itu.


Akhirnya jam istirahat telah tiba menghampiri tiga indra manusia, mendengar, penciuman dan indra pengecap yang di milik oleh semua manusia. Mendengar suara bel istirahat, mencium bau sedap dari bekal makanan dan merasakannya.


"Hai guys, pangeran tampan dan pemberani telah datang!" seru Irwan saat masuk kelas.


Kami semua hanya geleng-geleng melihat sikap dia yang seperti tidak ada rasa malu, padahal malu-maluin. Tapi itu hanya sesaat saja rasa heran itu menghampiri kami, karena Irwan membawa sesuatu yang sangat di inginkan siswa-siswi ketika makan.


"Gorengan!" seru semua murid menyerbu Irwan untuk meminta gorengan. Layaknya anak burung berebutan makanan dari induknya.


"Sabar woi sabar! Semua dapat jatah woi!"


"Duduk di tempat masing-masing dengan bekal makanan kalian, satu orang dapat dua." Irwan berputar menghampiri satu-persatu dan memberikan gorengan itu.


Setelah semuanya kebagian jatah, kami langsung menyantap makanan itu dengan lahap. Namun ada beberapa dari kami yang saling memberi dan meminta.


"Kemarin lu kenapa gak masuk, Lang?" tanya Irwan kepadaku.


"Anindya sakit."


"Serius?! Lu kenapa gak beritahukan kepada gua sih!"


"Sekarang sudah tahukan," ucapku santai sambil minum.


"Weh santai dong, emang kalau kemarin diberitahu, lu mau ngapain?" tanyaku pura-pura penasaran.


"Pakai nanya lagi, ya gua mau jenguk dia lah."


"Woi habis pulang sekolah kita ke rumah Anindya, jangan lupa sumbangan untuk beli buah dan makanan untuk dia, kalau kalian punya uang lebih."


"Santuy, Wan!" seru semuanya.


"Cakep." ucap Irwan memberikan jempol kepada semua.


...


Kami semua berkumpul di bawah pohon dekat lapangan setelah pulang sekolah, memberikan sumbangan seikhlasnya untuk keperluan membeli buah dan makanan untuk Anindya.


"Semuanya terkumpul 200 ribu, kita beli apa aja nih?" tanya Dewi yang menjadi bendahara dadakan.


"KFC aja," ucap salah satu dari kami.


"Kepala lu petak! Orang sakit di beri ayam goreng tepung. Bukannya sembuh malah nambah penyakit," cetus Dewi tanda tidak setuju.


"Udah deh beli buah, roti tawar sama susu." Aku memberikan ide yang biasa-biasa aja.


"Jangan lupa beli minuman isotonik untuk dia, karena pasti dia kekurangan cairan tubuh," anjur Irwan kepada Dewi.


"Oke kalau gitu kita beli. Lu ikut gua, Lang," ajak Dewi untuk menemani berbelanja.


"Kok gua sih, Wi. Yang lain aja."

__ADS_1


"Pokoknya wajib lu!"


"Astaga, Wi. Iya-iya gua ikut."


"Nah gitu dong," ujarnya.


Tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang bertanya, "Siapa yang sakit, Dek?"


"Anindya, Kak," ucap salah satu dari kami.


Sontak sudut pandanganku mengarah ke sumber suara yang sangat tidak asing itu, ternyata yang bertanya adalah Bima.


'Sumber masalah datang lagi!' gumamku ketika menatap dia.


"Ikut dong! Nih saya berikan sumbangan juga," ujarnya memberikan uang dua puluh ribu.


"Oke, Kak!"


Setelah itu aku dan Dewi ke supermarket dan sisanya duluan ke rumah Anindya. Sebelum berpisah, aku berpesan dengan Irwan untuk menjaga Anindya dari Beruang—Bima—satu itu.


...


Sesampainya di supermarket, aku dan Dewi langsung menuju etalase buah jeruk dan apel, setelah itu mengambil roti tawar dan susu kaleng.


"Uangnya masih sisa banyak nih, Lang," ucap Dewi.


"Hmm gua tahu harus beli apa."


"Apa?"


"Jajanan aja, karena seperti yang kita ketahui ketika menjenguk teman sakit. Pasti teman jenguk yang makan buah dan roti itu." jelasku kepadanya.


"Iya juga, ya udah kita beli itu aja sisanya sama minuman dingin."


Semua barang telah selesai dibeli, kami berdua langsung menuju ke rumah Anindya.


...


Sesampainya di sana, sudah banyak teman-teman yang nongkrong di ruang tamu sambil makan kue dan minum-minuman dingin.


"Assalamu'alaikum, makanan telah tiba!" seruku dan Dewi.


"Weh banyak banget makanan yang kalian beli," kata salah satu dari mereka.


"Udah ni untuk kalian." Aku dan Dewi memberikan jajanan dan minuman dingin kepada mereka.


"Dah ni ya sajennya, aku sama Dewi mau ke kamar Anindya," ujarku ke mereka.


Mereka hanya membalas dengan anggukan saja, karena langsung menyerbu jajanan dan minuman dingin itu.


Ternyata di kamar Anindya sudah ada Irwan, Tasya, Ummi Anindya dan si Beruang alias Bima. Irwan dan si Beruang berdiri sedikit jauh dari Anindya, dan Tasya beserta Orang tua Anindya duduk di ranjang itu.


"Hei, Per Kecil. Sudah makan belum?" tanyaku kepada Anindya.


"Sudah, Lang." Terlihat wajahnya sudah mulai membaik, senyuman itu kembali mengukir paras cantiknya.


"Nih teman-teman beli buah, kamu mau yang mana? Jeruk atau apel?" tanyaku lagi.


"Mau apel mau apel." Wajah sangat ceria ketika berkata.


"Ya udah bentar gua bersihkan dulu dan potongan-potong jadi kecil."

__ADS_1


Hari ini aku sangat senang bisa menunjukkan kepada si Beruang kalau Anindya itu milikku dan dia gak berhak mengambilnya. Wajah si Beruang terlihat masam ketika melihat aku menyuapi Anindya sambil bercanda.


'Rasakan itu Beruang, jangan coba-coba lagi ganggu hubungan ini," gumamku ketus ke arah dia.


__ADS_2