
BAKSO mang Ujang memang terbaik di sekitaran daerah ini, tidak ada yang bisa mengalahkan rasa gurih dan nikmatnya bumbu yang di ciptakan kedua tangan ajaibnya.
"Mang, 3 porsi seperti biasa," kataku menepuk pelan pundaknya.
"Dua porsi biasa, satunya porsi bakso telur dan urat kan?" tanya Mang Ujang memastikan.
"Cakep," ucapku memberikan kedua jempol ke padanya.
Seperti biasa kalau makan di luar, Anin selalu memastikan mejanya bersih dari kotoran dan debu. Dia mengambil banyak tisu untuk mengelap meja itu sampai bersih. Aku heran kenapa dia melakukan segitunya.
"Kamu bersihinnya sampai sebegitunya sih, Beb?" tanyaku padanya.
"Aku gak mau kejadian dulu terulang."
"Kejadian? Kejadian apaan?" tanyaku lagi.
"Dulu itu waktu Anin masih SMP, ada acara yang Anin tunggu-tunggu. Udah rapi, udah bersih dan udah wangi, karena acaranya belum mulia ya Anin pergi makan dulu. Nah apesnya lengan baju jadi kotor karena mejanya gak bersih, jadinya gagal deh ikut acaranya. Padahal itu baju udah di siapkan lama," ucapnya dengan wajah cemberut.
'Duh Gusti, imutnya ciptaanmu," ucapku di dalam hati.
Sedang asiknya cerita, Mang Ujang telah datang membawa 3 porsi bakso, dia berkata, "Mau minum apa, Dek?"
"Es teh Mang, kamu mau minum apa, Beb?"
"Samaan aja."
"Nah samaan aja, Mang," ucapku.
Ketika bulir-bulir cinta menghampiri kita dan melihat sang pujaan di hadapan. Walau bagaimanapun dia lakukan, tetap di hati ini merasa dia itu cantik, imut, dan lucu. Sampai aku lupa untuk menyantap hidangan bakso ini karena sibuk memperhatikan wajahnya, dengan tangan yang menyanggah kepala dan senyuman terukir, aku memandanginya.
"Alang ngapain lihatin Anin sebegitunya?" tanya dia heran melihat tingkah laku aku.
"Hmm lagi memperhatikan bidadari lagi makan," ucapku tersenyum.
"Ih gombal terus, makan sana!"
"Iya-iya tuan putri."
Selang beberapa lama kita makan, ada notifikasi pesan WA masuk di HP Anin.
"Ada yang WA tuh," ucapku mengingatkan sambil fokus makan.
Dia langsung mengecek pesan itu dari siapa.
'Ha? Dari kak Bima?'
"Dari siapa, Nin?" tanyaku.
"Oh ini, cuma temen kok." jawabnya mengalihkan kenyataan.
"Dah yuk lanjut makan."
Setelah selesai makan, aku mengajak dia ke tempat permainan di salah satu mall terbesar. Aku ingin membuat dia bahagia hari ini, sampai dimana di hati kecilnya mulai terukir namaku.
"Kita mau kemana?" tanya dia.
__ADS_1
"Kepoo," ucapku tersenyum.
"Ih awas aja kalau macem-macem, Anin jewer itu kuping sampai lepas."
"Weh siapa takut?"
"Hmm mulai berani dianya ya," ucapnya memainkan jarinya di dekat kupingku.
"Ampun-ampun, Beb," ucapku merinding, karena jeweran dia itu bisa langsung membuat siapapun tersadar dari kesalahannya.
Sesampainya di sana aku langsung mengajaknya ke tempat permainan, membeli kartu saldo dan minuman serta makanan ringan.
"Tuan Putri, silahkan mau memilih permainan apa." Aku bersujud kepadanya sambil memberikan kartu berisikan saldo seratus ribu.
"Malu ih, cepat berdiri, Alang. Lihat banyak yang lihatin kita nih," ucapnya menarik badanku.
"Biarin, biar semua tahu aku sangat mencintaimu." Aku tertawa kecil melihat wajah paniknya.
"Jewer nih!"
"Siap, Bos."
Permainan pertama yang kita pilih adalah boneka capit, itu loh permainan yang sangat di sukai oleh anak-anak dan para wanita. Karena isinya boneka-boneka lucu dan imut.
"Bismillah, semoga dapat," ucap Anin mulai memainkannya.
Capit itu mulai turun dan menarik kepala boneka beruang dengan perlahan, namun ternyata gagal.
"Yahh gagal," katanya cemberut.
"Sini-sini biar aku coba," ucapku.
Catatan : Ketahuilah bahwasanya mesin capit itu menggunakan sistem perbandingan, setiap mesin biasanya mempunyai sistem 1:100, yang berarti untuk mendapatkan barang di dalam mesin itu kita harus memainkannya sampai 100x.
Mulanya boneka itu terangkat secara pelan, Anin di belakang terus berkata, "Sedikit lagi, sedikit lagi, ayo terus naik."
Sang keberuntungan ternyata menghampiri aku kali ini di waktu yang tepat, boneka itu berhasil terambil dari tempatnya berada. Anin teriak kegirangan karena melihat aku berhasil mendapatkannya, hampir saja dia memeluk aku karena terbawa emosi.
"Nih bonekanya." Aku memberikan kepadanya sambil tersenyum.
"Maaci," ucapnya manja dengan menempelkan boneka itu di wajahnya.
"Yuk kita ke permainan selanjutnya," kataku mengajaknya.
Terlihat wajahnya sangat bahagia ketika berada disini, tidak sia-sia aku mengajaknya. Tanpa sepengetahuan dia, aku memfoto dirinya dengan berbagai macam ekspresi untuk aku jadikan pajangan indah menghiasi kamarku.
"Kita main yang dapat tiketnya yuk," ajaknya menarik tanganku ke arah mesin yang menghasilkan tiket.
Kesempatan pertama Anin hanya mendapatkan 20 tiket, kesempatan kedua aku mendapatkan 100 tiket. Kami melakukannya sampai 20x karena sangking asiknya berburu hadiah jackpot sebesar 1000 tiket.
"Alang, Alang, coba lihat deh tiket yang sudah kita dapatkan. Banyak banget," ucapnya senang.
"Nanti kita tukar aja setelah saldo kartu ini habis."
"Sisanya tinggal berapa?" tanya dia.
__ADS_1
"Tiga puluh ribu nih," jawabku.
"Hmm main apalagi ya?" Dia melihat-lihat seluruh mesin permainan dengan pipi yang di kembungkan.
Aku menarik tangannya menuju mesin dance simulator. "Bagaimana kita bermain ini aja?" tanya aku kepadanya.
"Boleh, yuk."
Awalnya kami berdua sama-sama malu untuk berjoget, namun rasa malu itu hilang ketika memasuki lagu ke tiga. Tiba-tiba aku mempunyai ide challenge dengan permainan mesin ini.
"Bagaimana kalau kita buat challenge."
"Challenge apa?" tanyanya.
"Siapa yang menang sampai 3x, maka dia boleh meminta apapun kepada yang kalah."
"Ayo siapa takut," ucapnya menerima tantangan ini.
Persaingan terlihat sengit di antara kami berdua sampai beberapa pandangan mengarah ke kami.
Akhirnya tantangan ini di menangkan olehku dengan nilai 3-2. "Aku menang, aku menang," ucapku tertawa kegirangan.
"Aduh pegal kaki, Anin." Dia duduk di pinggir mesin dan meluruskan kakinya.
"Sini aku urut," ucapku langsung mengurut kakinya.
"Kamu mau minta apa sama, Anin?" tanya dia.
"Ada deh." Aku tersenyum kepadanya dan tetap fokus memijat kakinya sampai hilang pegalnya.
Setelah 5 menit kemudian dia berkata, "Udah hilang pegalnya, yuk kita tukar tiketnya."
"Ayok."
Sesampainya di konter permainan, aku langsung menyerahkan seluruh tiket yang di dapat. Pegawai perempuan itu langsung memasukinya ke dalam mesin penghitung. Di hati kami berdua berharap jumlahnya sampai seribu tiket, agar bisa banyak dapat hadiah.
Total : 980
"Yahh, dikit lagi tembus seribu," ucap kami serempak.
"Mbak, itu bisa dapat apa aja?" tanya Anin.
"Kalian bisa melihat di setiap barang ada jumlah tiketnya, pilih lah sesuai keinginan kalian, Kak," ucap pegawai dengan senyuman ramah.
"Hmm pilih apa ya, Lang?" tanya dia.
"Apa aja yang kamu mau, itu bisa tuh dapat boneka lagi," ucapku.
"Boneka udah dapat, hmm apa ya?" Dia terus berpikir dan mencari yang paling bagus. "Nah bagaimana kalau topi boneka itu aja, kan jumlah tiketnya 450, nah kita bisa ambil 2. Satu untuk Anin, dan satu lagi untuk Alang."
"Boleh juga tuh, sisanya kita ambil jajanan aja."
"Mbak, saya ambil 2 topi boneka itu, satunya kelinci dan satunya lagi, kamu mau apa, Lang?" tanyanya.
"Hmm aku yang harimau aja," jawabku.
__ADS_1
"Kelinci sama harimau mbak." Dia menunjuk dengan senyuman yang manis.
Hadiah yang di dapatkan berupa 2 topi karakter hewan, dan beberapa jajanan cokelat dan permen. Topi itu langsung kami pakai dan berfoto selfie untuk di jadikan kenang-kenangan. Tiba-tiba ada notifikasi pesan di HP Anin. Dan dia sedikit menjauh dariku untuk membalas pesan itu.