Janjiku Kepadamu Anindya

Janjiku Kepadamu Anindya
Nostalgia


__ADS_3

Namanya belum terikat hubungan yang lebih di dalam ke jenjang pernikahan, mau gak mau aku harus menahan rasa cemburu tanpa bisa mengatur hak dari kehidupan dia. Dari jauh aku merasa curiga melihat dia membalas pesan itu, apakah aku harus menanyakan kepadanya.


'Lebih baik aku tidak perlu mencari tahu.'


Aku memutuskan untuk duduk santuy dengan posisi tangan menumpu kepala yang aku tempelkan di pagar pendek di dekat wahana permainan anak-anak, lumayan menghilangkan penat dan rasa cemburu ini. Melihat tingkah lucu anak-anak yang berlarian di wahana mandi bola, ada yang melompat ke dalam kolam penuh bola plastik warna warni, ada yang memanjat jaring-jaring yang tergantung namun tidak tinggi. Bahkan ada yang asik bermain permainan tradisional seperti ABC lima dasar, congklak, ular naga dan cublak-cublak suweng.


Permainan tradisional ini tidak kalah dengan permainan modern, karena mereka juga mempunyai sistem untuk bermain dan menilai. Seperti ABC lima dasar ini, dimana permainan ini bisa di mainkan minimal 2 orang. Mereka biasanya akan menentukan terlebih dahulu tema apa yang akan di gunakan, biasanya bertema binatang, tokoh kartun bahkan sampai makanan dan minuman. Semua peserta akan menyumbang jari-jari mereka dengan bebas bisa 1-10 jari, terus sang pemimpin akan menghitung dari jari pertama sampai terakhir, tapi menghitung bukan dengan angka, melainkan menggunakan alfabet. Jika mendapatkan suatu huruf seperti K, maka semua peserta akan di tanya satu-satu oleh pemimpin. Jika benar maka dia akan mendapatkan poin 100, namun adakalanya permainan ini menggunakan tabel-tabel pada kertas jika mereka menginginkan. Permainan ABC lima dasar ini sangat-sangat lah bagus untuk menambah wawasan dalam ilmu pengetahuan. Aku selalu menang ketika melakukan permainan ini, menanggung kekalahan dan hukuman lebih tepatnya.


'Pernah sekali aku ribut sama temen karena jawaban kami sama, namun tidak mau berbagi nilai.' Aku mengingat kejadian-kejadian lampau dengan senyum-senyum sendiri.


Permainan selanjutnya adalah Congklak yang merupakan permainan sangat-sangat susah bagiku, karena kita harus menggunakan strategi serta perhitungan cermat agar bisa menang. Permainan ini membutuhkan alat seperti wadah berbentuk lonjong pipih yang biasanya terbuat dari kayu maupun plastik yang memiliki lubang-lubang berjumlah 12, lubang-lubang itu biasanya di isi dengan kecik yang berbentuk rumah kerang, namun bisa juga di ganti berupa kerikil, batu kecil, biji sawo bahkan sampai biji-bijian. Permainan ini sebenarnya bukan berasal dari Indonesia, namun berasal dari pedagang Arab yang datang ke Indonesia, ada juga yang mengatakan dari bangsa mesir dan sudah ada sejak 15 abad sebelum masehi.


Cara bermainnya yaitu seorang pemain akan mengambil kecik dari salah satu lubang, setelah itu membagikannya pada setiap-setiap lubang satu persatu kecuali lubang—tabungan—milik lawan. Kecik terakhir yang jatuh pada lubang yang memiliki isi harus dipungut kembali dan disebarkan satu per satu lagi. Jika jatuh pada lubang kosong maka kecik yang berada di lubang yang berada di sisi berlawanan akan menjadi milik pemain tersebut. Itulah mengapa aku selalu kalah dalam permainan ini, karena terkadang aku salah memasuki kecik.


Selanjutnya ular naga sebuah permainan tradisional ini dimainkan dengan jumlah anak yang cukup banyak, setidaknya lebih dari tujuh. Dua anak akan menyatukan tangan di atas kepala seperti membuat terowongan pendek dan sisanya berbaris memanjang sambil bernyanyi hingga lagu selesai, mereka juga harus keluar masuk terowongan dengan berjalan perlahan. Biasanya 2 anak yang menyatukan tangannya menjadi terowongan memiliki tubuh lebih tinggi dari yang lain.


Permainan ini memiliki lagunya kurang lebih seperti ini “Ular naga panjangnya, bukan kepalang. Menjalar-jalar selalu riang kemari. Umpan yang lezat itulah yang dicari. Ini dianya yang terbelakang.” Saat lagu selesai dan berhenti pada salah satu anak, maka dia akan diajak menjauh dan memilih harus mengikuti salah satu anak yang membuat terowongan.


Nantinya yang memiliki pengikut terbanyak akan menjadi ayam dan induk sedangkan yang memiliki pengikut sedikit akan menjadi serigala. Tugas serigala adalah menangkap anak induk ayam dan dijadikan pengikutnya. Tugas induk ayam adalah melindungi anak–anaknya dengan merentangkan tangan, Sederhana bukan? Namun di setiap permainan akan membuat anak terjatuh karena berlari-lari, tetapi permainan ini melatih anak untuk bertanggung jawab dan bersosialisasi, sangat seru bukan.


Dan permainan terakhir yang aku lihat adalah cublak-cublak suweng, menarik bukan nama permainannya. Merupakan sebuah permainan tradisional yang berasal dari Jawa Tengah. Satu pemain harus berjongkok di tanah membentuk meja dan yang lainnya meletakkan tangan mereka di atas punggung pemain yang berjongkok. Lalu mereka bernyanyi bersama sambil memindahkan benda atau kecik yang nantinya harus disembunyikan di salah satu pemain dan anak yang jongkok harus menebak siapa yang menyembunyikan.

__ADS_1


Sama seperti permainan ular naga, cublak-cublak suweng juga memiliki lagunya untuk di mainkan. Lagunya kurang lebih seperti ini “Cublak–cublak suweng, suwenge teng gelenter. Mambu ketundung gudel. Pak dempo wela welo. Sopo ngguyu ndhelekake. Sir–sirpong dhele kopong! Sir–sirpong dhele kopong."


Pada bagian kata sir dalam lagu itulah saatnya kecik mulai disembunyikan. Jika berhasil menebak, maka yang menyembunyikan harus menggantikan posisi anak yang jongkok tersebut. Permainan ini sangat-sangat sederhana, namun akan memberikan kebahagiaan yang sangat berarti.


Ketika sedang asik bernostalgia masa-masa kecil melihat anak-anak bermain, Anindya menghampiri aku lalu berkata, "Yuk kita pulang."


"Sudah selesai balas pesannya?" Pandanganku tetap terfokus melihat anak-anak bermain.


"Udah kok, kamu lagi lihatin apa?"


"Tuh lagi lihatin anak-anak lagi bermain, jadi nostalgia mengenang masa kecil dulu."


"Iya-ya, jadi bernostalgia ketika waktu kecil dulu. Itu tuh lihat ada anak yang tertangkap oleh anak yang jadi serigala." Dia menunjuk ke anak yang tertangkap.


"Anu itu, sama temen kok," jawabnya sedikit terbata.


"Lang?"


"Apa?"


"Tungguin Anin sebentar ya."

__ADS_1


"Mau kemana emangnya?"


"Mau ke kamar mandi nih."


"Iya-iya, sana cepetan. lima menit selesai."


"Mau kena jewer! Udah nih Anin nitip tas dan HP." Dengan menyodorkan barang-barangnya, lalu berlari kecil menuju kamar mandi.


Aku meletakkan barang-barangnya di pangkuan supaya aman, beda ya rasanya menjaga barang milik orang yang di sayang. Seperti ada manis-manisnya gitu, eh maksudnya ada rasa nyaman gitu. Apa itu cuma perasaan aku saja ya, ah entahlah.


Tiba-tiba ada notifikasi pesan masuk di HPnya Anin, entah mengapa aku lagi langsung kepo dan melihat dari siapa pesan itu.


'Kak Bima?'


Bukannya dia yang kakak kelas sekaligus anggota OSIS itu yang tadi mau ikut nimbrung makan bakso? Ada rasa cemburu dan marah yang timbul di hati ketika melihat siapa pemilik pesan itu. Aku iseng mencoba membuka kunci HPnya dan berhasil, karena Anindya tidak menggunakan fitur kunci seperti pola dan temen-temennya, cukup di geser dan langsung terbuka.


Hati ini hancur dan rasanya seperti di remas-remas dengan perlahan ketika melihat isi pesan itu, kak Bima mengajak dia untuk membantu kegiatan OSIS menjadi pembawa lagu sholawatan di acara maulid nabi yang sebentar lagi akan tiba. Awalnya Anin ragu menerima permintaan itu, namun cowok itu memohon dengan tulus serta kalau dia mau nanti akan di traktir makan bakso sepuasnya. Anin menyetujui permintaan itu karena pertama itu adalah acara sekolah, dan kedua merasa kasihan dengan dia yang memohon-mohon untuk menerima.


Yang membuat aku merasakan cemburu yang teramat sangat, ketika Bima mengatakan nanti makannya berdua aja karena itu janji dari dia pribadi bukan dari OSIS dan Anin menerimanya. Aku menghapus pesan terakhir yang aku baca itu berupa emoticon senyuman dan 3 hati


"Nambah saingan lagi nih." Aku menghela napas panjang untuk menenangkan hati yang panas ini.

__ADS_1


Tidak beberapa lama Anindya sudah kembali dari aktifitasnya di kamar mandi. "Yuk kita pulang."


__ADS_2