Janjiku Kepadamu Anindya

Janjiku Kepadamu Anindya
Binatang Kecil tapi Menyebalkan


__ADS_3

KENAPA sih cewek itu selalu nyebelin, kita nyari dia, eh dianya gak ada, giliran kita gak nyari, dianya nyariin. Apakah ini sebuah misteri yang tak terpecahkan? Misteri rahasia wanita yang sering membuat pria kebingungan setengah mati. Iya bisa di kata tidak, dan tidak bisa di kata iya.


'Emangnya cowok itu dukun,' gumamku berpikir.


"Ah aku coba telepon lagi deh, telepon terus menerus. Biar gak di bilang cowok gak peka." ucapku mengambil HP yang aku letakan sebelumnya di meja lampu tidur.


Satu kali, dua kali, tiga kali, sampai sepuluh kali aku mencoba menelpon dia. Dan akhirnya panggilan ini di jawabnya setelah sebelas kali percobaan.


"Assalamu'alaikum, ada apa, Alang?" ucapnya di sana sambil mengeringkan rambut.


"Wa'alaikumsalam, kok lama angkat panggilannya?"


"Haduh maaf, tadi Anin lagi mandi dan nyuci baju."


"Astaga naga, kirain kemana gitu."


"Kemana?" ucapnya.


"Anu, kemana ya. Auh ah gelap."


"Kok gelap, kan masih sore. Belum malam?"


"Hadeh ... eh besok pulang sekolah kita makan yuk."


"Bakso 2 porsi," ucapnya mendengar ajakan makan dariku.


"Astaghfirullah, udah langsung pesan aja dianya."


"Hahaha, kan kamu ajak Anin makan. Ya udin langsung pesan aja."


"Udah bukan udin, iya-iya besok makan bakso 2 porsi."


"Kok 2 porsi sih, tiga porsi dong. Dua untuk Anin, satunya untuk kamu, Alang."


"Eh iya aku lupa hahaha."


"Alang, Anin mau bantu ummi masak dulu ya."


"Iya, masak yang enak ya, Sayang."

__ADS_1


"Huuu ... gombal, udah yah. Assalamu'alaikum."


"Hahaha, wa'alaikumsalam."


Setelah itu aku pergi mandi sambil melakukan ritual yang semua manusia pasti lakukan ketika mandi, ritual yang membuat orang menikmati suasana di kamar mandi. Apalagi kalau bukan nyanyi-nyanyi lagu yang di ketahui, sambil berjoget-joget di kamar mandi. Ada satu hal lagi yang membuat aku kebingungan, kenapa ketika kita bernyanyi di kamar mandi, suara yang di hasilkan menjadi sangat bagus.


'Hmm ... apakah ini akan menjadi misteri tak terpecahkan,' ucapku berpikir dengan jari telunjuk menempel di dagu.


Setelah selesai mandi, aku langsung ke kamar untuk memakai baju. Tiba-tiba pandangan mataku ke arah seekor binatang yang paling di benci kaum wanita dan beberapa pria. Dialah kecoa, binatang yang menyebalkan.


"Perasaan sudah sering ini kamar di bersihkan dan menyemprotkan obat anti serangga, tapi masih ada aja kecoa yang menghuni," ucapku memakai pakaian dengan perasaan biasa saja.


Tiba-tiba kecoa itu berancang-ancang untuk membuka sayapnya. Mungkin dia mendengar ucapan aku tadi, bahwa aku lah yang membunuh keluarganya.


'Awas kau udin, aku balaskan dendam keluargaku yang kau bunuh!' Mungkin seperti itulah yang ada di pikiran si kecoa.


Dia langsung terbang melesat ke ketiak dan berjalan cepat ke arah perut yang membuat aku terkejut setengah mati. Tubuh ini seketika otomatis kegelian dan langsung mencoba melepaskan kecoa itu. Namun dia sangat gesit dan lincah, berlarian di sekujur tubuhku, dari ketiak pindah ke perut, lalu ke punggung dan berakhir di leher.


"Ampun-ampun, aku gak lagi-lagi bunuh kecoa." ucapku kegelian sambil loncat-loncat ke sana kemari, supaya kecoa itu jatuh.


Ketika mendengar aku berkata seperti itu, entah mengapa si kecoa langsung berhenti di bagian leher samping kanan. Mungkin dia tahu kalau aku menyerah. Mendapatkan kesempatan untuk menjatuhkan si kecoa, aku langsung mengambil dia dengan cepat dan melemparnya ke lantai.


"Nampaknya aku harus lebih rajin membersihkan kamar ini."


Tanpa membuang waktu, aku memeriksa terlebih dahulu di seluruh sudut ruang kamar. Memastikan tidak ada lagi kecoa yang bersembunyi. Dengan tongkat sapu ajaib—kalau di pakai emak-emak, itu sapu dari biasa aja menjadi ajaib, bisa membuat anak-anak minta ampun—dan sebotol kaleng obat anti serangga, aku bersihkan setiap sudut ruangan dari sebuah debu dan kotoran, setelah itu menyemprotkan banyak-banyak obat anti serangga.


"HAHAHA, AKHIRNYA, AKHIRNYA ... BERSIH SUDAH KAMARKU!"


Mendengar suaraku yang besar, membuat ummi berteriak dari dapur. "ALANG! KENAPA KAMU TERIAK-TERIAK!"


"ENGGAK UMMI, ALANG LAGI LATIHAN DRAMA!" jawabku mengelak.


***


Keesokan harinya setelah pulang sekolah,


aku dan Anindya langsung ke warung bakso—mang Ujang—langganan, namun saat mau pergi, ada teriakan memanggil Anin.


"ANIN!" sahutnya dari jauh dan berlari kecil mendekati kami.

__ADS_1


Ternyata dia adalah kakak kelas—anggota OSIS—yang kemarin ngobrol dengan Anin. "Eh ada apa, Kak Bima?" tanya dia.


"Kamu mau kemana?"


"Mau makan berdua sama temen, Kak."


"Ikut dong ...."


'Waduh, malah minta ikut ini orang.' pikirku.


"Maaf, Kak. Kita juga mau pergi beli perlengkapan untuk tugas," jawab Anin mengelak.


"Yah ... ya udah, besok ada waktu gak?" tanyanya.


"Hmm, Anin gak tau kak."


"Kalau gak ada, besok kita makan yuk."


Mendengar permintaan itu, aku langsung melajukan motor meninggalkan dia. Untungnya Anin berpegangan erat, kalau tidak mungkin dia bakalan jatuh.


"Gilang! Kamu kenapa tiba-tiba langsung tancap gas?!" tanya dia kesal.


"Maaf-maaf, habisnya aku gak mau kamu menyetujui permintaan dari dia."


"Siapa juga yang mau, Alang."


"Loh kirain mau tadi," ucapku memberhentikan motor.


"Ihh ... kamu!"


"Maaf-maaf," ucapku.


"Awas sekali lagu mengulangi, Anin jewer itu kuping kuat-kuat."


"Iya maaf."


"Ya udah ayo cepat, Anin udah lapar nih."


"Siap, berangkat."

__ADS_1


Dilain sisi, kaka kelas itu—Bima Syahputra—merencanakan sesuatu untuk bisa mengajak Anindya makan berdua.


__ADS_2