Janjiku Kepadamu Anindya

Janjiku Kepadamu Anindya
Cokelat


__ADS_3

Tapi sebelum melangkah kan kaki beberapa meter, ku lihat Anin datang dengan Sandi. Dan memakirkan motornya tepat di samping motorku.


"Udah cuek aja lang, jangan di pikirkan lagi. Kalau lu masih galau, nanti pulang kita main game di rumah gua sampai malam. Gua masakin lah mie lagi." katanya menenangkan ku.


"Tapi harus tambah telor setengah matang, sosis dan kerupuk ya." ucapku ngelunjak


"Iye iye, ntar gua tambahin ayam K*C lah."


"Weh... banyak duit nih nampaknya."


"Santuy, tadi bapak ngasih uang lebih."


"Mantap...." balasku.


Aku dan Irwan langsung menuju ke kelas dengan cepat, seolah-olah tidak mengetahui kalau anin ada di belakang.


"Alang kenapa ya, kok cuek hari ini kepadaku. Biasanya langsung menyapa dengan senyuman yang ku suka." Ucap anin bingung.


______________________________________________


Kriingg...


"Assalamualaikum, selamat pagi anak-anak."


"Wa'alaikumsallam, selamat pagi Pak."


"Sebelum memulai pelajaran pada pagi hari ini, Marilyn kita berdoa menurut ajaran dan agama masing-masing. Berdoa mulai." kataku memimpin.


"Doa selesai."


"Baiklah anak-anak, buka buku paket kalian halaman 29."


"Baik Pak."


Disaat belajar, temen sebangku aku memperhatikan ada perbedaan pada diriku.


"Lang.. lang..." tanyanya berbisik.


"Ha..,"


"Lu lagi sakit ya? Kok wajah lu sekarang murung gitu dari tadi."


"Ha enggak kok, aku sehat lah. Cuma hati yang enggak."


"Cah ila rupanya galau lu ya." katanya bercanda sambil mendorong pelan badanku.


Namun tidak ku gubris omongannya, karena memang hari ini aku sedang tidak ingin di ganggu. Dari belakang, diam-diam anin terus memperhatikan aku.


"Alangg.. kamu kenapa sih, kok lesu begitu.''


ucap Anin dalam hati.


Ternyata perubahan mimik wajah ku, tidak hanya dirasakan oleh teman-teman saja. Guru yang mengajar juga merasakannya.


"Alang.. kamu kenapa?" tanya Pak Guru.


"e-eh, gak kenapa-kenapa kok Pak."


"Tapi, kenapa wajahmu murung begitu?"


"Enggak, kok Pak. Saya seperti biasanya lah." balasku memberikan senyum dan wajah gembira.


Pak Guru pun kembali menjelaskan materi pelajaran.


"Aduh... kenapa aku menjadi seperti ini." pikirku.


Jam pelajaran terus berganti sampai waktu istirahat pun tiba. Di karenakan aku tidak ingin di ganggu, dan di dekati oleh Anin. Aku langsung keluar menuju kantin, untuk makan disana.


"Lang..!" teriak Anin memanggilku. Namun tidak ku gubris, aku merasa malu bertemu dengannya. Hati ini seperti menolak dan otakku seperti menyuruh untuk tidak menoleh kepadanya dan tetap berjalan menuju kantin.


Aku mengambil tempat duduk paling pojok, karena disana jarang anak-anak ada disana. Setelah kepergian ku dari kelas, Irwan mendatangi kelas ku sambil membawa bekal makanan. Tapi dia heran, karena aku tidak berada disana.


"Nin, lu lihat alang gak?"


"Dia pergi ke kantin, Wan... Alang hari ini kenapa murung?" tanyanya lesu.


"Entah, aku tidak tau. Dah ya aku nyusul dia." jawab irwan melambaikan tangan, dan langsung menuju kantin untuk mencari aku.


Irwan tau bahwa aku masih merasakan hati yang galau. Sebelum mendekatiku, dia membeli cokelat kesukaan aku. Dia tau kalau aku sedang galau, hanya cokelatlah obatnya untuk memperbaiki mood aku yang rusak.


"Nih... lu makan!" katanya kepadaku.

__ADS_1


"Thanks wan." kataku lesu.


"Udah ah, jangan galau lagi. Cewek di dunia ini banyak cok, jangan hanya karena satu cewek doang. Lu jadi hancur."


"Hmm..," jawabku singkat.


"Lu buang gak itu galau, atau gua pukul lu!! katanya sedikit mengancam.


"Iya iya, setdah bawel amat kek emak-emak."


Setelah memakan cokelat yang di berikan Irwan, mood ku pun kembali membaik seperti semula. Beruntung aku mempunyai sahabat seperti Irwan.


"Wan.." panggilku.


"Ha.. apa,"


"Setiap aku merasakan galau, sedih, dan susah. Pasti lu selalu ada di dekat gua, tau gak kenapa?" tanyaku sambil menghabiskan bekal.


"Hahaha kan gua sahabat lu, jadi ya harus selalu ada lah."


"Salah...!!"


"Lah jadi apa?"


"Itu artinya, lu bawa sial." balas ku tertawa.


"Anj*ng, ngelunjak ini anak. Di baikin malah ngajak gelud."


"Hahaha canda woy canda, udah yok masuk kelas." ajak aku.


"Ingat, lu jangan galau lagi. Kalau lu galau lagi, gua tampol beneran lu sumpah dah."


"Iye-iye santuy ae lah."


Sesampai nya di kelas, aku langsung kembali ke tempat dudukku sambil ngemil cokelat. Karena aku sudah kembali ke kelas, Anin langsung mendekati aku.


"Alang..." katanya lembut.


"Iyaa, ada apa nin?"


"Kamu kenapa?"


"Terus, tadi kenapa waktu tadi pagi di parkiran, kamu gak menegur aku?" tanya anin kembali yang membuat aku sedikit bingung menjawab nya.


"E-eh itu, A-aku tadi tidak melihat mu." jawabku.


"Bener... Alang gak kenapa-kenapa?"


"Iyaa... I'm fine kok."


"Hmm... ya udah kalau gitu." balasnya meninggalkan aku dan keluar kelas. Dengan spontan aku langsung melihat dia keluar, untuk memastikan dia bakalan keluar kemana dan dengan siapa.


Degg..


Hati ini kembali merasakan sakit, karena melihat Anin pergi dengan Sandi berjalan berdua menuju kantin. Tapi aku mencoba untuk tegar dan tidak memikirkan nya, supaya tidak galau lagi.


Skip.


Akhirnya waktu pulang sekolah pun tiba, aku langsung membereskan kembali Buku-buku dan peralatan lainnya. Sebelum pulang, Anin mendekati aku untuk memberitahu, kalau dia nanti pulangnya sama Sandi.


"Alang...,"


"Iya ada apa?" kataku sambil merapikan buku.


"Hari ini Abi tidak bisa menjemput."


"Terus.. mau aku antarin pulang?"


"Hmm.. gak perlu, karena aku pulang dengan Sandi." jawabnya senyum.


"Oh, Hati-hati dijalan." jawabku cuek sambil meninggalkan anin ke luar kelas, namun Anin langsung menarik tanganku.


"Alang... kamu kok cuek jawabnya?"


"Oh enggak kok, soalnya aku mau buru-buru ke rumah irwan."


"Ya udah, Hati-hati ya." ucapnya tersenyum manis.


Aku langsung berlari ke parkiran, dan menunggu Irwan datang. Tak beberapa lama, Akhirnya Irwan pun datang, dan kami langsung tancap gas untuk pulang.


Dalam perjalanan, aku mengingat kan kembali janji Irwan yang tadi pagi. Untuk membeli KFC dan membuatkan mie dan tambahan toping lainnya.

__ADS_1


Skip.


Setelah sampai rumah Irwan, aku langsung masuk kamar dan langsung menghidupkan ps untuk bermain game. Sedangkan Irwan langsung menuju dapur untuk membuatkan mie untukku dan dia.


Tok.. Tok..


"Woy buka woy, udah siap nih."


"Iye...," ucapku langsung membuka pintu.


"Nih makan, awas ya.. ini sudah ku turuti mau lu. Kalau masih galau juga, fiks gua tampol lu."


"Iye.. iye.. Bacot amat dah." jawabku ketus karena sibuk menghabiskan mie dan ayam KFC.


Setelah selesai makan, Irwan langsung membereskan mangkok kotor ini untuk di bawa ke dapur. Hari ini, aku benar-benar di buat seperti raja dengan irwan.


Tak berapa lama, ada sms masuk di handphone ku.


Anin ❤


Ha.. ada apa Anin sms sore-sore gini.


Kamu lagi apa alang?


Lagi main ps di rumah irwan.


Kamu udah makan?


Alhamdulillah sudah, kalau kamu?


Sudah juga tadi, makan bakso sama Sandi.


Apa maksudnya Anin memberitahu kan itu.


*Oh bagus lah.


Alang....


Iya...


Besok, dirumah Anin ada acara yasinan selepas magrib. Besok Alang datang ya, ajak juga Irwan ya.


InsyaAllah*.


*Awas loh... kalau gak datang, karena Ummi yang nyuruh.


Iya, iya.. bilang sama Ummi, aku bakalan datang.


Maaci ☺☺*


"Wan...!! teriak ku dari kamar.


"Ha.... paan!!" balesnya


"Sini dulu..!!


"Iye bentar!!


Tak berapa lama Irwan sudah kembali ke kamar.


"Ada apaan sih, teriak-teriak dari kamar." tanyanya.


"Besok dirumah Anin mau yasinan selepas magrib, lu ama gua di suruh datang."


"Ah males ah,"


"Eh bang*e, itu Umminya yang minta."


"Iye iye... tapi lu yakin mau ke rumahnya?


"Kalu bukan karena Umminya yang nyuruh, gua mah.."


"Apaan.."


"Ya gua tetap mau lah, hahaha." kataku tertawa


"Bang*e sekali anda ya." jawabnya sambil mendorong badanku.


Irwan merasa lega, karena apa yang dia lakukan hari, bisa membuat aku kembali seperti semula.


( Jangan lupa tersenyum hari ini 🤗 )

__ADS_1


__ADS_2