Janjiku Kepadamu Anindya

Janjiku Kepadamu Anindya
Dewi


__ADS_3

Jika engkau ingin menjadi Bunga, aku akan menjadi Tanah. Setidaknya walaupun engkau mudah tercabut dengan mudah, aku bisa membuat tumbuh dan bahagia.


-Kata Gombal Waktu Indonesia Timur-


..


Setelah memotong buah apel menjadi beberapa bagian, aku menyuapinya dengan kasih dan sayang.


"Enak apelnya?" tanyaku


"Enak," jawabnya mengangguk.


"Mau lagi?"


Anindya kembali menganggukkan kepalanya.


Dari sudut pandanganku terlihat bahwa Bima akan meninggalkan ruangan ini, aku melihat wajahnya terlihat murung yang kuyakin dia merasakan cemburu.


'Salah sendiri mencoba mengambil gebetan orang.'


Aku kembali menyuapi Anindya sampai ia kenyang.


"Minum," ucapnya manja.


"Mau yang mana? Air mineral, jus atau minuman isotonik?" tanyaku kepadanya.


"Air mineral aja."


Setelah ia sudah makan dan minum aku memutuskan keluar kamar dan mengajak Irwan menuju ruang tamu.


Kulihat anak-anak sedang santai di ruang tamu dan ada juga nongkrong di teras depan sambil bermain game mobile. Aku melirik keseluruhan mencari seseorang yaitu si Beruang alias Bima.


"Kakak kelas tadi mana, Tasya?" tanyaku berpura-pura mencarinya.


"Udah pulang dianya tadi."


"Loh kenapa?" tanyaku kembali.


"Katanya ada urusan mendadak dari OSIS," ucap Tasya sambil merekap uang kelas.


'Baguslah dia pergi dari sini.' Aku tersenyum kecil mengetahui ini semua.


"Memangnya kenapa lu nanyain kak Bima, Lang?" Tasya balik bertanya kepadaku.


"Oh gak ada, aku cuma heran aja kok dia cepat pulangnya. Udah ya aku mau kedepan dulu mau nyari angin."


"Angin dicari, pacar itu yang dicari," cetus Tasya.


"Bodoamat!"


Angin sepoi-sepoi menghampiri tubuhku, seolah tahu kalau saat ini aku sedang bahagia karena pengganggu hubungan telah pergi. Aku melirik kebawah melihat anak-anak cowok sedang asik bermain game mobile.


"Woy tembak yang di gedung itu, dia sendirian di sana," ucap salah satunya.


"Iya bentar gue nge-loot dulu, butuh darah nih."


"Udah biar aku yang tembak aja," ucap Ucok.

__ADS_1


Kulihat Ucok sangat fokus membidik musuhnya, namun ketika sedang baku hantam ada yang mengganggu dia.


"Bah! Apanya ini whatsapp, gangguin aja."


"Woy tembak lah! Jangan main-main!" seru Angga.


"Iya, bentar aku tembak kepalanya."


Kembali aku melihat ada yang mengganggu Ucok dan buat dia marah-marah.


"Eh apa ini telepon-telepon! Eh kan mati jadinya," keluh Ucok.


"Alah alibi bilang aja lemah," ejek Angga.


Ucok tidak menggubris ejekan Angga, ia masih kesal melihat pacarnya menelpon di saat yang tidak tepat.


"Bah udah gangguin malah ngomong 'Aku rindu'. Rindu kepala bapak kau, Cok!"


Aku dan yang lainnya tertawa melihat kelakuan Ucok yang bar-bar hanya karena game mobile, sampai ia marah-marah sama pacarnya.


"Udahlah, Ucok. Jangan kau marah-marah, nanti putus pulak kau dengannya," ucapku dengan logat khas medan.


"Kau tak tahu rasanya, Lek. Harusnya bisa menangnya ini," jawabnya dengan logat medan.


"Eleh macam betol kali lah ucapan kau ini, Cok. Udah ayo kita main lagi dan dapatkan ayam panggang," ucap Angga yang ikut-ikutan berlogat medan.


"Gas, Lek. Aku kasih tahu dulu ke dia untuk jangan telepon sekarang biar gak keganggu."


Aku hanya menggeleng melihat mereka yang sibuk dan rusuh saat bermain game, aku kembali masuk ke dalam untuk melihat keadaan Anindya.


Saat aku masuk ternyata Anindya sudah tidur dan yang lainnya sedang berbincang-bincang dengan umminya Anindya.


"Barusan kok, kamu kemana tadi?"


"Duduk di depan, Ummi."


"Lang baiknya kita sekarang pulang yuk! Anindya sudah tidur, kalau kita masih disini nanti dia keganggu lagi," ucap Dewi.


"Hmmm, ya udah yuk pulang." Aku mengambil tas dan bersalaman dengan calon mertua.


Setelah aku keluar rumah, anak-anak ikut berpamitan dengan Ummi Anindya, mereka langsung tancap gas pulang.


"Lang," panggil Dewi.


"Hmm."


"Antarin gua pulang ya," pinta Dewi.


"Rumah lu dimana emangnya?"


"Di …."


Dewi menjelaskan letak rumahnya, ternyata jaraknya cukup jauh dari rumah Anindya.


"Antarin ya, Lang. Udah sore ini, kalau naik ojek aku takut. Nanti diculik pula."


"Ha? Emang siapa yang mau culik lu, Wi?" tanyaku Heran.

__ADS_1


"Ya ada deh pokoknya, kan gua cantik." Dewi memainkan matanya sambil tersenyum.


'Kok dia cantik ya dan lucu.' Aku merasakan ada yang aneh pada Dewi.


"Maukan, maukan, maukan!" serunya.


"Iya," jawabku.


"Nah gitu dong."


Setelah semuanya telah siap aku mengantar pulang Dewi sampai ke rumahnya.


Dalam perjalanan aku dan Dewi berbincang-bincang ringan tentang sekolah, kebiasaan, dan berujuk ke masalah pacar.


"Lang, lu udah punya pacar belum?" tanya Dewi.


"Ha? Apa?" Aku pura-pura tidak dengar.


"Udah punya pacar belum?!" Dewi menaikan nada suaranya.


"Belum, memangnya kenapa?"


"Hmm, gak lah. Eh kita mampir dulu ke mini market di depan."


"Mau beli apaan?"


"Roti coklat untuk teman belajar nanti malam."


'Lah? Kok sama dengan kesukaan aku sih?'


**


Hai Assalamu'alaikum guys, saya kembali melanjutkan cerita ini ヾ(^-^)ノ, Terima kasih sudah mendukung cerita ini sampai viewnya menaik pesat. Akan saya usahakan untuk up secepatnya.


Oh ya Santuy: antara Gilang & Anindya telah ganti judul menjadi:


"Janjiku Kepadamu Anindya."


Serta juga mengganti covernya karena jujur saya takut akan kena tuntutan akan masalah "Hak Cipta".


Selamat menikmati cerita ini dengan cinta dan kasih, akan saya berikan lebih banyak lagi amalan-amalan dalam Agama Islam dan makna kehidupan lainnya.


Terus dukung cerita ini sampai viewnya sampai 10k ya guys, agar bisa bersaing di rangking vote o(〃^▽^〃)o


Oh ya saya juga membuat cerita romantis lainnya dan cerita horor.


Judulnya:


-Cintaku Bukan Karena Uang.


Mengisahkan seseorang cowok yang sombong dan angkuh mencintai seorang gadis yatim piatu.


-Psychopath: Human Syndrome.


Seorang pembunuh bayaran bernama Raja yang ingin membalaskan kematian orang keluarga, sahabat dan kekasihnya kepada organisasi yang ia masuki sebelumnya.


Siksaan sadis dan teriakan akan banyak mengisi dalam cerita ini, jadi siapkan mental kalian ketika membacanya.

__ADS_1


Nb:Cerita horor ini sedang masa revisi keseluruhan dan baru sampai 9 episode, namun jika kalian ingin merasakan sensasi pembunuhan lainnya kalian bisa membaca lanjut sampai episode 20.


__ADS_2