Janjiku Kepadamu Anindya

Janjiku Kepadamu Anindya
Hadirnya kembali.


__ADS_3

Mengapa ketika kita mencintai seseorang, ada orang lain yang mencintai kita?


Mengapa ketika kita tidak mencintai seseorang, tidak ada yang mencintai kita?


Mengapa alur cintaku seperti ini, kenapa engkau hadir ketika hati ini memilih dia. Mengapa ketika hati ini tanpa terukir nama, engkau tidak muncul.


Apakah ini sebuah karma?


Saat daku lebih memilih seorang yang aku cintai, namun ia tidak.


Wahai Cinta, jangan engkau berikan aku rasa kebingungan.


Wahai Cinta, jangan engkau berikan aku ratapan luka.


Wahai Cinta, hadirlah dan buat kehidupanku menjadi lebih indah.


༺♥༻Muhammad Ridho༺♥༻


. . . Janjiku Kepadamu Anindya . . .


Penulis: Muhammad Ridho.


"Kenapa, Lang? Kok kelihatan bingung sih?" tanya Dewi.


"Eh, gak apa-apa kok, Wi." Aku memalingkan pandangan darinya dan berpura-pura melihat-lihat beberapa cemilan yang dipajang.


"Kamu mau juga gak, Lang?" tanyanya.


"Mau apa?"


"Ya roti cokelat lah, masa iya batu bata."


"Hmm, boleh dah."


"Oke," ucapnya, lalu aku melihat ia mengambil empat bungkus roti dengan ukuran paling besar dari roti yang lainnya.


Kami berdua menuju kasir dan mengantri beberapa saat karena sudah ada tiga customer.


"Wi!" panggilku pelan.


"Ha?"


"Banyak amat lu beli rotinya?"


"Dua untuk aku, dan dua lagi untuk kamu, Lang."


"Eh?! Banyak amat! Aku beli satu aja, Wi. Uang gak cukup kalau beli dua," ucapku kepadanya.


"Memangnya siapa yang bilang kamu yang bayar?" Dewi menaikan alis mata kirinya.


"Aku lah, siapa lagi?"


Gadis itu tertawa kecil. Lalu berkata, "Udah gak usah, biar aku saja yang bayar. Anggap aja ini sebagai balasan dari kamu yang sudah antar aku pulang, Lang."

__ADS_1


"Gak apa-apa nih, Wi? Harganya lumayan loh."


"Santai aja ih, harga segini murah tahu," balasnya.


"Murah dari ma-." Belum sempat aku menyelesaikan ucapan, kasir memanggil kami untuk maju dan membayar barang belanjaan.


"Semuanya enam puluh ribu, Dek," ucap kasir.


"Ini, Mbak." Dewi memberikan selembar uang pecahan seratus ribu.


"Wi! Ini benar gak apa-apa?" tanyaku sekali lagi untuk meyakinkan. Namun ia tidak menjawab.


"Kembaliannya empat puluh ribu ya, Dek. Terima kasih."


"Iya, Mbak."


Setelah itu Dewi menarik tanganku untuk keluar dari mini market.


"Ayo, Lang! Lanjut jalannya."


"Wi, benar ini gak apa-apa?"


"Gak percaya amat sih kamu jadi orang, udah santai aja."


Aku mengangguk dan tersenyum canggung, lalu menghidupkan motor.


"Ayo naik!"


"Iya."


"Makasih ya sudah antar aku pulang, Lang. Nih rotinya." Dewi memberikan aku kantong plastik berisikan dua bungkus roti.


"Iya, Wi. Terima kasih juga belikan aku roti cokelat."


"Iya, kamu hati-hati ya di jalan."


"Hmm, aku pulang, Wi. Assalamu'alaikum," ucapku lalu memutar haluan dan beranjak pergi.


"Wa'alaikumsalam, Lang." Suara dari Dewi yang aku dengar ketika beranjak pergi.


..


Pukul 06:30.


Aku sedang duduk di bawah pohon rindang yang ada di sekolah, menikmati angin sepoi-sepoi yang diberikan oleh alam.


"Gilang!"


Aku melirik ke arah sumber suara yang sangatku kenal, suara yang lembut dan mendayu-dayu. Suara yang membuat rasa kesepian di hati menjadi sirna dan tergantikan oleh kebahagiaan.


Senyumku tebarkan tatkala melihatnya melambai dari kejauhan sambil tersenyum.


Ia beranjak berjalan mendekati aku.

__ADS_1


"Sudah sembuh ni ye," ejekku kepadanya.


"Iya dong. Eh, kamu ngapain di sini sendirian?" tanya Anindya.


"Lagi menikmati ciptaan Tuhan."


"Hmm, masuk yuk ke kelas!" ajaknya.


"Nanti ah, aku masih mau menikmati suasana damai ini."


"Ya udah deh. Anin duluan ke kelas."


"Dih ngambek," ucapku.


"Siapa yang ngambek?"


"Seorang cewek yang berinisial Anindya dan bernama A," ucapku bercanda.


"Terbalik, Gilang! Sini kamu, Anin jewer!"


Aku menghindar dan berlari darinya sambil tertawa, hal yang palingku rindukan setelah beberapa hari tak berjumpa dengannya di sekolah.


**


**Terima kasih atas dukungannya teman-teman, karena tepat pada hari ini novel saya diterima kontrak dan mendapatkan level 3.


Mohon maaf apabila part ini pendek dari yang lainnya, karena kondisi kesehatan saya sedang menurun.


Oh ya untuk menemani waktu kalian menunggu cerita ini up, saya mau merekomendasikan cerita dari beberapa penulis kece dan pastinya cerita yang berkualitas.


Labuhan Cinta Sang Casanova - Light Queen


He Is Beautiful - Yns Pramucipta


Take Me Back Please! - sweet berry


4.Love is Blind-Novi Wu (Penulis dari Boss Come Here Please)


Penantian Seorang Istri - Bintang Timur


Dan juga jangan lupa baca cerita saya yang berjudul


"Cintaku Bukan Karena Uang"


Serta jika kalian menyukai cerita tentang pembunuhan oleh Psychopath, bisa baca cerita saya yang berjudul


"Psychopath: Human Syndrome"


Jangan lupa like, comment, favorite dan vote ya teman-teman.


Salam Damai.


✧༺♥༻✧

__ADS_1


Muhammad Ridho**


__ADS_2