
Sekarang aku mengetahui apa itu rasanya cinta, sayang, sedih, takut, resah dalam arti kutip kepada maha cinta ke lawan jenis. Aku mengambil baskom kecil berisikan air hangat dengan suhu lima puluh derajat celcius dan handuk kecil yang bersih.
"Kamu mau minum apa, Nak?" tanya ibu dari wanita yang sedang aku rawat.
"Air putih aja, Ummi."
"Aduh masa air putih doang, Ummi buatkan jus mangga aja ya."
"I-iya, Ummi."
Dalam perjalanan menuju kamar Anindya, aku berpikir untuk mencari lelucon yang bisa membuat dia tertawa.
'Air putih.'
Sesampainya di kamar wanita yang sangat aku cintai, terlihat dia menatap ke arahku dengan tatapan sayu. Sungguh tidak tega rasanya melihat dia merasakan hal yang sangat tidak di inginkan manusia.
Dengan perlahan aku meletakkan handuk hangat itu di keningnya, berharap panas dalam tubuhnya segera menghilang.
"Sekarang gimana keadaannya?" tanyaku pelan.
"Masih sama aja."
"Berarti belum bekerja obatnya, eh sambil menunggu obat itu bekerja. Kamu mau gak dengar lelucon dariku."
"Hmm," ucapan itulah yang hanya keluar dari kotak suaranya.
"Ada seorang anak habis belajar di sekolah tentang jenis-jenis warna; merah, kuning, biru, putih, hitam, ungu, merah muda, dan hijau."
"Dorr!" seru Anindya pelan.
"Yee ... malah dia yang becanda."
Anindya tertawa kecil.
"Nah ketika anak itu sudah sampai di rumah, dia disuruh untuk mengambil air putih oleh ibunya."
"Udin! Ambil air putih segelas!"
"Iya, Mak! Kata si Udin."
"Tidak lama kemudian si Udin membawakan secangkir air putih kepada ibunya. Nih air putihnya, Mak."
"Loh kok kamu bawakan susu sih."
"Bukannya Mamak minta air putih, ini Udin bawa air putih."
Ketika aku katakan bagian ini, terlihat dia mulai tertawa kecil.
__ADS_1
"Air putih, Udin! Bukan susu."
"Ini warnanya apa, Mak? Tanya si Udin."
"Putih."
"Ya udah berarti benar yang Udin bawa."
"Seketika mamaknya mulai berpikir, ini saya yang bodoh atau Udin yang pintar. Setelah itu akhirnya mamaknya Udin mengulang belajar kembali dari SD."
Anindya tertawa kecil mendengar lelucon yang aku ceritakan. Awalnya sih aku takut kalau cerita ini tidak membuat dia tertawa.
"Iya ya, Anin baru sadar kalau selama ini kita salah menyebutkan," katanya sambil tertawa.
"Padahal kan air itu warnanya gak ada, alias bening," ucapku sambil mengambil handuk itu untuk di rendam air hangat dan meletakkan kembali ke keningnya.
"Terus-terus ada cerita lain ga-." Belum sempat dia menjelaskan pertanyaannya, ibu dari Anindya masuk ke kamar sambil membawa segelas jus mangga dan roti tawar yang sudah di oles cokelat.
"Hayo kalian lagi bahas apa? Nampaknya seru sekali, sampai-sampai anak ummi tertawa." Umminya meletakkan minuman dan makanan itu di meja kecil yang ada di dekat ranjang.
"Ini loh, Ummi. Gilang ceritain tentang air putih, hayo coba jelaskan. Air putih itu apa, Ummi?" tanya Anindya.
"Ya air mineral dong." Umminya mendekati dan memegang pipi dan kening anaknya untuk mengecek suhu tubuh.
"Ummi salah!"
"Air putih ya air susu, Ummi. Air mineral itu gak ada warna, alias bening."
"Bentar-bentar," kata orang tuanya kebingungan.
Aku dan Anindya saling menoleh, setelahnya tertawa melihat calon mertua sedang kebingungan.
"Bener juga ya, haduh ...."
"Udah-udah jangan di pikirkan lagi, Ummi. Nanti sakit loh," kata anaknya.
"Oh ya kamu hanya hari ini saja kan gak masuk sekolahnya?" tanya calon mertua kepadaku.
"InsyaAllah iya, Ummi."
"Ya udah ummi tinggal dulu ya," ucapnya seraya meninggalkan kami berdua.
Aku mengambil lagi handuk yang berada di keningnya dan mengulangi cara sebelumnya.
Terlihat sebuah simpulan senyuman bahagia di balik wajahnya yang sayu menahan rasa sakit.
Karena merasa tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, aku memutuskan untuk melantunkan syair doa Abu Nawas mengisi kekosongan itu. Dengan harapan agar dia cepat sembuh dan tertidur pulas.
__ADS_1
Syair yang tercipta dari seorang pujangga Arab dan salah satu penyair sastra Arab klasik. Sebuah syair tentang pengakuan akan gelimang dosa yang telah di lakukan dan meminta pengampunan kepada Sang Pencipta Allah SWT.
Pengakuan akan takutnya siksa neraka, pengakuan akan takutnya tak masuk surga, pengakuan akan takutnya tidak di cintai oleh Allah SWT.
Syair ini aku dendangkan dengan hati yang terdalam, merasakan tiap lirik-lirik itu mengalir dari lubuk hati yang terdalam. Di pertengahan lirik aku melihat sebuah titik air mata yang jatuh dari manik matanya Anindya.
Walau ada rasa ingin bertanya kepadanya, namun aku tetap meneruskan mendendangkan syair indah itu. Aku tahu bahwa dia mengerti arti dari lirik yang kudendangkan, karena tak mungkin manik matanya mengeluarkan cairan kesedihan dari lubuk hatinya terdalam.
Di lirik terakhir dalam syair itu berbunyi:
َفَإِنْ تَغْفِرْ فَأنْتَ لِذاك أَهْلٌ - فَإنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاك
Fa in taghfir fa anta lidzaaka ahlun wa in tathrud faman narjuu siwaaka.
Maka jika engkau mengampuni, maka Engkaulah yang berhak mengampuni. Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?
Itulah arti lirik terakhir dari syair Al-I’tiraaf yang aku dendangkan untuk Anindya. Terlihat makin deras cairan kesedihan dari manik matanya yang indah.
"Kamu kenapa, Anin?" tanyaku kepadanya.
"Anin teringat dosa yang telah dilakukan selama ini," ucapnya tersedu-sedu penuh penyesalan.
"Alhamdulillah kalau kamu ingat, berarti Allah masih sayang sama kamu. Buktinya Allah memberikan sakit ini kepadamu, agar kembali mengingat kepada siapa kita meminta pertolongan."
"Anin menerima sakit ini dengan ikhlas," katanya tersedu-sedu.
"Benar sekali, kita harus ikhlas menerima apapun cobaan yang datang menghampiri. Sakit pun juga membuat dosa-dosa kita terhapuskan."
"Udah ya kamu tidur dulu, aku mau sholat Dhuha," kataku sambil meninggalkan dia.
Namun sebelum sampai beberapa langkah, dia berkata, "Titip."
"Mau apa?"
"Kesembuhan dan pengampunan."
Aku membalikkan tubuh menghadapnya seraya berkata, "Itu selalu aku ucapkan dalam doa, kamu jangan khawatir."
Senyuman manis tersimpul di wajahnya yang sayu menahan cobaan yang menimpa dirinya.
...
Setelah selesai sujud dan meminta kepada Sang Pencipta Allah SWT, aku kembali ke kamarnya Anindya untuk mengecek keadaannya. Ketika pintu terbuka pelan, aku melihat dia telah terlelap dalam tidurnya yang nikmat. Tubuhnya mengarah ke samping menghadap jendela yang memperlihatkan langit yang cerah dengan awan putih menjadi lukisan pada sang langit.
Perlahan aku menghampiri dia untuk mengambil handuk yang telah mendingin itu di keningnya, memasukkan ke dalam baskom berisikan air yang masih hangat. Setelah memeras handuk itu, lalu aku tempelkan kembali ke keningnya. Aku sedikit menyentuh kulit keningnya untuk memastikan suhu badannya telah menurun atau tidak.
Alhamdulillah suhu tubuhnya telah menurun, obat demam itu telah bekerja memberantas penyakit-penyakit dalam tubuh Anindya. Aku duduk di kursi sofa kecil yang ada di kamarnya seraya sambil berkata dalam hati, 'Cepat sembuh wahai engkau yang selalu ada dalam doaku.'
__ADS_1