Janjiku Kepadamu Anindya

Janjiku Kepadamu Anindya
Kesamaan makanan


__ADS_3

Gemerlap cahaya lampu warna-warni menghiasi seluruh sudut Taman Kota, namun tidak menutup keindahan cahaya purnama. Banyaknya umat manusia berdatangan untuk sekedar menghibur diri dari penatnya problema kehidupan yang di jalaninya.


Ketika sedang asik duduk menikmati pemandangan Taman Kota, aku melihat sosok seorang wanita yang tidak asing di dalam ingatan. Dialah Siti Aisyah yang kemarin melihat kelakuan aneh aku di taman komplek. Saat ini dia memakai pakaian langsung berwarna pink berpadu putih yang menutupi dari lehernya sampai ke ujung mata kaki, aku tidak tahu nama pakaiannya, ya alasannya aku adalah pria tulen.


"Tunggu-tunggu, itu bukannya?"


"Bukannya apaan, Lang?" Irwan bingung melihat tatapan dan ucapanku.


"Wan, Wan, Wan," kataku mencoba memegang pundaknya tanpa mengalihkan pandangan dari wanita itu, namun malah ke arah wajahnya yang membuat dia kesal.


Dia mencoba menepuk-nepuk dan menepis belain tanganku di wajahnya, dia berkata, "Apaan si lu, Lang? Main nyosor wajah orang aja, lu lihat apaan? Anindya?"


"Bu-bu-bukan, Wan."


"Terus?!"


"Kemarin pas kita lagi bosan, kan gua pamit pergi nyari udara segar-."


"Terus?"


"Teras-terus aja lu, gua belum selesai ngomong." kataku kesal. "Nah pas saat itu aku ketemu cewek yang mempunyai wajah yang cantik, Cuy."


"Mana-mana?" tanya dia mencoba mencari sosok wanita itu.


"Tuh coba lu lihat di rombongan ukhti-ukhti yang duduk dekat mobil es krim, dia pakai baju warna pink sama putih." Aku menunjuk ke arah rombongan itu.


"MasyaAllah, i-i-itu ceweknya, Lang?" tanya Irwan tak percaya.


"Iya ..., dia lah sosok wanita itu."


Aku dan Irwan hanya terpaku melihat kecantikan yang tertuang di penampilan fisik wanita itu, namun pandangan tertutup oleh sesuatu yang tidak menyenangkan. Sosok seorang wanita dengan pakaian serba terbuka, bagian celananya seperti ada sobekan yang di sengaja, mana wajahnya. Ah sudahlah gak boleh menjelekkan orang, walau kenyataan emang jelek sih.


"Mengganggu pemandangan saja," kataku.


"Lang, Lang, Lang." Irwan menepuk pundakku.


"Apa?"


"Dia siapa namanya?"


"Siti Aisyah," ucapku pelan.


"Aisyah, nama yang indah. Lu kan sudah punya Anindya, ni cewek untuk gua ya," ucapnya memohon.


"Oh tidak bisa."


"Sotong lu ya, maruk banget jadi cowok."


"Siapa cepat dia dapat," ucapku berdiri dan berjalan mendekati wanita itu.


"Lang, Lang, tunggu, Lang."


Ketika beberapa meter di dekat rombongan itu, teman-teman Aisyah menyadari kedatangan dua cowok asing mendekati mereka. Tapi tidak dengan Aisyah, pandangannya terfokus ke arah pengamen jalanan yang sedang melantunkan lagu sholawat dengan menggunakan alat musik; gitar, gendang, angklung dan seruling.

__ADS_1


"Ais, Ais. Ada dua cowok aneh mau nyamperin kita tuh," ucap pelan salah satu temannya.


"Mana?" tanya Aisyah.


"Itu-." Belum sempat dia menjelaskan, aku dan Irwan sudah berada di depan rombongan mereka.


"Assalamu'alaikum," ucapku dan Irwan.


"Waalaikumsalam." Mereka membalas salam kebaikan ini dengan senyuman ramah, namun terlihat jelas ada satu kata di benak wanita-wanita itu. Siapa mereka.


"Loh, kamu? Kamu, kamu, aduh kamu siapa ya?"


"Astaghfirullah masa lupa, aku Gilang yang kemarin kita ketemu di taman komplek."


"Nah iya iya, Gilang yang joget-joget sendirian itu kan."


Sontak semua wanita-wanita itu tertawa mendengar ucapan Aisyah tentang kejadian saat pertemuan pertama itu.


"Dih malah diungkit-ungkit, malu tahu."


"Kamu sama siapa di sini?" tanya dia.


"Nongkrong aja sama teman," ucapku memperkenalkan Irwan kepada mereka sambil berbisik kepadanya untuk berkenalan.


"Ha-hai, nama gua Irwan. Salam kenal," katanya berbarengan memberikan tangan kepada mereka untuk berkenalan.


Namun sambutan tangan itu tidak di gubris Aisyah dan teman-temannya, karena dalam Agama Islam ada larangan tentang bersentuhan tangan, jika belum muhrim.


Terlihat wajah Irwan seperti merasa tidak enak karena mendengar ucapan itu, dia lupa akan aturan dalam Agama Islam.


"I-iya gak apa-apa, maaf aku lupa soalnya," jawab Irwan sambil menggaruki kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.


Setelahnya kami saling berkenalan masing-masing, dan aku mengetahui nama-nama wanita.


Khairunnisa dengan bentuk wajah ovalnya, Maita dengan pipinya yang tembem, Izmi yang mempunyai badan sedikit tambun, dan terakhir Dewi dengan bentuk hijab bercadar yang menutupi sebagian wajahnya.


Tutur kata mereka sangatlah sopan, terjaga dari kata-kata menyinggung. Mereka bercanda tanpa menjatuhkan fisik manusia.


Tiga puluh menit berlalu, tak terasa waktu telah cepat berputar ketika nongkrong bersama dengan mereka. Kami dan mereka memang nongkrong bersama, namun ada batas jarak satu meter dari tempat duduk mereka. Ini untuk menjaga kami dari perbuatan dosa yang mungkin akan menghampiri.


"Eh kalian lapar gak?" tanya Aisyah.


"Iya lapar," jawab teman-temannya.


"Kalau kalian, Lang, Wan?"


"Lapar juga sih, emang kenapa?" tanyaku.


"Nah sip, kita beli makan yuk! Hmm bagaimana kalau kita makan bakso."


"Setuju."


"Ayo!"

__ADS_1


Aku dan Irwan hanya menjawab dengan anggukan, mengikuti kemauan mereka.


Kami pun memesan bakso yang ada di jajahkan tidak jauh dari mobil es krim itu, meja makan kami dan mereka terpisah, ya seperti yang kalian ketahui sebelumnya.


"Kamu nih suka banget nampaknya dengan bakso, Ais. Tiap jalan makan bakso terus." ucap Maita.


"Iya dong, baksokan makanan favorit aku," kata Aisyah.


Disini aku ketahui suatu hal, bahwa Aisyah sangat suka makan bakso.


"Eh-," ucapku pelan


"Kenapa lu, Lang?" tanya Irwan bingung, namun dia tetap sibuk menyeruput kuah bakso itu tanpa melihatku.


"Ga-gak, gak jadi."


Kenapa Aisyah juga menyukai bakso sama seperti Anindya. Apakah mereka berdua itu keluarga ya. Tapikan bakso itu memang makanan sejuta umat +62 sih, ah sudahlah jangan di pikirkan, toh mereka sama-sama cantik dan lucu. Tapi Anindya lebih lucu sih, apalagi ketika dia ngambek dan menggembungkan pipinya.


...


Setelah selesai makan, kami harus terpisah dengan mereka, karena waktu sudah mendekati jam 10 malam. Tidak baik wanita yang masih gadis berkeliaran di luar rumah saat sudah mendekati tengah malam.


Sebelum berpisah dengan mereka, Irwan meminta nomor whatsapp wanita-wanita itu.


"Boleh gak menyalin nomor whatsapp kalian ke dalam handphone gua," ucap Irwan.


"Hmm, boleh. Mana sini handphone punyamu," jawab Aisyah


Di sini aku merasa bangga punya sahabat yang mempunyai mental berani begini, aku aja minta nomor satu wanita masih malu-malu. Dia dengan gampangnya mengucapkan permintaan itu, mana sekali dayung lima pulau terlewati lagi.


"Gini dong kalau mau kontak whatsapp, menyalin bukan meminta. Betul enggak, Lang," ucap Aisyah menggodaku.


"Suntik aja terus, Ais." Aku tersipu malu karena ucapan darinya.


Aisyah dan teman-temannya tertawa melihat aku yang salah tingkah, mereka seperti tahu maksud dari ucapan temannya.


Setelah itu kami berpisah dan pulang ke rumah masing-masing. Tidak sia-sia malam ini pergi ke taman, bisa bertemu kembali dengan wanita cantik seperti Aisyah.


"Lang, Aisyah untuk gua. Lu jangan coba-coba ganggu." Irwan berkata seperti itu, agar aku tidak mengganggu acara PDKT dia dengan Aisyah.


"Siapa cepat dia dapat," jawabku yang masih fokus berkendara.


"Gua laporin ke Anindya, baru tahu rasa lo."


"Dih pengadu, iya iya. Santuy lah."


"Nah gitu dong."


"Semoga gagal, biar gua yang-." Belum sempat gua menjelaskan semuanya, Irwan langsung memotong omongan dan mengancam.


"Oke fix gua laporin ke Anindya sekarang."


"Canda woy! Canda!"

__ADS_1


__ADS_2