
seluruh wajahku langsung merah seperti kepiting rebus, karena ada yang mengetahui dan melihat aku yang sedang asik berjoget.
Jika sudah seperti ini, jalan satu-satunya adalah berpura-pura sedang melakukan senam.
"Satu dua satu dua," ucapku melakukan gerakan senam.
"Udahlah mas, gak perlu berpura-pura, saya sudah lihat dari tadi."
Astaga, ternyata dia sudah melihat aku dari tadi. "A--anu." Aku tidak berkata-kata lagi karena rasa malu yang aku rasakan ini.
"Hahaha santuy aja, Mas. Aku juga pernah merasakan seperti itu," ucapnya.
"Hehe, jadi malu," cetusku mengelus kepala dengan senyuman masam.
"Emangnya lagi dengarin lagu apa, Mas?"
"Lagu anak sobat ambyar, eh jangan panggil saya mas dong. Panggil Alang aja."
"Oalah, oke, Alang." Setelah itu dia berlalu meninggalkan aku yang masih dalam keadaan malu.
"A--anu, kalau boleh tahu namamu siapa?"
Dia berhenti dan menoleh ke arahku. "Namaku Siti Aisyah," ucapnya tersenyum.
"Kamu tinggal dimana?"
"Di cendana 4."
"Woahh ... tapi kok aku baru lihat kamu ya?"
"Saya baru pindah beberapa hari yang lalu, Lang."
"A-anu,"
"Apa?" jawabnya dengan mengernyitkan alisnya.
"Bo-boleh minta nomor HPnya gak?"
"Terus saya pakai apa dong? Kalau kamu minta nomor saya?"
"Eh bukan itu maksudnya, aduh gimana ya."
"Hahaha, iya iya paham kok. Catat ya."
Dengan cepat aku keluarkan HP dan langsung mencatat nomornya.
"Dah ya aku mau pulang," ucapnya melambai.
"Iya, assalamu'alaikum." Aku membalas dengan senyuman.
"Eh lupa hahaha, Assalamu'alaikum."
"Hahaha wa'alaikumsalam, hati-hati dijalan."
Aku hanya termenung senang karena pertemuan ini, apalagi dia mempunyai paras yang cantik.
"Eh aduh, kenapa aku malah memikirkan dia."
"Haha entahlah, mending aku pulang saja."
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kamar untuk merebahkan badan ini.
'Hmm ... apa aku coba chat dia aja ya.'
-Assalamu'alaikum.
Tak selah beberapa lama, dia membalas pesanku.
-Wa'alaikumsalam, siapa ya?
...
__ADS_1
-Ini aku Gilang, yang tadi di taman.
...
-Ohh yang joget joget sendiri itu ya, hahaha πππ.
...
-Yah di bahas lagi, malu tahu ( Ν‘Β°Π· Ν‘Β°).
...
-Hahaha soalnya lucu, oh ya ada apa ya?
...
-Hmm udah sampai rumah?
...
-Alhamdulillah udah barusan, kenapa?
...
-Hmm enggak sih, lagi apa nih?
...
-Lagi baring-baring aja.
...
-Loh sama kita, jangan jangan kita jo....
...
-Jomblo, hahahaha ππππ.
...
...
-Udah, udah makan, udah minum, dan juga udah sholat.
...
-Waduhhh, sudah di jawab dia semuanya hahaha.
...
-Hahaha biarin.
Seketika pikiranku mentok, gak tau mau nanya apalagi. Karena dia sudah jawab semuanya.
'Aduhh ... nanya apalagi.'
Tiba-tiba notifikasi pesan berbunyi.
-Kamu lagi apa, Lang?
...
-Kan tadi aku udah bilang, lagi baring-baring.
...
-Oh ya lupa hahaha.
...
-Hahaha haduhh kamu masih muda udah pelupa.
__ADS_1
...
-Biarin, yang penting imut.
...
-Dih ngaku-ngaku dianya :v.
...
-Biarin hahaha, eh dah ya aku mau mandi dulu.
...
-Ikut dong.
...
-Ikut kemana?
...
-Mandi, Hahahaha.
...
-Dih O TO THE GAH OGAHH.
...
-Hahahaha canda loh.
Setelah itu dia tidak lagi membalas pesanku, mungkin dia langsung mandi.
'Eh bentar-bentar, dia punya whatsapp juga gak ya?'
Dengan cepat aku membuka aplikasi itu, dan mencoba mencari namanya dalam kontak whatsapp.
"Sip rupanya ada, wah fotonya cantik ya," ucapku memandang foto wajahnya.
Tiba-tiba terlintas pikiran di dalam benakku.
'Anindya mau lu kemanain?'
"Eh aduh ... aku sampai lupa dengan Anindya. Hmm ... coba chat dia aja kali ya."
-Assalamu'alaikum.
Namun setelah 1 jam lamanya menunggu, dia urung juga membalas pesanku.
'Tumben lama balasnya,' pikirku.
"Kalau gini mending aku main game aja deh."
Aku langsung membuka permainan perang-perangan yang kata orang itu : Game kok burik. Permainan telah di mulai, aku sibuk mencari perlengkapan senjata, tas, darah, dan armor. Berlarian kesana kemari mencari senjata yang terbaik, akhirnya aku temukan itu senjata. Dengan semangat aku mengejar pemain lain, tembak menembak dengan mereka. Namun ketika sedang fokus menembak musuh, ada notifikasi pesan dari Anindya.
'Duh balas kok pas lagi main game sih, mana lagi seru-serunya.'
Awalnya aku hiraukan balasan pesan darinya, karena ingin fokus memenangkan pertempuran ini sampai juara satuβBooyahβ.
Pemain tersisa tinggal hanya aku dan 1 pemain lain, aksi tembak menembak makin memanas dari kejauhan. Aku mencoba mendekati pemain itu, agar mudah menembaknya. Dengan mengendap-endap dari pohon ke pohon lainnya mencoba mendekati musuh. Ketika sudah dekat aku langsung menembaknya, namun tiba-tiba Anindya menelponku.
'Arghhh kenapa menelpon sih.' gerutuku mematikan panggilan itu.
"Yah kan jadinya kalah," ucapku kesal.
Dengan menarik napas panjang, aku menenangkan diri dahulu. Agar emosi ini lekas menghilang.
Aku mencoba menelpon dia untuk mau menanyakan, kenapa menelpon tadi. Karena baru kali ini dia seperti ini, biasanya hanya kirim pesan doang.
Tut Tut Tut Tut
__ADS_1
Bukan jawab darinya yang aku terima, melainkan suara mbak-mbak cantik dari operator telepon.
"Nomor yang anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi."