
Cahaya sang surya mulai memasuki dari selah jendela kamarku, cahaya yang hangat itu menyilaukan kedua mata ini yang masih ingin terlelap. Perlahan demi perlahan kubuka kedua mata ini dengan menguap panjang "Hooooaaaammmmmm." Meregangkan bahu, tangan dan kaki sekuat mungkin untuk mencapai titik nikmat itu.
"Aduh duh...." Karena sangking kuatnya meregangkan tangan dan bahu, membuat leher ini keram.
"Alangg!! Bangun nak!! Udah jam setengah delapan nih!!" teriak Ummi dari ruang tamu.
Degg..
Kesadaran ini langsung sepenuhnya kembali, karena mendengar ucapan dari Ummi. Dengan terburu-buru aku bangkit dari kasur dan berlari ke kamar mandi sampai terjatuh.
"Aduh duh ... kakiku!"
"Alang ... suara apa itu!" teriak Ummi.
"Gak ada apa-apa Ummi!" jawab ku kencang.
Dengan terpincang-pincang aku memasuki kamar mandi, namun setelah di kamar mandi. Ada suatu rintangan lagi yang harus di hadapi. Sekujur tubuh ini merinding yang disertai bulu halus di tangan dan leher berdiri semua ketika menyentuh air dalam bak mandi.
"Brrr ... gilak ini air kok dingin amat ya?" Dengan bismillah aku menyiram air secara pelan membasahi kepala dan badan.
Setelah selesai mandi, aku langsung memakai seragam sekolah dengan cepat. Mengambil tas dan berlari keluar kamar untuk langsung berangkat sekolah.
'Tidak ada kata telat dalam mencari ilmu' ucapku dalam hati.
Ketika aku sedang tergesa-gesa untuk ke garasi rumah, Ummi langsung memangil. "Alang! Kamu mau kemana?"
"Berangkat sekolah, Ummi, Alang pamit ya Assalamu'alaikum." Ummi langsung mengejar aku ke garasi.
"Alang! Kamu kenapa sekolah?" tanya Ummi.
"Loh kok Ummi nanya kenapa sih, ya untuk belajarlah. Udah ah Alang mau berangkat, udah kesiangan nih." jawabku ngambek
"Alang ...."
"Apalagi, Ummi?"
"Coba kamu buka HP, dan lihat sekarang hari apa?" Mendengar ucapan Ummi, aku langsung mengambil HP di dalam tas, saat menghidupkan, aku langsung terkejut.
__ADS_1
"Astaghfirullah, sekarang hari minggu." ucapku menepuk jidat, melihat itu Ummi langsung tertawa geli melihat anaknya yang lupa akan hari.
"Ummi kok gak bilang sekarang hari minggu." tanyaku ngambek Memanyunkan bibir sambil menyilangkan kedua tangan di perut.
"Haha, lagian kamu sendiri yang terburu-buru. Makanya, Nak. Kalau mau melakukan apapun itu, harus barengan dengan bismillah."
Sia-sia sudah perjuangan tadi menghadapi dinginnya air, mana kaki sakit karena tersandung. "Ya udah sana ganti baju lagi, Ummi udah masakin nasi goreng tuh."
"Makasih, Ummi," kucium pipi Ummi dan langsung berlari ke kamar untuk mengganti pakaian, setelah itu menuju meja makan untuk sarapan.
"Adek sama abang mana Ummi?" tanyaku sambil makan.
"Mereka pergi jalan-jalan tadi."
"Jalan-jalan kemana?" tanyaku mengernyitkan kedua alis.
"Ke kebun binatang, kata Mala dia ingin lihat harimau dan gajah." jawab Ummi.
"Ohh ... terus Abi kemana?"
"Ada tuh di kamar, masih tidur."
"Ummi, Alang boleh bertanya sesuatu gak?"
"Boleh,"
"Ceritain dong awal mula pertemuan Ummi dan Abi sampai ke jenjang pernikahan."
"Ehh ... kok tumben anak Ummi nanyain itu." jawab Ummi tersenyum malu.
"Yahh, Alang pengen tau. Biar bisa seperti Abi nantinya kalau dah nikah."
"Hmmm ... iya deh, Ummi cerita. Dulu, Ummi dan Abi itu awal ketemunya karena tidak disengaja."
"Tidak di sengaja? Maksudnya?"
"Iya tidak di sengaja, dulu itu Ummi suka membaca buku di perpustakaan."
__ADS_1
Flashback
Dulu itu di hari yang cerah , Ummi sedang sibuk mencari novel romantis dengan unsur islami di perpustakaan kota. Terus mencari dari rak 1 sampai rak yang ke 10, akhirnya Ummi mendapatkan novel itu. Tapi pas mau ambil, rupanya ada seorang lelaki juga mau mengambil novel yang sama. Yang pada akhirnya kita rebutan deh sampai sampul novel itu terlepas. Setelah itu entah kenapa dan siapa duluan memulai, kita langsung tertawa geli, karena melihat kejadian tadi.
"Hai, nama aku Muhammad Ibrahim." ucap cowok itu menjulurkan tangannya.
"Eh ... sa-saya Nur Aisyah Parwati." jawab Ummi menyambut salaman itu.
"Kamu juga suka baca novel genre ini ya."
"I-iya, Aisyah suka baca cerita tentang itu."
"Hmm terus ini novel gimana, haha. Aku gak punya uang banyak."
"Hmm karena kita berdua yang rusakin, berarti harus patungan ganti nya." jawab Ummi.
"Ya udah yuk, kita ke pihak administrasi nya."
"Iya,"
Setelah dari kejadian itu, hubungan Ummi dan Abi mu makin dekat. Ya intinya awal pertemuan itu karena hobi baca, namun perjalanan hubungan itu tidak mulus. Banyak rintangan untuk di hadapi. Sampailah ke jenjang serius, Abi melamar Ummi dan akhirnya kita menikah.
...
"Wah cerita pertemuan Ummi dan Abi lucu ya, bersatu karena hobi baca." ucapku.
"Makanya, kamu harus hobi membaca juga. Terserah deh mau membaca apa, karena membaca itu penting loh. Agar kita tidak tersesat dan terbodohi dari sesuatu hal."
"Iya ya, Ummi. Banyak Alang lihat orang-orang di TV yang mudah terbodohi dengan berita hoax."
"Iya, itu karena malas membaca. Maka dari itu kita harus wajib mencintai dan menyukai membaca. Dampaknya baik loh, lihat itu negara maju, contohnya negara jepang. Mereka bisa maju dan berkembang pesat karena hobi membaca, setiap ada waktu luang mereka gunakan untuk membaca mencari ilmu pengetahuan."
"Wah ... andai di negara kita seperti itu juga, masyarakatnya gemar membaca. Pasti maju deh perkembangan negara ini. Gak ada lagi hoax dan orang yang mudah terbodohi."
"Iya benar. Ya udah Ummi ke kamar dulu ya, mau membangunkan Abi."
"Iya, Ummi," Mendengar cerita Ummi dan Abi, membuat aku berimajinasi menjalin hubungan dengan Anin sampai ke jenjang pernikahan.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan, seperti biasanya aku langsung mencuci piring dan menyapu di semua ruangan dalam rumah.