Janjiku Kepadamu Anindya

Janjiku Kepadamu Anindya
Hareudang : Gerah


__ADS_3

Sang surya sedang bergejolak api amarah miliknya, melepaskan energi panas lebih yang menyelimuti dinding Bumi ini. Haus adalah kata kedua dari panas ketika merasakan sinar surya sedang bergelora, jalur tenggorokan seperti gurun pasir yang jarang tersentuh air hujan dari sang langit.


"Hareudang." Itulah kata yang terlontar dari lisan Irwan.


"Hareudang? Itu artinya apa, Wan?"


"Gerah, cuaca hari ini panas banget." Dia mengibaskan kerah bajunya agar mendapatkan sedikit angin sejuk.


"Itu bahasa apa sih?"


"Sunda, etah teh bahasa Sunda. Makanya belajar, bahasa yang ada di Indonesia itu keren-keren."


"Nanti gua pelajari."


Kita berdua berjalan terhuyung-huyung menahan keringnya tenggorokan ini karena kekurangan cairan. Tiba-tiba ada seorang wanita cantik berjalan ke arah kami, sontak aku berkata, "Wan, Wan. Lihat itu ada yang seger." Dengan menyikut pinggangnya.


"Mana, mana, mana?!" Dia melirik ke arah yang aku sebutkan.


"Uwaa seger banget!!" Irwan langsung mendekati wanita tersebut.


"Hai, ukhti. Ijinkan aku menjadi payungmu dikala panas melanda ini."


"Hii apa sih, Mas?" Wanita itu bergidik ngeri melihat tingkah laku Irwan sambil berkata pait, pait, pait.


"Woy, Wan!! Yang aku maksud itu ini yang seger, cewek mulu di otak lu. Jangan gitu amat kalau jomblo!" Teriak aku kepadanya. Padahal yang aku maksud itu adalah abang-abang penjual es doger.


"Eh-!"


"Hadehhh, punya temen jomblo gini amat," ucap aku tertunduk lesu.


"Ma-maaf ya, Mbak. Saya kira kamu yang di kaya temen saya." Dia berkata sambil tertawa yang di paksakan.


Wanita itu langsung memukul perut Irwan, sebagai tanda syarat untuk memaafkan kelakuan dia.


"Lain kali jaga sopan dan santun anda ya, Mas!"


"Adedede, i-iya maaf, Mbak." Irwan menahan sakit di perutnya, dia gak percaya bahwa akan di berikan hadiah permintaan maaf seperti itu.


Aku yang sedari tadi nongkrong di samping lapak abang penjual es doger itu hanya bisa tertawa terbahak-bahak karena tingkah lakunya.


"Udah terima nasib, sini dah lu dinginkan dengan minum es doger aja."


"Apes, apes. Udah panas eh kena pukul sama ukhti, untung dia cantik."


"Es doger satu, Bang." Pesan dia kepada abang penjual itu.


"Lagian lu sih ****, salah nangkap omongan gua."


"Namanya aja jomblo juga. Makasih bang," ucapnya setelah menerima segelas es doger.


"Eh ngomong-ngomong es ini kenapa ya di sebut es doger?" tanyaku.


"Hmm, entah." Irwan mengangkat pundaknya.

__ADS_1


Karena penasaran aku bertanya kepada Abang penjual itu, "Sejarah es doger itu apa sih, Bang?"


"Oh es doger?"


"Enggak! Es Cendol," ucapku gedek.


"Selow dong, Dek."


"Jadi gini, dulu tempat lahirnya di Kota Cirebon, es doger hanya dijual pikulan, nah saat itu namanya cuma es serut. Tetapi karena sudah mulai memakai gerobak, makanya berubah nama menjadi es doger, singkatan dorong gerobak," kata abang penjual itu.


"Oalah gitu toh ceritanya, mengikuti cara penjualannya berarti."


"Iya bener, Dek."


"Berarti bisa jadi es babil juga dong?" tanya Irwan.


Sontak aku dan si abang penjual menatap dia kebingungan. "Es babil apaan?" tanyaku.


"Es bawa mobil."


Mendengar itu kami semua tertawa bersama-sama, hawa panas dan haus yang kami berdua rasakan telah sirna karena di terpa dinginnya perpaduan berbagai macam bahan yang di tambah es menghasilkan cita rasa nikmat bernama es doger.


"Lang?" tanyanya.


"Apa?"


"Katanya lu mau makan berdua bakso sama dia, kok gak jadi?"


"Iyalah siapa lagi kalau bukan dia."


"Enggak jadi makan, karena dia mau pergi sama keluarganya. Jadi dia di jemput Abinya pas pulang sekolah tadi," ucapku panjang lebar.


"Oh kirain."


"Kirain apaan?"


"Kirain lu ribut lagi sama dia."


"Ya enggak lah, eh btw lu nanti malam ada acara gak?"


"Nampaknya enggak deh, emang kenapa?"


"Main yok!" seruku.


"Main apaan?" tanya dia heran.


"Jalan-jalan ke taman gitu sambil cuci mata."


"Cari yang banyak cewek cantiknya."


"Santuy, gua tau di mana tempatnya," kataku kepada dia.


Setelah selesai meminum habis dan membayar es doger itu, aku dan Irwan langsung berpisah pergi pulang ke rumah masing-masing.

__ADS_1


...


Jam 19:30


Aku masih stay menunggu Irwan di rumah, ada sedikit rasa jengkel karena ulah dirinya. Padahal sudah di janjikan sebelumnya untuk pergi jam 7 malam, dan ternyata dia rupanya juga jam, jam karet.


Hampir jam 8 malam barulah dia datang dengan menggunakan motor andalannya.


"Assalamu'alaikum, sori kalau kelamaan, Lang!" Dia berlari menuju ke arahku.


"Enggak kok gak lama, bentar malahan. Sangking bentarnya gua hampir ketiduran."


"Idih nyindir dianya kek cewek."


"Udah ah yok berangkat kita!" seru dia.


"Tapi gua yang bawa motor."


"Iya-iya serah lu dah, yang penting kita ntar cuci mata."


Inilah yang aku senangi sekarang ketika jalan-jalan dengan Irwan, dia selalu bawa motor matic andalannya. Motor yang berukuran besar dari matic lainnya, bahkan CC nya saja sampai 200 serta bentuknya itu loh yang bikin aku sangat-sangat suka. Elegan itulah kata yang pantas di sematkan untuk motor keluaran terbaru dari salah satu nama merek kendaraan terkenal di dunia.


Di perjalanan aku bertanya padanya, "Lu kenapa sih gak bawa motor ini ke sekolah?"


"Ogah!"


"Lah kenapa, kan keren?"


"Karena keren itu makanya gua ogah bawa, gua gak mau di kata pamer dengan anak-anak. Mending motor biasa aja," ucapnya menjelaskan alasan kenapa tidak mau membawa motor keren ini ke sekolah.


"Betul juga, tumben lu pintar," ucapku kepadanya namun tidak terdengar jelas oleh dia.


"Ha? Apa??"


"Enggak! Kita mampir dulu dah ke IndoApril beli minuman dan cemilan!" Aku mengencangkan nada suara agar bisa terdengar oleh dia.


Sesampainya di minimarket IndoApril, gua dan dia membeli keripik, kacang dan cokelat; minuman energi dan teh botol kemasan. Setelah itu kami lanjutkan perjalanan ke salah satu taman paling ramai pengunjungnya, banyak muda-mudi berlalu lalang menikmati malam bersama-sama, ada yang dengan keluarga, pacar, dan teman. Terlihat banyak orang menjajakan dagangannya berupa makanan, minuman, pakaian serta wahana permainan untuk anak-anak.


Kami memarkirkan kendaraan ini di tempat yang sudah di siapkan oleh pemerintah setempat agar supaya lebih aman, kalau parkir di tempat sembarangan bisa-bisa ini motor akan hilang, ya kalau beruntung sih yang hilang cuma helem doang.


"Kita duduk di sini aja, kalau ketengah taman terlalu banyak orang jualan," kataku kepada Irwan.


Tempat duduk itu sudah di desain oleh pemerintah setempat agar bisa meletakkan makanan, jadi lebih nyaman tentunya. Sambil ngemil makanan yang sudah di beli, aku berkata, "Coba lu lihat arah jam 2, Wan."


"Sekarang kan jam 8, ngapain lihat arah jam 2?"


"Astaghfirullah, Irwan bin Abdullah. Bukan itu yang gua maksud, Noh!" Aku menunjuk ke arah kumpulan cewek-cewek berjilbab.


"Ya lagian lu sok-sok ngomong gitu, eh. Gilak cantik-cantik sekali ukhti-ukhti itu." Matanya nanar menatap mereka.


Emang aku akui para wanita itu cantik-cantik, dengan jilbab yang tertutup sesuai syariat islam. Senyuman dan canda tawa mereka terjaga dari perbuatan dosa, terbukti dengan mereka menjaga pandangan dan kata dari lelaki yang lewat di depan mereka.


"Tunggu-tunggu, itu bukannya."

__ADS_1


__ADS_2