Janjiku Kepadamu Anindya

Janjiku Kepadamu Anindya
Ekskul Baru


__ADS_3

Sinar sang surya menghangatkan setiap insan manusia yang terpapar olehnya di pagi hari, memberikan vitamin D pada manusia.


'Ketika sinar ultraviolet disaring di kulit, sinar tersebut merubah simpanan kolesterol di kulit menjadi vitamin D.


Menerima paparan sinar matahari selama lima menit saja sama artinya dengan memberikan 400 vitamin D pada tubuh Anda.'


Seperti itulah aku saat ini, berjemur di bawah hangat nya sinar surya yang entah kenapa aku selalu membayangkan nya. Bagaimana sang surya tetap menyala di luar angkasa sana, dari mana asal dirinya, dan kenapa bisa bertahan selama milyaran tahun lamanya. Sungguh kuasa Sang Tuhan menciptakan sesuatu yang tak bisa sepenuhnya di cerna akal manusia.


Ketika diri ini sedang nyantai menikmati hangatnya ciptaan Tuhan sambil mencari harta karun yang berada di goa pernapasan manusia, beberapa siswa-siswi datang menghampiri dan mengelilingi aku.


"Loh ... loh ada apa ini, aku gak akan kasih harta karunku." kataku kepada mereka.


"Siape yang mau dengan upil lu bambang! Kami kesini ingin minta maaf kepada mu, Gilang,"


"APUAHH!!"


"Gak usah ngegas dan kuah juga badrun!"


"Hahaha, udah gak usah dipikir lagi. Aku sudah memaafkan kalian semua, aku tau kok kenapa kalian berbuat begitu."


"KENAPA?!" tanya mereka kaget.


"Bi-biasa aja dong nanya itu, aku tau kenapa kalian berkata seperti itu. Karena kalian takut kan sama 4 senior itu?"


"Kok ... kamu bisa tahu." tanya ketua dari rombongan itu.


"Tahu bulat di goreng dadakan." ledek aku.


"ENYOY-ENYOY!" sahut bercanda beberapa dari mereka.


"Karena aku sudah tau semuanya tentang masalah yang mereke perbuat kepada siswa-siswi disini, kalau ada yang berani macam-macam sama mereka, bakalan kena hajar. Jadi selaw ae ye." ucapku menjelaskan.


Mendengar penjelasan aku, mereka semua serempak menghela napas.


"Wey ... jangan gitu dong!"


"Lah, kenapa?"


"Gara-gara kalian begitu, napas ku jadi manual bangke." cetus ku kesal.

__ADS_1


'Ketika kalian dalam keadaan nyaman dalam situasi, napas kalian akan terasa otomatis. Namun jika ada yang menjelaskan cara bernapas atau yang bernapas dengan mengeluarkan suara di depan kalian, maka entah kenapa kita menjadi bernapas secara manual. Dan itu menjengkelkan :v'


Semua orang awalnya kebingungan, namun beberapa detik kemudian langsung sadar apa yang aku jelaskan. Mereka pada tertawa geli dan ada yang sampai mengambil napas sedalam-dalamnya.


...


Kringg!!


Akhirnya jam istirahat pun tiba, seperti biasanya rutinitas seorang anak murid yang membawa bekal dari rumah, akan menyantap bersama-sama di dalam kelas.


"Lang." tanya temen sebangku


"Ha? Ape?"


"Lu belajar dari mana ilmu silat begitu?"


"Memangna kenaopoa?" tanyaku sambil mengunyah makananan.


"Telan dulu woy! baru ngomong."


"Hehe, santuy dong. Memangnya kenapa lu nanya gitu?"


"Oh, aku dulu belajar dari SMP. Kalau mau belajar, nanti habis selesai pulang sekolah, kita latihan di lapangan jam 4 sore."


"Ha!! yang beneran nih?!" Dia terkejut mendengar ucapan yang aku berikan.


"Iye, nanti jangan lupa datang. Pakai baju olahraga yang longgar ye, jangan ketat. Terus bawa minuman sama makanan." ucapku.


"Loh, kok bawa makanan sih?"


"Ilmu silat gak ada yang gratis, kalau mau gratis belajar aja sono sama anak TK."


"Iye iye, ntar ku bawakan cemilan cepuluhnya."


Dengan anggukan aku menjawab omongan dia. Setelah selesai makan, aku langsung pergi ke kantin, membeli cemilan kesukaan.


Sesampainya di kantin, semua orang langsung menyapa dan melayani aku bakal seorang raja. Ketika mau ngantri makanan, otomatis aku akan menjadi paling depan, dan saat mencari tempat duduk juga, otomatis mereka akan memberikan tempat duduk mereka.


Ketika dikantin aku melihat 4 senior itu sedang makan bakso, kami saling bertatapan, tapi tidak seperti kemarin. Sekarang mereka ketika aku tatap, langsung menundukkan kepalanya. Aku lontarkan senyuman kepada mereka ber-4, agar mencairkan suasana.

__ADS_1


Suasana mulai berubah ketika kejadian itu, semua orang menghormati dan segan kepadaku. Di sekolah sudah tidak ada lagi yang berani buat onar, karena mereka tidak mau ber-urusan denganku.


...


Sore itu jam 04:00, aku terkejut melihat sudah banyak orang berkumpul di lapangan.


'Kenapa bisa rame gini.' pikirku penuh kebingungan.


Dari kejauhan mereka menatap aku dengan senyuman.


"LANG SINI!!" Sebuah suara yang sangat aku kenal, suara yang indah dengan intonasi yang lembut penuh manja.


"Loh, Anin ngapain kesini?" tanyaku.


"Ya ... untuk menyemangati kamu lah, haha." ucapnya manja sambil tertawa.


Tanpa perintah dari aku, mereka semua rupanya membuat barisan dan berjarak dengan rapih. Aku speechless melihat mereka yang entah kenapa membuat hati menjadi menjadi sangat senang.


Rupanya kabar tentang latihan ini di sebar oleh teman sebangku aku, sampai ke kepala sekolah. Karena di lapangan itu sudah ada Kepala Sekolah dan beberapa guru lainnya.


"Gilang, kamu kok gak ngabarin Bapak sih. Kalau mau buat ekskul silat di sekolah ini." tanya Kepala Sekolah.


"Awalnya saya hanya gabut (gak ada kerjaan) Pak, makanya saya mau melatih temen saya. Eh rupanya yang lain tahu juga." jawabku.


"Karena peminat silat ini banyak, Bapak akan mengesahkan ekskul silat ini. Tapi kamu jadi penanggung jawab sekaligus pelatihnya ya."


"Wah ... sungguh kehormatan bagi saya, Pak,"


Akhirnya hari pertama ekskul silat di mulai, semua peserta sangat antusias mengikutinya. Aku memberi wejangan terlebih dahulu kepada seluruh peserta, untuk berjanji tidak menggunakan ilmu silat untuk menindas orang yang lebih lemah. Silat hanya boleh di gunakan ketika sedang terdesak saja. Semua orang menyetujuinya, karena peserta ini banyak, aku meminta Anin untuk menjadi sekretaris untuk mendata semua nya.


Aku juga menekankan kepada mereka, bahwa latihan ini tidak gratis. Mereka wajib membayar uang latihan sebesar RP. 100.000,- setiap bulannya, yang dimana uang itu akan di pergunakan untuk kepentingan latihan maupun acara pertunjukan dan setengahnya lagi untuk gajiku. Serta mereka di wajibkan untuk membeli baju khusus silat.


Dalam hari pertama aku menjelaskan kepada mereka tentang apa itu silat harimau, supaya mereka mengetahui, bahwa budaya Indonesia itu memiliki daya tarik yang luar biasa. Sejarah awal silat, kapan berdirinya dan di bawah naungan siapa. Agar mereka tahu, budaya negri sendiri lebih keren ketimbang budaya asing.


Semakin hari, peserta terus bertambah dengan signifikan. Awalnya hanya 40 peserta, sekarang menjadi 120 peserta. Karena merasakan keteteran dalam mengajar, aku mengajak Irwan untuk membantu melatih.


Ketika memperkenalkannya kepada mereka, bahwa Irwan juga satu seperguruan. Semua orang terkejut, karena tidak percaya bahwa Irwan juga bisa silat, karena selama ini mereka melihat Irwan hanyalah seorang siswa yang biasa-biasa saja.


Setelah selesai latihan pertama tentang dasar gerakan silat, aku mengantar Anin pulang. Dalam perjalanan, kami berdua bercerita santai penuh canda tawa. Sesampainya di rumah Anin, aku langsung pamit pulang untuk istirahat. Karena semua badan ini pegal-pegal.

__ADS_1


__ADS_2