
MUBAZIR ketika kita membuang-buang makanan yang telah Allah SWT berikan lewat rahmatnya, hati ini terluka ketika melihat mereka yang kesusahan dalam mendapatkan makanan. Ada yang sampai mengais di tempat sampah, untuk mencari sesuap makanan, walau mereka tau itu sangat tidak higienis karena terkontaminasi dengan banyak kuman. Namun mereka tetap memakan itu, dari pada mati kelaparan.
Di lain sisi, di daerah yang mempunyai lahan yang sangat luas namun tandus, dengan cuaca panas yang dapat membuat manusia biasa langsung pingsan ketika terlalu lama terpapar panasnya cahaya matahari. Manusia di sana sangat memprihatinkan, banyak yang mati kelaparan karena tidak mampu mendapatkan sesuap makanan sampai tubuh mereka kurus menampakkan seluruh rangka tulang. Bahkan ada beberapa dari mereka membuat makanan dan tanah liat, yang mereka adon menjadi kue kering.
Seketika hati ini bergetar membayangkan jika diri ini merasakan seperti apa yang mereka rasakan, apakah sanggup bertahan dalam seminggu tanpa makanan yang mencukupi.
'Dengan mudahnya mereka membuang makanan itu, padahal banyak orang bersusah payah untuk mendapatkannya," ucapku membatin.
Ingin rasanya menegur dia, namun aku merasakan belum mampu membuat sadar.
Irwan dari belakang menepuk pundakku dan dia berkata, "Lang, lu ngapain bengong."
"Eh, lu Wan. Enggak, ini gua tadi lagi melihat ada siswa yang membuang makanan."
"Lah terus kenapa?"
"Teras terus ndasmu, lu gak mikir apa?" tanyaku sedikit kesal.
"Enggak ...." Irwan Menjawab sambil menggerakkan kedua sisi bahunya.
"Sotong bener lu ya! Lu gak pernah lihat di TV atau media informasi lainnya, banyak yang kesusahan mencari sesuap makanan. Sampai ada yang mati kelaparan."
"Iya ya, baru ingat gua."
"Makanya kalau nonton itu yang bermutu, bukan film blue doang, habis itu stok cairan."
"Lambe lu cok," ucapnya
"Udah yok kita ke kan-," Belum sempat dia mengajak, aku sudah pergi ke kantin duluan dengan wajah yang berpikir keras.
"Emang kek hantu ni anak," gerutu Irwan dan mengejar aku.
Sesampainya di kantin, aku duduk berpikir sambil memakan cokelat. Cara apa yang akan di lakukan, supaya mempunyai efek untuk tidak membuang makanan.
"Lang, kenapa lu gak diskusikan dengan pihak OSIS dan guru agama. Pan mereka punya kemampuan menggerakkan massa," ucapnya sambil Ikut nimbrung ke dekatku.
__ADS_1
"Hmm ... bener juga yang lu kata cok, tumben itu otak lu gunakan untuk berpikir?" tanyaku meledeknya.
"Rene rene, tak tapok lambemu," ucapnya kesal mendengar omonganku tadi.
"Hahaha, dah ah, yok ikut gua."
"Ha? Kemana?"
"Lah pan lu tadi nyaranin untuk ketemu pihak OSIS dan guru agama."
"Sekarang?"
Mendengar itu aku langsung menampar pelan mulutnya dan berkata, "Lu nanya lagi, ku retakan ginjal lu."
"Setdah sensitif amat jadi cowok, udah seperti cewek lagi PMS aja lu."
Aku melirik jam tangan, masih ada sisa waktu 20 menit. Bergegas aku menuju kantor OSIS untuk menyampaikan semua ide-ide ini.
"Assalamu'alaikum, permisi."
"Saya mau ketemu ketua OSIS kak."
"Ada apa ya?" tanyanya.
"Mau menyampaikan ide tentang buang makanan."
"Ya udah masuk, Dek."
Untungnya di dalam ruangan, sedang berkumpul anggota inti OSIS dan guru agama. Di Sana aku menyampaikan semua keluh kesah dan ide agar semua murid tidak lagi membuang makanan.
"Kamu punya ide bagus, Nak. Membuat gerakan agar jangan membuang makanan," ucap guru agama itu.
"Terus hanya gerakan doang?" tanya Ketua OSIS.
"Bagimana kalau kita mengharuskan untuk semua siswa-siswi ketika makan, untuk menentukan terlebih dahulu porsi yang sanggup mereka makan."
__ADS_1
"Maksudnya gimana?" tanya Guru Agama itu.
"Gini loh, Pak. Ketika mau makan, jangan terlebih dahulu menyampurkan semua nasi dengan lauk. Jadi mereka menentukan dulu porsi makan mereka, dengan cara mengambil nasi sesuai porsi mereka. Nah sisanya itu di sisihkan, nah nasi itu kan masih bersih tuh. Nanti kita gabungkan semuanya, dan kita bagi-bagi kan kepada orang yang membutuhkan," ucapku panjang lebar berharap mereka langsung mengerti apa maksud dari ucapan ini.
"Oke, saya mengerti apa yang kamu ucapkan, Dek. Nanti setiap kelas akan kita sediakan termos nasi untuk menampung semua nasi sisa itu," ujar ketua OSIS.
"Alhamdulillah, Kakak mengerti apa yang saya sampaikan."
"Nanti setelah pulang sekolah, akan saya panggil seluruh ketua kelas dan wakilnya. Kita akan melakukan rapat sebentar untuk menyampaikan gerakan ini."
Akhirnya apa yang aku inginkan telah tercapai, dengan gerakan ini, pasti banyak yang terbantu dan tidak ada lagi yang kelaparan. Kami berdua kembali ke kelas masing-masing, karena sebentar lagi waktu istirahat telah berakhir.
...
Ketika 1 jam lagi akan segera pulang sekolah, beberapa perwakilan anggota OSIS menyampaikan pesan rapat itu ke seluruh kelas.
Semua ketua dan wakil kelas masing-masing telah berkumpul di gedung rapat milik OSIS, disana ketua OSIS menyampaikan semua bahasan yang tadi di setujui sebelumnya. Seluruh ketua dan wakil kelas menyetujui gerakan itu, karena berdasarkan asas kemanusiaan. Membantu orang-orang miskin yang kesusahan dalam mendapatkan sesuap makanan.
"Setiap selesai waktu istirahat, kalian ketua kelas segera mengantarkan termos nasi itu ke ruangan OSIS. Agar anggota saya langsung membungkus nasi itu."
"Maaf, Kak. Saya ingin bertanya," ucap salah satu ketua kelas.
"Iya, silahkan."
"Bagaimana kalau di tempatkan juga kotak sedekah, nanti uang itu untuk di belikan lauk. Ya kali kita memberikan nasi doang kepada mereka yang membutuhkan."
"Ide yang sangat bagus, nanti kotak sedekah akan kita buat. Ada yang menyampaikan ide yang lain atau mau bertanya?" ucap ketua OSIS.
"Oke, nampaknya tidak ada lagi yang ingin di sampaikan. Sekian rapat kita kali ini, semoga besok rencana ini berjalan dengan baik dan lancar."
"Aamiin," ucap serentak kami semua.
—Sudahkah kalian bersyukur teman-teman—
—꧁☆☬Salam Santuy☬☆꧂—
__ADS_1