Janjiku Kepadamu Anindya

Janjiku Kepadamu Anindya
Keuntungan Sholat Subuh


__ADS_3

Suara adzan subuh kembali berkumandang di seluruh sudut dunia, menandakan panggilan untuk umat manusia yang beragama Islam segera mengambil wudu dan melaksanakan sholat wajib. Aku dan keluarga berbondong-bondong ke masjid untuk menunaikan sholat subuh, karena nantinya akan ada dakwah setelah selesai sholat. Di sana aku mendengar bahwa sholat subuh banyak manfaatnya untuk akhirat.


Sungguh merinding sekujur bulu romaku ketika mendengar manfaat itu, ustad itu berkata, "Rasulullah SAW mendoakan umatnya yang bergegas dalam melaksanakan shalat Subuh."


"Sebagaimana disebutkan dalam suatu hadist, ya Allah berkahilah umatku selama mereka senang bangun Subuh. Hadist ini di riwayat oleh Imam Tirmidzi, Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Majah."


Belum sempat aku menghayal tentang berkah yang akan di dapat ketika sholat subuh, ustad itu kembali menyebutkan keuntungan-keuntungan lainnya.


"Siapa yang menunaikan shalat Subuh maka ia barada dalam jaminan Allah. Maka, jangan kamu mencari jaminan Allah dengan sesuatu selain dari shalat, yang pada saat kamu mendapatkannya justru kamu tergelincir ke dalam api neraka.' Hadist riwayat Muslim."


Serasa di sambar petir ketika mendengar itu semua, sungguh ketika itu air mata beberapa orang—termasuk aku—mengalir deras dari tempatnya berada, karena mendengar kata Allah SWT akan menjamin umatnya yang melakukan sholat subuh. Yang artinya jika kita menunaikan sholat tersebut, maka kita di jamin akan di cintai dan di bawah lindungan olehnya.


"Pak, Buk, apakah kalian kagum dengan dua hadist yang saya jelaskan tadi?"


"Iya, Ustad!" seru semua yang hadir.


"Belum, belum semuanya. Ini hanya beberapa dari hadist yang menjelaskan manfaatnya. Apa kalian mau mendengar yang lain lagi?" tanya Ustad yang memakai sorban di kepalanya.


Semua mengangguk menginginkan hadist lain.


"Dari Aisyah RA telah bersabda Rasulullah SAW, dua rakat shalat fajar atau Subuh pahalanya lebih indah dari pada dunia dan isinya. Diriwayatkan oleh Imam At-Urmuzi."


"Allah SWT berfirman. Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. Quran Surah al-Kahfi ayat dua puluh delapan."


"Pak, Buk, apa kalian terkejut mendengar ini semua?"


"Iya, Ustad."


"Simpan dulu kaget kalian, karena masih ada lagi yang lainnya."


"Apa itu, Diriwayatkan Muslim dari Utsman bin Affan RA berkata. Rasulullah SAW bersabda, barang siapa yang shalat Isya berjamaah maka seakan-akan dia telah shalat setengah malam. Dan barangsiapa shalat Subuh berjamaah, maka seakan-akan dia telah melaksanakan shalat malam satu malam penuh."


"Sholat Subuh juga menjadi sumber cahaya di hari Kiamat bagi orang-orang yang menjalankannya, karena sumber cahaya yang ada di dunia akan tergulung dan padam. Apa itu sumber cahaya di dunia, sumber itu adalah Matahari," ucap Ustad itu menekankan beberapa kata dalam kalimatnya.


"Jangan puas dulu, Pak, Buk, masih ada lagi. Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy'ari RA, dia berkata Rasulullah SAW bersabda. 'Barangsiapa yang shalat dua waktu yang dingin maka akan masuk surga. Hadist Riwayat Al Bukhari. Dua waktu yang dingin itu, Pak, Buk, adalah shalat Subuh dan shalat ashar."


"Apakah Ibu dan Bapak sekalian ingin melihat Allah SWT?!" tanya Ustad itu dengan intonasi tegas.


"Mau, Ustad!"


"Maka laksanakan lah Sholat Subuh, kenapa? Hadist Rasulullah SAW yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Jarir bin Abdullah RA. Kami sedang duduk bersama Rasulullah SAW ketika melihat bulan purnama. Beliau berkata, Sungguh, kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan yang tidak terhalang dalam melihatnya. Apabila kalian mampu, janganlah kalian menyerah dalam melakukan shalat sebelum terbit matahari dan shalat sebelum terbenam matahari. Maka lakukanlah.''


Pada akhir penjelasan ini lah semua orang terkaget bukan kepalang, bisa melihat Allah SWT itu adalah impian setiap umat muslim. Karena Allah SWT belum pernah menampakkan wujudnya, kecuali hanya kepada baginda Nabi Muhammad SAW.


Bahkan pernah di kisah Nabi Musa AS memohon untuk di perlihatkan wujud Allah SWT karena kerinduannya yang sangat kuat, namun yang terjadi adalah gunung-gunung yang berada di dekat Nabi Musa AS hancur seketika, ketika Allah SWT baru mau memperlihatkan wujudnya. Bahkan sampai Nabi Musa AS jatuh pingsan karena tidak kuat menahannya.


'Sungguh nikmat yang tak tertandingi dari nikmat yang lain,' ucapku dalam hati.


Setelah selesai mendengar dakwah itu, semua orang mulai berdiri dan bersholawat sampai tepat jam enam pagi. Setelahnya saling bersalaman untuk menjalin tali silaturahmi antar sesama umat manusia.

__ADS_1


...


Sesampainya di rumah, semua orang langsung sibuk menyiapkan keperluan masing-masing. Abi dengan perlengkapan kantornya, ummi menyediakan sarapan pagi, abang dengan perlengkapan kerjanya, aku dan adik yang sibuk menyiapkan perlengkapan sekolah.


"Abi, Satria, Gilang, Mala. Sarapan ayo cepat, Ummi masakin nasi goreng kesukaan kalian!" seru Ummi kepada kami semua.


Dengan langkah kaki yang semangat, kami ber-empat menuju meja makan dan langsung menyantapnya dengan lahap sampai habis ketika setelah selesai berdoa.


Hari ini aku sampai tidak menyadari bahwa ada pesan masuk dari Anindya. Saat mengecek isi pesannya, aku langsung terkejut ketika mengetahui kebenarannya. Anindya meminta untuk di sampaikan kepada Wali Kelas, kalau dia sedang demam.


Sontak aku langsung buru-buru berpamitan dengan Abi dan Ummi untuk menuju ke rumahnya.


Dalam perjalanan menuju ke rumahnya, perasaan sedih menghantui isi kepala dan hatiku, takut dia kenapa-kenapa, takut dia menjadi murung, takut dia menderita.


Dalam waktu 20 menit aku telah sampai di rumahnya, dengan cepat langsung mengetok pintu.


"Assalamu'alaikum!" seruku dari luar.


Tak selang beberapa lama, Umminya membukakan pintu.


"Waalaikumsalam. Gilang, kenapa, Nak?"


"Benar Anindya sakit, Ummi?" tanyaku cemas.


"Iya, dia demam dari tadi malam setelah pulang dari tempat keluarga."


Dengan senyuman Ummi dari Anindya menyetujui permintaanku dan mengajak ke kamar anaknya.


"Adek! Ada yang mau ketemu ini!" seru Umminya sambil mengetok pintu.


"Siapa, Ummi?" Terdengar suaranya yang serak dan pelan.


"Buka aja dulu, tapi jangan lupa pakai jilbab."


"Iya, Ummi."


Beberapa menit kemudian dia membuka pintu kamarnya, Anindya terkejut ketika melihat kedatanganku. Terlihat kulit wajahnya sedikit memucat, dengan bibirnya yang kering. Umminya langsung meninggalkan kami berdua.


"Kamu kenapa bisa sakit?" tanyaku pelan.


"Ya namanya juga takdir, kalau takdirnya sakit ya sakit."


"Sudah makan?"


Dia menggelengkan kepalanya.


"Makan ya, aku suapin," ucapku pelan.


"Gak usah deh, nanti kamu telat ke sekolah."

__ADS_1


"Gak, aku sudah minta ijin sama Wali Kelas untuk merawat kamu."


"Apa sih segitunya, udah sana sekolah!"


"Gak!" ucapku sedikit meninggikan suara.


Dia langsung terdiam mendengar itu.


"Kamu duduk di kasur, biar aku ambil makanan."


Dengan cepat aku melangkahkan kaki menuju umminya, dan meminta sepiring nasi yang di lembutkan, segelas air dan obat demam.


Awalnya orang-tua Anin tidak menyetujui keinginan dariku, karena takut nanti aku kena masalah di sekolah. Namun setelah penjelasan yang aku berikan, akhirnya mereka luluh menyetujui permintaan ini.


Sesampainya di kamar wanita yang membuat aku khawatir, di sana terlihat Anin yang duduk menyenderkan bahunya sambil melihat keluar jendela. Perlahan aku melangkahkan kaki mendekati dia.


"Punten goputnya telah datang," ucapku menyapanya.


Dia tersenyum tipis mendengar apa yang aku katakan.


"Makan yang banyak ya, Tuan Putri." Aku menyuapkan satu sendok nasi itu kepadanya.


"Aaaaaa." Itulah yang aku ucapkan ketika menyuapkannya.


Dia sedikit mengernyitkan kedua alisnya, seakan pertanda dia merasakan makanan itu hanyalah pahit, aku yang mengetahui itu langsung memberikan minum kepadanya.


"Di paksa ya makannya, biar cepat sembuh. Muntah gak apa-apa, itu malah bagus, supaya cepat sembuh," ucapku kepadanya.


"Makasih ya~."


"Sudah jadi tugasku," ucapku memberikan senyum kepadanya.


Syukurnya dia bisa makan banyak, walau hanya sanggup setengah dari porsi yang aku bawakan. Tapi itu sudah membuat aku senang, setidaknya perut dia telah ter-isi.


"Nih minum obatnya." Aku memberikan sebotol obat demam berupa cairan sirup.


"Bukain~."


"Manjanya," ucapku tersenyum.


"Biarin, wuekk."


"Dah nih buka lebar-lebar mulutnya, kereta api datang."


Setelah selesai makan dan minum obat, aku menyuruh dia untuk langsung membaringkan tubuhnya dan menyelimuti dia.


"Tunggu sebentar ya, aku ambilkan kain untuk kompres kepalanya."


"Hmm." ucapnya pelan.

__ADS_1


__ADS_2