Janjiku Kepadamu Anindya

Janjiku Kepadamu Anindya
Restu


__ADS_3

"Iya, Nak." Ummi langsung menuju ruang tamu, untuk menemani Mala yang sedang menonton kartun sambil menyuapi makanan untuk Mala.


Setelah selesai makan, aku langsung membereskan dan mencuci piring yang kotor sampai bersih. ketika sedang asik mencuci, ada whatsapp masuk dari Anin.


Anindya ❤


"Alang... kamu kemarin jutek dan cuek sama anin, apa karena cemburu?"


______________________________________________


Degg..


Seketika, badan ini langsung terlemas karena chat darinya. Otak dan hati ini seperti kebingungan, apa yang harus aku katakan kepadanya. Kenapa dia bisa tau, Kenapa... ?


Pikiran ini terus berkecamuk, memikirkan jawaban apa yang harus aku berikan kepadanya. Jawab jujur, takutnya dia tau dan perlahan menghindar dariku. Jawab bohong, itu akan nambah dosa, kalau aku terus berbohong, masalah ini akan terus bertambah.


'ADUHHH..!!!!'


'Jawaban apa yang harus aku berikan'


...


Tingg..


Terdengar lagi bunyi pesan pada ponselku, sebuah pesan kedua dari Anin.


"Alang... tolong jawab... tolong balas pesan Anin ini."


Perlahan aku mulai memberanikan diri, untuk memulai membalas pesan dari nya. Dengan menarik nafas panjang, ku mulai mengetik.


"I-iya, aku cemburu."


Tanpa menunggu waktu lama, Anin langsung membalas pesan ku.


"*Cemburu kenapa?"


...


"Aku cemburu, Anin dekat dengan Sandi. Pulang dengannya terus menerus. Setiap pulang, aku selalu melihat mu bersama dengannya. Aku cemburu nin...


Maaf :(, kalau aku cemburu padamu."


...


"Ha... kamu cemburu sama Sandi?"


...


"Iya, aku cemburu karena dia."


...


"Alang.... Sandi itu sepupuku, anak dari kakak Ummi Anin. Dari kecil sampai sekarang, Anin dengannya selalu bersama. Anin sama Sandi itu sepupuan*."


...


Mendengar jawaban ini, di satu sisi aku sangat tenang, karena mengetahui kalau Anin dan Sandi adalah keluarga. Tapi di satu sisi lain, aku menjadi kebingungan, apa yang harus aku balas.


Tingg..


"Sekarang, kamu tau kan. Aku dan dia itu gak ada hubungan apa-apa, selain hubungan keluarga. Anin sekarang mau tanya, Alang suka sama Anin?"


...


Jlebb....


Makin kebingungan hati ini, aku harus jawab apa. Ini pertama kalinya untukku, merasakan sebuah sensasi yang dirasakan orang lain, ketika sedang memasuki permasalahan dunia cinta. Dalam kebingungan ini, tiba-tiba ada sebuah tangan yang halus dan lembut memegang pundak ini.


"Nak, kamu kenapa?" Rupanya tangan itu adalah tangan Ummi.


Tanpa menjawab pertanyaan Ummi, aku langsung memeluknya. Memeluk dengan sangat erat, seakan ingin memberitahu kan kepadanya. Bahwa aku sedang dalam kebingungan.


"Alang, ada masalah apa? Tidak seperti biasanya, Ummi lihat kamu sampai begini. Ada apa? Ceritakan sama Ummi."

__ADS_1


"Ummi ... Alang sedang jatuh cinta." Dengan menguatkan pelukan ini kepada Ummi.


"Oh ... anak Ummi sedang jatuh cinta ya, terus...."


"Alang cemburu Ummi, sebelum tau dia dan cowok itu adalah keluarga. Alang selalu cemburu melihat mereka berdua."


"Nah, masalah selanjutnya apa, Nak?" Mengelus-elus kepala aku dengan penuh kasih sayang.


"Dia bertanya kepada Alang, apakah Alang suka dengan nya." Ku tegakkan kepala ini menghadap wajah Ummi, yang sebelumnya aku benamkan dalam pelukannya.


"Alang suka sama dia?" Dengan anggukan aku menjawab pertanyaan Ummi.


"Ya udah, kamu katakan sebenarnya. Katakan kalau anak Ummi ini, suka padanya." Tangan Ummi terus mengelus kepalaku, membuat hati ini menjadi lebih tenang.


"Ta--tapi Ummi,"


"Tapi apa?"


"Alang takut, setelah Alang beritahu. Dia akan menjauhi Alang." Kebenamkan kembali kepala ini dalam pelukannya.


"Enggak akan kok, Nak. Ummi juga wanita, Ummi tau, dia gak akan menjauhi Alang."


"Beneran kan, Ummi?" Aku angkat kembali kepala ini menghadap wajah Ummi.


"Iya, gih sana jawab pertanyaan nya." Ummi pun mengelus kepala ku kembali, dan memeluk erat tubuhku dengan penuh kasih sayang. Setelah itu Ummi lepaskan dan memberikan isyarat kepadaku, sebuah isyarat yang selalu Ummi berikan dari aku masih kecil, Menyentuh hidungku dengan jarinya yang lembut dan berkata, kamu bisa melakukannya.


Setelah curhat kepada Ummi, hati ini menjadi lebih tenang dan mengetahui jawaban apa yang aku berikan kepada Anin.


"Bismillah, iya. Aku suka sama Anin, sejak pertama kali kita bertemu. Sejak pertama kali kita di aula utama saat mos. Maaf :(.


...


Tingg.. Tidak lama Anin membalas pesanku.


"*Loh, kenapa minta maaf?"


...


...


"Anin gak akan kok menjauhi Alang, hmm... sebenarnya, Anin juga...."


...


"*Juga apa?"


...


"Juga suka sama Alang*."


Seperti dentuman petasan di malam tahun baru yang meriah, langsung melesak masuk ke dalam hati ini. Membuat aku langsung kegirangan di dapur, meloncat loncat kesana kemari dan tertawa bahagia. Karena ulahku ini, Ummi sampai berlari ke dapur, untuk melihat apa yang terjadi.


"Alang ... kamu kenapa loncat-loncat begitu?"


"Ummi ... Dia rupanya menyukai aku juga." Dengan berlari aku langsung memeluk Ummi penuh bahagia.


"Tuh kan, apa Ummi bilang. Tapi ingat ... gak boleh pacar-pacaran, nanti kalau sudah lulus dan dapat kerja. Kita akan ke rumah nya, untuk meminang dia."


"Yang beneran, Ummi?" tanyaku sumringah.


"Iya,"


"Makasih Ummi." Langsung aku mencium pipi Ummi, karena rasa senang ini mendengar ucapan Ummi tadi.


"Ya udah, selesaikan itu tugasmu. Terus lanjutkan di kamar."


"Iya, Ummi."


Dengan penuh semangat, aku membereskan tugas mencuci piring itu. Dan langsung berlari ke kamar, sambil membawa es teh dan cemilan.


Sesampainya nya di kamar, aku langsung membalas pesan Anin.


"*Beneran Anin juga suka sama Alang."

__ADS_1


...


"Iya, tapi maaf ya Lang. Aku gak mau pacaran, kita tetap temenan saja ya."


...


"Iya, Ummi aku juga melarang pacaran. Tapi kata Ummi, kalau aku sudah lulus sekolah dan dapat kerja. Ummi bilang akan membawa keluarga untuk meminang Anin* 🤭."


...


"Hahaha, iya silahkan. Anin tunggu ya kedatangan nya 🤗."


"*Sekarang jangan cuek lagi ya sama Anin, dah ya Anin mau bantuin Ummi beresin rumah."


...


"Iya, gak akan lagi kok cuekin Anin. Semangat ya* ❤."


...


Keesokan harinya saat di sekolahan, aku sedikit malu-malu kalau ketemu dengan Anin. Namun dia langsung menatap dan menunjuk ku dan memberikan isyarat kalau jangan mencuekkan dirinya lagi. Melihat tindakan lucunya itu, membuat aku langsung tertawa bahagia dan membalas isyarat nya dengan anggukan dan senyuman.


Skip.


Kringg..!!


Akhirnya jam istirahat pun tiba, seperti biasanya aku, Anin, Irwan beserta teman-teman lainnya makan bekal bersama dan saling tukar makanan. Saat sedang makan, Irwan sedikit heran kepadaku dan bertanya-tanya dalam hatinya.


'Ini anak kan kemarin lagi galau galau nya, karena cemburu dengan Anin. Kok sekarang udah dekat lagi sama Anin, aku harus tanyain ini semua.'


Setelah selesai makan, aku langsung pergi ke kantin yang di susul sama Irwan. Dengan berlari dia mendekati aku.


"Woy, Lang!!"


Kutolehkan kepala ku menghadap panggilan dari Irwan itu. "Ha ... apaan."


"Kok lu sekarang udah gak cuek lagi sama Anin?"


"Kemarin semuanya sudah Anin jelaskan, Sandi itu sepupu dia." Aku menjelaskan dengan nya sambil berjalan santai menuju kantin.


"Oh syukur lah, terus apalagi. Gak mungkin dong cuma hanya karena penjelasan itu, lu jadi sesenang ini."


"Gua dan dia sama-sama saling suka, dan kata Ummi, kalau Gua udah lulus dan kerja. Ummi akan langsung mengajak Gua beserta keluarga untuk meminang dia."


"Ha...!!! Yang beneran tu?" tanya Irwan dengan ekspresi tidak percaya.


"Iya beneran, dan Anin pun bilang akan menunggu kedatangan gua dan keluarga." jawabku dengan senyuman.


"Wehh ... gua dukung deh, tapi bentar-bentar...."


"Lah tumben lu ngomong gua, biasanya aku." sambungnya bertanya heran.


"Hahaha, kambing ... terserah gua lah cok!"


"Udah ah, nyok beli jajan." sambungku.


"Nyok lah."


"Tapi lu yang traktir kan?" tanyaku dengan senyuman.


"Kon ... ci emang lu ya! Iya udah gua traktir."


"Nah ... gitu dong, gas lah aku mau beli cokelat tim-t*m satu kotak dan minuman jus alpukat ukuran gede."


"Woahh ... melunjak rupanya dia." Dengan kesel, Irwan memukul badan ku dengan pelan.


"Sekali-sekali pun Wan." jawabku memelas.


"Iya oke lah."


Sesampainya di kantin, ada sedikit keributan terjadi di dekat rombongan cowok-cowok.


"HEE ... LU ANJ*NG!! MASIH JUNIOR UDAH BELAGU LU BAB*!!"

__ADS_1


__ADS_2