
Rizal membaringkan Rizal di atas tempat tidur dengan kasar.
"Lis, aku tidak mau cerai darimu....." rengeknya dengan suara mengerang.
"Siapa yang perduli, Mas? Keputusanku sudah bulat, aku akan tetap bercerai darimu," sahut Lisa ketus.
Wanita mana yang akan tahan di sakiti hatinya? Bahkan anaknya sampai meninggal hanya karena ingin sebuah sepatu sedangkan Rizal malah bersenang-senang dengan janda gatel pujaan hatinya, menyakitkan bukan? Lalu untuk apa aku pertahankan pernikahan ini? Yang ada aku akan semakin kurus kering dan hidupku juga tidak akan bahagia selama aku hidup bersama dengan Mas Rizal. Laki-laki yang aku nikahi beberapa tahun lalu.
"Lis, jika kamu sampai minta cerai dariku, aku tidak akan menceraikanmu," lanjutnya dengan nada lunglai karena pengaruh minuman haram itu.
"Mona, tubuhmu begitu indah, aku sangat menikmatinya, tapi kamu begitu boros dan aku muak dengan itu semua," ucapan ngelantur terus keluar dari dalam mulut Rizal.
Deg....
Hatiku semakin tersayat saat mendengar laki-laki yang masih sah menjadi suamiku mengatakan hal menjijikkan seperti itu, Mas kamu tega, kamu jamak tubuh wanita lain dengan nikmat, lalu aku yang sah istrimu selalu saja kamu abaikan kasih dan sayang kamu hampir tak pernah berikan padaku. Lalu kamu ingin aku tidak menceraikanmu, Mas aku ini hanya manusia biasa, batas sabarku juga ada batasannya.
"Mona, kamu sudah membuatku gila," rancaunya semakin menggila.
Lisa memilih membiarkan Rizal terus berceloteh tidak jelas, lalu ia memilih tidur di lantai daripada harus satu kasur dengan laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya.
***
Keesokan harinya, seperti pagi biasanya Lisa tetap membuatkan sarapan untuk Rizal. Ya karena aku masih sah istrinya jadi aku masih harus melakukan tugasku dengan baik sebagai istri.
__ADS_1
Makanan yang tadi malam tidak makan akhirnya aku buang, lalu lagi ini aku masak lagi masakan yang sama. Entahlah Mas Rizal mau makan atau tidak ya terserah dia, yang penting sudah aku siapkan sarapan dan teh manis untuknya.
"Lisaa....!!''
"Keluar kamu, dasar wanita pembawa sial."
Terdengar suara yang cukup menggema dari luar sana, Lisa bergegas keluar dan melihat siapa yang datang?
"Ibu, ada apa?" tanya Lisa saat melihat Ratna yang tidak lain adalah mertuanya dengan mata yang berapi-api.
"Kamu, bilang ada apa? Kamu tahu, karena kamu. Mona datang ke rumah menangis, dasar mantu pembawa sial," sergahnya bersungut-sungut.
Lisa terdiam, Mona menangis datang ke rumah ibu, lalu kenapa aku yang di salahkan? Di kata-katain lagi sama ibu. Dasar janda gatel tidak punya otak, geram sekali aku padanya ingin aku jambak itu rambut panjangnya.
"Hey jaga mulutmu itu, berani sekali kamu dengan orang tua. Dasar punya mulut tidak di sekolahkan," oceh Ratna yang tidak mau kalah.
Mulut di sekolahin? Dasar dedemit tua bangka, jelas-jelas mulutmu yang tidak pernah sekolah datang ke rumah orang tidak ada sopan-sopannya, ya biarpun status aku mantu tapikan harus saling menghormati dasar Lampir Tua.
"Bu, maaf sebelumnya, Lisa tidak tahu ada masalah apa? Lalu janda gatel itu menangis kenapa? Lisa saja tidak tahu. Terus Ibu datang ke rumah Lisa marah-marah," cecar Lisa dengan nada geram.
"Mona bilang pada Ibu, kalau Rizal tidak mau menceraikanmu, itu pasti akal-akalanmu kan," tuduh sembari menunjuk-nunjuk jari telunjuk ke wajahku.
Ini apalagi? Masih pagi sudah di tuduh yang tidak-tidak, lelah rasanya. Janda gatel kamu mau buat drama seperti apa sih?
__ADS_1
"Iya mana Lisa tau, Bu? Lagian Bu, tanpa Mas Rizal menceraikanku, aku yang akan mengugat cerai dia, katakan pada janda gatel itu tidak usah kawatir," ujar Lisa dengan santai dan cukup tenang.
Biarkan janda gatel itu merasakan menjadi istrinya Mas Rizal. Seberapa lama dia akan bertahan?
"Baguslah, segera gugat Rizal! Aku tidak sudih punya mantu sepertimu, tidak berguna dan hanya menjadi beban Rizal saja," kata Ratna penuh hinaan.
"Aku juga bosan punya mertua seperti Ibu yang jahat dan tidak punya hati," timpal Lisa dengan santai lagi.
Menghadapi orang seperti Ratna itu harus santai tidak usah ngegas, nanti juga dia geram sendiri dan pergi dengan sendirinya.
"Mantu kurang ajar....!" teriaknya sangat geram pada Lisa dan Lisa malah tertawa kecil. Dasar menantu peak, tapi aku suka gaya Lisa.
"Mertuanya juga lebih-lebih Bu, jika Ibu ingin di hormati oleh mantu Ibu, sayangilah mantu Ibu, jangan jadikan menantu sebagai musuh," nasehat Lisa dengan bijak.
Ratna memasang kuda-kuda, berani sekali dia berceramah di hadapanku, dasar mantu kurang ajar.
"Ibu, ada apa sih?" tanya Rizal yang baru saja keluar dari dalam kamar.
Tatapan Ratna semakin berapi-api saat melihat Rizal, entah apa yang akan terjadi selanjutnya?
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1