Jatah Lima Puluh Ribu Satu Minggu

Jatah Lima Puluh Ribu Satu Minggu
Di Rumah Faris


__ADS_3

Sesampainya di rumahnya Faris, Lisa agak canggung. Mungkin karena belum terbiasa, jadi agak gimana gitu.


Saat Faris mengajaknya ke masuk ke dalam kamarnya, debaran jantung Lisa begitu kencang. Sungguh mau copot, padahal aku sudah janda tapi kok rasanya seperti perawan yang mau di gagai. Astaga Lisa, tenanglah!


"Kok berhenti? Ayo masuk!" ajak Faris dengan nada lembut.


Saat melihat Lisa malah terdiam, Faris menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya?


"Mas..." Lisa masih terdiam di tempat yang sama, mungkin karena masih terlalu canggung.


"Kenapa? Ini kamar kita berdua mulai sekarang, apa kamu tidak nyaman?" Faris bertanya dengan nada lembut.


Kamar yang bercat putih bersih dan cukup luas, ada kamar mandi di dalamnya juga. Sungguh membuat Lisa sangat kagum, selama ini Lisa tidak pernah membayangkan punya kamar atau rumah semewah rumah Faris ini.


Dulu saat menjadi istri Rizal hanya tinggal di rumah sederhana peninggalan dari kedua orang tuanya, Rizal juga tidak pernah berpikir untuk merenovasi rumah yang di tinggalinya saat itu. Hanya ibu dan adiknya yang selalu Rizal perdulikan, beruntunglah Lisa terlepas dari laki-laki seperti Rizal dan bertemu dengan laki-laki seperti Faris dan tentunya sangat berbeda


"Mas, kamu hanya tinggal bersama Alena saja di rumah semewah ini?" tatapan Lisa beralih ke Faris yang masih berdiri tegak di sebelahnya.


"Iya Lis, Mama dan Papa aku suruh tinggal di sini, tapi tidak mau. Alena juga lebih sering aku titipkan ke Ipah saat aku kerja. Ada 3 Art, tapi mereka semua kerjanya pulang pergi," jelas Faris pada Lisa dan Lisa mengangguk paham.


"Alena kemana?" Lisa berusaha menghilangkan rasa gugupnya, ia mencari-cari Alena. Padahal ia tahu kalau Alena itu tadi di ajak oleh Ipah, tapi ya basa-basi saja.


"Alena diajak oleh Ipah," kata Faris sembari tersenyum kecil.


Lisa bodoh! Kamu kan tadi lihat sendiri kalau Alena diajak oleh Ipah, kenapa kamu masih menanyakan Alena? Sungguh setegang inikah aku?


Lisa mengangguk kecil, akhirnya ia mengikuti langkah kaki Faris masuk ke dalam kamarnya. Biarpun debaran jantungnya semakin kencang, setelah beberapa lama menjadi janda dan kembali menikah lagi, Lisa harus benar-benar siap dengan kehidupan barunya lagi.


"Sayang, kalau kamu mau mandi. Di sebelah situ kamar mandinya ya," kata Faris menunjukkan kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.

__ADS_1


Lisa mengangguk, orang kaya kamar mandi saja ada di dalam kamar. Apalah aku yang hanya orang tidak punya, token listrik tidak bunyi saja aku sudah sangat bersyukur sekali.


"Iya Mas, aku ke kamar mandi dulu Mas," kata Lisa dan di anggukin oleh Faris.


Saat Lisa masuk ke dalam kamar mandi, Faris melangkahkan kakinya ke ranjang tempat tidur, lalu ia duduk di tepi ranjang.


Bukan hanya Lisa yang merasakan debaran jantungnya sangat kencang, ternyata Faris juga merasakan hal ya sama. Ya biar bagaimanapun Faris juga sudah beberapa lama menjadi seorang duda, jadi ya butuh harus benar-benar hati-hati takutnya ada yang salah. "Tapi kalau masalah di atas ranjang, aku tidak pernah salah. Lihat Alena, hasil produksi di masa lalu juga sangat cantik," batin Faris dalam hatinya. Ia tertawa kecil dalam hatinya, dasar mantan duda satu anak ini.


Setelah 15 menit berlalu, Lisa keluar dari dalam kamar mandi, ia memakai handuk berwarna putih yang ada di dalam kamar mandi.


Saat Lisa keluar dari dalam kamar mandi, ia melangkahkan kakinya menuju ke ranjang tempat tidur, sungguh tatapan Faris begitu sulit di artikan, Faris menelan ludahnya dengan kasar saat melihat bagian dada Lisa yang jelas terlihat, sungguh rasanya tidak sabar ingin menyentuhnya malam ini.


"Mas, kamu tidak mandi dulu?" tanya Lisa tampak gugup, berasa mau buka prawan padahal aku dan Mas Faris sudah janda dan duda, yang sama-sama anak satu.


"Emm iya, aku mandi dulu," jawab Faris gugup, lalu ia buru-buru berlalu pergi masuk ke dalam kamar mandi. Sungguh debaran jantungnya semakin kencang.


Tringg...


"Lis, kamu tidak usah gugup! Nikmati saja malam yang panjang ini dengan Mas Faris, kalau bisa mainnya beronde-ronde biar langsung jadi adiknya Alena." Di iringi emoticon tertawa kecil, sungguh jail sekali Ipah ini.


Setelah mengirim pesan ke Lisa, Ipah tertawa senang membuat Fahmi geleng-geleng kepala.


"Kamu jailin Lisa," kata Fahmi saat melihat isi pesan Ipah ke Lisa.


"Biar dia tidak tegang Mas," sahut Ipah senyam-senyum.


Fahmi malah tersenyum jail dengan tatapan yang begitu nakal.


"Lisa tidak tegang, tapi punya Mas tegang sayang," goda Fahmi dengan nakal. Ia hendak mencium bibir Ipah, tapi Ipah menahannya dengan kuat.

__ADS_1


"Mas, nanti ada anak-anak!" cegah Ipah, berabekan kalau sampai anak-anak melihat adegan dewasa ini. Dasar Mas Fahmi nakal.


"Anak-anak sudah tidur sayang, kan ada Neneknya dan Kakeknya, malam ini kita aman," tawa kecil di sudut bibir Fahmi semakin nakal.


Ipah tersenyum nakal juga, entah sudah berapa lama tidak kangen-kangenan sama suaminya apalagi sang suami sering kali kerja di luar kota, jadi jarang sekali bertemu.


"Sayang, ayo kita buatkan adik buat Tasya!" ajak Fahmi dan di anggukin oleh Ipah.


Tanpa menunggu lama, Fahmi melahap bibir Ipah dengan rakus, sungguh membuat Ipah susah untuk bernafas tapi Ipah sangat menikmatinya. Pergelutan panas di atas ranjang berlangsung dengan penuh gairah dan cinta, hingga para kecebong kecil akhirnya terlepas begitu saja masuk ke dalam rahim milik Ipah, hangat rasanya, sungguh nikmat yang luar biasa.


Pergulatan panas itu terjadi tidak sekali, tapi kembali terulang lagi karena Fahmi masih kuat dan kata Ipah suaminya ini tahan lama jadi selalu puas, ngasih jatah jarang tapi kalau sekalinya ngasih Mas Fahmi sampai buat aku merem melek keenakan. Kelojotan karena sanking enaknya di gagahi suami sendiri.


***


Di saat Ipah sedang memadu kasih dengan suaminya, di sisi lain pengantin baru ini juga tidak mau kalah. Malam yang cukup dingin, Faris langsung menggarap ladang milik Lisa, di bajak dengan kuat hingga Lisa meronta-ronta penuh nikmat, sungguh setelah sekian lama tidak di pakai, malam ini saat di pakai berasa prawan lagi.


"Ahh Mas pelan-pelan!" rintih Lisa, saat Faris mempercepat gerakannya.


"Iya sayang, malam ini kamu nikmati saja! Kamu miliku sayang," untuk membungkam mulut manis Lisa, Faris melahap bibir Lisa dengan kuat dan penuh nikmat.


Hanya e r angan kecil yang keluar dari mulutnya Lisa, suaminya ini sangat perkasa sekali.


Hentakan demi hentakan terus di lakukan oleh Faris, hingga akhirnya Faris mengeluarkan kecebongnya ke dalam rahimnya Lisa, hangat rasanya saat kecebong milik Mas Faris masuk ke dalam sana. Setelah sekian lama, akhirnya ladangku kembali di airi oleh laki-laki yang sudah sah menjadi suamiku.


"Ahh lega rasanya sayang," setelah puas Faris mengeluarkan miliknya dari ladang Lisa.


"Terimakasih istriku," katanya sembari mengecup kening Lisa dengan hangat.


Lisa tersenyum bahagia, ia berharap kalau pernikahannya dengan Faris akan bahagia selamanya.

__ADS_1


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2