Jatah Lima Puluh Ribu Satu Minggu

Jatah Lima Puluh Ribu Satu Minggu
Salah Pilih Menantu


__ADS_3

Bintang-bintang menghiasi malam ini, tidak terasa ternyata malam telah datang. Lisa yang sedang duduk sendirian di sofa depan sambil menonton televisi, ia merasakan begitu kesepian. Tidak ada lagi Tiara teman bercanda dan bermainnya setiap hari.


Tapi aku bahagia meskipun rasa kesepian melanda hatiku, aku tidak boleh sedih dan harus selalu mendoakan Tiara agar bahagia di surga sana. Aku tahu jika aku sedih maka Tiara akan lebih sedih di surga sana.


"Aku ke kamar sajalah mending aku nulis," gumamnya lalu beranjak dari tempat duduknya dan pergi masuk ke dalam kamar.


***


Sesampainya di rumah sederhana bercat warna putih, Mona menatap rumah itu berapi-api, ada kemarahan yang begitu dalam pada pemilik rumah itu, siapa lagi kalau bukan Ratna wanita yang saat ini sudah menjadi mertuanya. Wanita tua yang sudah bau tanah tapi begitu maruk dan sangat murka.


"Ibu...tok...tok....." dengan kasar Mona terus menggedor pintu rumah sang Ibu mertua.


Ratna yang sedang bersantai, ia tampak kesal saat mendengar suara gedoran qq pintu yang begitu kencang. "Siapa sih? Sudah jam setengah 7 malam menganggu saja," batinnya dalam hati.


"Mana sih Ibu, lama sekali buka pintunya?" Mona tidak tahan menahan amarahnya.


"Ceklek....." pintu terbuka lebar, melihat Mona yang datang Ratna tampak cuek dan tidak suka.


"Kamu itu ya datang ke rumah mertua tidak ada sopan-sopannya," omelnya pada Mona.


"Mertua yang seperti apa dulu yang harus Mona sopanin? Mertua yang selalu ikut campur masalah rumah tangga anaknya, termasuk gajian saja Ibu yang mengatur semuanya! Bu, aku bukan Lisa yang bisa Ibu atur kapan saja," cecar Mona tidak ada sopannya sama sekali.


Menantu yang dulu di idam-idamkan, lihat sekarang dia malah lebih berani dari Lisa. Emang enak, dasar tua bangka bau tanah yang tidak pernah bersyukur.


Ratna menyeret Mona dengan kasar, enak saja mau mempermalukannya di depan rumah. Nanti apa kata tetangga?


"Kamu itu ya, ingat Rizal itu lahir dari rahimku!" serunya dengan lantang, dia tidak mau kalah dengan Mona.


Dengan kasar Ratna mendorong Mona hingga terduduk di sofa dengan kasar, kedua mata Mona begitu beringas seperti macan yang sedang lapar dan ingin menerkam mangsanya.


"Tapi Mas Rizal itu suamiku Bu, aku berhak atas gajian Mas Rizal," lawannya dengan lantang. Mona berdiri dari tempat duduknya, ia berkacak pinggang dengan tatapan yang berapi-api.


"Rizal itu hanya menikahimu secara siri, eh Mona ingat ya tanpa aku, Rizal tidak akan mau menikah denganmu," sahutnya dengan enteng. Dalam pernikahan Mona dan Rizal, Ratna menganggap dirinya lah Mak Comblangnya.


"Aku tidak perduli Bu, yang penting Mas Rizal itu suamiku. Aku mau Ibu kembalikan uang gajian suamiku seutuhnya, enak saja aku cuma di kasih 300 ribu. Kenapa tidak Ibu saja yang negeloni dia setiap malam, nyusuin dia setiap malam, baju yang kotor juga di cucikan Bu!" Cecar Mona dengan lantang, aku tidak akan mengalah begitu saja. Yang capek setiap hari mengurusi Mas Rizal itu aku bukan Ibu.


Aku tahu Bu Ratna yang sudah melahirkan Mas Rizal, tapi ketika sudah berumah tangga ada baiknya seorang ibu itu tidak usah terlalu ikut campur dalam masalah rumah tangga anaknya.


"Lalu kamu maunya bagaimana? Dari dulu Lisa juga hanya 50 ribu untuk satu minggu, dia tidak seperti kamu boros," dengan kasar Ratna terus saja membandingkan Mona dengan Lisa.


"Berikan semua gajian Mas Rizal, atau aku akan memanggil Pak RT dan warga untuk datang ke rumah Ibu," ancam Mona dengan tatapan sinis.

__ADS_1


Ratna berdecak kesal, ternyata Mona tidak seperti apa yang aku harapkan? Lagian dia kerja kenapa dia berhenti kerja sih? Niat biar punya mantu seorang pegawai berduit, lah ini malah kere dan susah di atur.


"Ibu mau kembalikan uangnya atau aku....."


"Baik-baiklah, aku akan ambil uangnya!" Seru Ratna, lalu ia berlalu masuk ke dalam kamar untuk mengambil uang gajian Rizal. Sial aku tidak jadi shopping, padahal besok aku mau membeli cincin emas yang aku idam-idamkan, kini gara-gara menantu sialan itu semuanya gagal.


Ratna membuka lemari pakaiannya, lalu mengambil uang yang masih utuh karena belum ia pakai sama sekali.


Dengan langkah kaki yang berat Ratna melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar, ia kembali ke ruang tengah dan melihat Mona sudah duduk dengan tatapan sombong padanya.


"Mana?" tanya Mona ketus.


"Ini, tapi jangan semuanya!" Ratna menyerahkan uang gajian Rizal dengan berat hati.


Mona berdesis, jangan semuanya, dasar tua bangka tapi mata duitan sekali.


Mona memberikan 2 lembar uang warna merah kepada Ratna, ya biarpun ia tidak iklhas tapi mau bagaimana lagi?


"Ini untuk Ibu," katanya dengan nada cuek.


"Hanya segini," sembari menerima uang dari tangannya Mona,Ratna melakukan protes.


"Mau tidak? Jika tidak mau ya...."


Setelah mendapatkan uang Rizal kembali, Mona langsung pulang ke rumahnya. Lagian untuk apa di rumah mertua seperti itu lama-lama? Yang ada aku akan semakin kesal saja.


Setelah Mona berlalu pergi, Ratna hanya bisa meratapi nasibnya yang malang. Dulu Lisa tidak seperti ini, Ratna itulah menantu pilihanmu.


***


Sesampainya di rumahnya, Mona tertawa bahagia membuat Rizal yang sedang tertidur di atas sofa kaget dan buru-buru bangun.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Rizal, tatapan matanya tak lepas dari wajah Mona yang saat ini terlihat begitu bahagia.


"Mas, aku dapatkan gajianmu kembali," sahutnya dengan senandung yang indah.


Rizal langsung panik, ia kepikiran ibunya. Aduh lalu ibu bagaimana? Pasti dia akan marah besar padaku.


"Mona, biarkan saja uang gajiku Ibu yang mengaturnya, pasti dia akan marah besar padaku," keluh Rizal tampak ketakutan.


"Jadi kamu lebih takut pada Ibumu daripada Istrimu, Mas," sentak Mona dengan lantang.

__ADS_1


Ada suami seperti ini? Lagian jika kamu bersikap tidak adil terus, lama-lama perempuan tidak akan yang mau denganmu Mas. Lihat saja! Apa kamu mau kehilangan aku juga?


"Bukan begitu sayangku," kilah Rizal.


"Lalu bagaimana, Mas?" Tatapan Mona menyalahkan api perang.


Saat melihat tatapan Mona, Rizal menundukkan kepalanya. Ia tidak seberani itu pada Mona, coba kalau Lisa pasti sudah di caci maki habis-habisan oleh Rizal.


"Mona, kamu..."


"Sudahlah Mas, aku mengantuk, aku mau tidur dulu," potongnya lalu berlalu pergi meninggalkan Rizal masuk ke dalam kamar.


Rizal menghela nafas berat, lagi-lagi nasibnya begitu malang.


***


Pagi yang cerah Lisa sudah cantik dengan dress baru berwarna merah, ia berdandan begitu natural karena ingin pergi berbelanja bulanan di supermarket, setelah lepas dari Rizal, hidupnya jauh lebih bahagia dan hari-harinya juga tidak pernah kekurangan. Bahkan saat ini Lisa juga membuat kue jika ada pesanan untuk acara, lumayan untuk tambahan agar bisa merenovasi rumahnya.


"Mba Lisa, mau kemana?" Tanya Dewi, tetangga sebelah rumah Lisa.


"Mau belanja Mba Dewi, Kalau Mba mau kemana?" Lisa balik bertanya sembari tersenyum kecil pada Dewi.


"Mau ke pasar Mba," jawabnya dengan nada lembut.


"Jalan kaki?" Tanya Lisa, di anggukin oleh Dewi.


"Ayo bareng saja!" Ajak Lisa, dengan senang hati Dewi menerima ajakan Lisa.


Pasar dan Supermarket memang satu arah jadi Lisa mengajak Dewi untuk berangkat bersama saja, kasian kan kalau Dewi harus jalan kaki. Lagian Lisa juga pergi sendirian mengendarai motor maticnya.


Sesampainya di pasar, Dewi turun. Lalu Lisa melanjutkan perjalanan menuju ke Supermarket.


Sesampainya di Supermarket, ada seorang yang memandang Lisa dengan tatapan begitu lekat dan tidak berkedip sama sekali.


"Lisaa..." panggilnya.


Lisa menoleh ke sumber suara, ia menatap seseorang itu dengan senyum yang sulit di artikan.


Entah siapa yang Lisa lihat?


Bersambung

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2