Jatah Lima Puluh Ribu Satu Minggu

Jatah Lima Puluh Ribu Satu Minggu
Sepatu Untuk Tiara


__ADS_3

Hari ini adalah tepat hari ulang tahun Tiara, Lisa duduk di depan meja rias, ia menatap kado yang sudah di bungkus rapi. Ia juga menyiapkan kue ulang tahun, bahkan bingkisan snack untuk anak-anak.


Mungkin orang mengira Lisa ini sudah gila, ia menyiapkan semua itu untuk anaknya yang sudah meninggal. Tapi Lisa menyiapkan semua ini untuk kebahagiaan Tiara, biarpun Tiara sudah tidak ada di dunia, tapi aku akan membahagiakan Tiara dengan doa-doa yang selalu aku panjatkan dan hari ini aku ingin merayakan ulang tahun Tiara bersama dengan anak-anak yatim piatu di sebuah yayasan yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal aku, semua bingkisan yang aku siapkan ada 100 bungkus, kue ulang bertingkat dan makanan yang sudah aku pesan untuk makan bersama dengan para anak yatim piatu di yayasan nanti. Uang yang aku dapat semua ini dari hasil tulisan yang aku tulis, mudah-mudahan yang aku dapatkan selalu berkah.


Hari ini aku meminta bantuan Mas Faris dan bersyukurnya Mas Faris dengan senang hati mau membantuku.


Alena, Ipah dan Tasya juga aku ajak, Tasya bahkan membawakan kado untuk Tiara. Aku sedih saat melihat kado yang di bawa oleh Tiara, mungkin jika Tiara masih ada pasti ia akan sangat bahagia dengan semua ini.


Kini Faris dan lainnya sudah datang dengan mengunakan mobil, hari Faris membawa mobil yang agak besar sengaja biar semuanya muat.


"Ipah, terimakasih," kata Lisa saat melihat Ipah begitu cantik dengan gamis warna biru yang di kenakan hari ini, riasan yang natural membuat kecantikan Ipah begitu terpancar.


"Sama-sama, Maaf Mas Fahmi tidak bisa ikut," kata Ipah tidak enak. Fahmi sedang ada kerjaan, jadi ia tidak bisa ikut hari ini.


"Tidak apa-apa," kata Lisa dengan nada lembut.


Faris di bantu oleh supir pribadinya memasukkan semuanya ke dalam mobil, kini setelah beberapa lama akhirnya selesai dan mereka langsung pergi ke makam Tiara lebih dulu.


Entah aku harus sedih atau bahagia? Tapi aku tidak boleh menangis, aku tidak mau Tiara sedih di atas sana.


"Oh iya, Rizal dan istri barunya, kamu kabari?" Tanya Ipah dengan hati-hati, ia takut Lisa akan kesal.

__ADS_1


"Aku kabari Pah, ya biar bagaimanapun dia adalah bapaknya Pah. Katanya sih mau datang, aku juga sudah chat Mas Rizal kita sedang berjalan menuju ke makam Tiara," jawab Lisa dengan nada lembut dan Ipah mengangguk. Mudah-mudahan Rizal bisa datang, itu harapan Ipah. Biar bagaimanapun Ipah ingin melihat Tiara bahagia di surga sana.


***


"Mona, ayo bersiap! Hari ini Tiara ulang tahun, kita datang ke makam Tiara ya, Lisa juga datang ke sana," kata Rizal dengan nada lembut.


"Prangggg......"


Bukannya menjawab apa yang dikatakan oleh Rizal dengan baik, Mona malah membanting piring yang berisi nasi, membuat Rizal sangat geram dan tatapan matanya langsung berapi-api.


"Mas, lagian buat apa sih datang ke makam anakmu? Dia kan sudah mati, lagian kalau dia ulang tahun, orang sudah mati yang tetap saja mati, tidak bakal hidup lagi," cecar Mona, ia sangat marah saat Rizal mengajaknya datang ke makam Tiara.


"Bilang saja Mas! Kamu itu mau bertemu dengan Lisa kan, alasan ke makam Tiara segala," tuduh Mona dengan tatapan tidak suka.


"Terserah kamu Mas, Aku tidak akan pergi ke sana. Aku juga melarang kamu untuk pergi ke sana juga," pungkas Mona dengan tegas.


Rizal mendekatkan dirinya ke Mona, ia ingin sekali menampar pipi mulus Mona tapi tak ia lakukan. Langsung ia urungkan niatnya itu.


"Mona, Tiara itu anakku....."


"Mas, kalau kamu akui dia sebagai anak, aturan semasa hidupnya kamu sayangi dia, kamu saja tidak pernah menyayanginya kan, lalu saat sudah tidak ada kamu bilang itu anakmu," tawa Mona begitu menggema seakan-akan meledek Rizal.

__ADS_1


Rizal tidak melawan, ia sangat lemas mengingat saat-saat Tiara masih hidup, jangankan kasih sayang, makan enak saja jarang Rizal berikan, minta sepatu saja sampai akhir sakit dan meninggal.


****


Kini Lisa dan yang lainnya sudah sampai di makam, Lisa melihat kesana-kemari tapi tidak ada kedatangan Rizal.


"Katanya mau datang, tapi kok belum datang juga," kata Lisa dengan nada sendu. Sabar ya nak, kalau papa kamu tidak datang kamu jangan sedih, aku mengusap bantu nisan anakku, tapi aku tidak meneteskan air mataku. Aku yakin aku kuat menghadapi semuanya hari ini.


Setengah jam menunggu Rizal dan Mona tak kunjung datang juga, akhirnya Lisa dan yang lainnya yang merayakan hari ulang tahun Tiara hari ini. Sedangkan yang meniup lilinnya Alena dan Tasya.


"Selamat ulang tahun, Nak. Ini kado buat kamu sayang, sepatu yang kamu inginkan," kata Lisa lalu menaruh kotak kadonya di atas makam Tiara. Aku sadar Tiara tidak akan membuka kado dariku, tapi aku hanya memberikan permintaan terakhirnya di masa hidupnya. "Sepatu Untuk Tiara"


Ipah meneteskan air matanya, tak kuasa dia menahan air matanya. Faris dari tadi mengusap-usap punggung Lisa, berharap Lisa akan selalu kuat.


Sekilas Lisa melihat bayangan Tiara yang begitu tersenyum bahagia, membuat Lisa juga tersenyum bahagia.


Akhirnya setelah selesai merayakan ulang tahun Tiara di makam Tiara, kini Lisa dah yang lainnya langsung pergi menuju yayasan.


Rizal dan Mona juga tak kunjung datang juga.


Bersambung

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2