Jatah Lima Puluh Ribu Satu Minggu

Jatah Lima Puluh Ribu Satu Minggu
Aku Bukan Lisa Mas


__ADS_3

"Ini, berikan pada Mona!" titah Ratna tegas.


Rizal mengangguk, ia lalu pulang membawa amplop gajian yang sudah tidak utuh lagi. Entah akan seperti apa reaksi Mona?


Sesampainya di rumah, Rizal menghela nafas berat, ia tau ini pasti akan menjadi masalah besar bagi Mona.


Aku melangkahkan kaki dengan berat masuk ke dalam rumah, saat aku membuka pintu rumah, aku melihat Mona tersenyum cukup manis. Aku tahu mengapa ia tersenyum padaku cukup manis? Ya karena hari ini aku gajian, memang seperti ini setiap kali aku gajian Mona akan bersikap begitu manis bagaikan madu. Tapi hari ini akankah sikap manis itu bertahan lama?


"Mas Rizal, aku sudah buatkan kopi buat kamu," ujarnya dengan nada lembut dan senyum manis. Di sambut seperti ini aku bahagia, tapi aku tahu kebahagiaan ini hanyalah beberapa detik saja.


Aku duduk, lalu mengambil cangkir yang berisi di atas meja, aku menyeruputnya dengan nikmat, Ya sebelum kenikmatan ini berakhir.


"Mas, mana gajianmu?" Mona menodongkan tangannya pada Rizal.


Debaran jantung Rizal begitu kencang, ia takut Mona akan murka.


"Ini sayang," dengan hati-hati Rizal memberikan amplop coklat gajiannya kepada Mona.


Mona dengan sumpringah menerima amplop itu kedua matanya berbinar-binar bahagia, di otaknya sudah terbayang-bayang mau belanja dengan gajian yang diberikan oleh Rizal, laki-laki yang kini sudah menikah siri dengannya.

__ADS_1


Saat membuka amplop coklat itu, kedua mata Mona langsung berapi-api.


"Mas kok gajianmu cuma segini? Biasanya kan 6 juta Mas," pandangan Mona mengalih ke Rizal.


"Jatuh mungkin sayang," jawabnya gugup. Rizal sangat takut Mona akan murka. Beda sekali dengan Lisa.


"Jatuh, Mas kamu jangan berbohong, pasti kamu sudah berikan pada Ibu kan," sentaknya dengan suara lantang.


Seingat aku semarah-marahnya Lisa, ia tidak akan marah berlebihan seperti ini. Di kasih 50 ribu untuk satu minggu Lisa juga menerima saja, ya biarpun ngedumel tapi Lisa tetap menerima dengan ikhlas.


Iklhas pala lu....!!


"Iya Mon, uang gajianku sudah di ambil oleh Ibu. Itu sisanya buat kamu, satu minggu 50 ribu untuk belanja, jadi 200 ribu satu bulan. Lalu yang 100 ribu untuk pegangan aku," ujar Rizal begitu enteng.


"Mas, aku bukan Lisa ya. Uang segini cukup untuk apa? Belum untuk beli baju, kosmetik, aku juga mau skincare," cecar Mona menggebu-gebu tidak sabar.


Kalau seperti ini untuk apa aku berhenti bekerja? Ini sama saja aku membuat diriku sengsara dan aku pasti tidak akan bisa belanja lagi dengan para teman-temanku. Dasar, aku sudah salah menikah dengan laki-laki kere seperti Mas Rizal.


"Mona, kamu kan sudah sering kali membeli baju baru, kosmetik kamu juga masih banyak," dengan tatapan lembut Rizal lagi-lagi begitu enteng mengatakan semuanya kepada Mona.

__ADS_1


"Sudahlah Mas, uang segini tidak akan cukup untuk aku. Lebih baik aku kerja, lagian Mas, kamu kan sudah punya istri, tapi kenapa Ibu kamu masih ikut campur masalah gajian kamu sih?" oceh Mona semakin geram. Dasar Ibu mertua tidak ada akhlak, aku bukan Lisa ya Bu. Aku akan mengambil kembali uang gajian Mas Rizal, enak saja aku yang capek ngurusin Mas Rizal. Ibu yang menikmati gajiannya, itu tidak akan terjadi.


Rizal menghela nafas berat, rasanya hati ini merindukan Lisa.


"Mona, Ibu itu yang melahirkan aku, dia berhak akan uangku," kata Rizal sepele.


"Tapi tidak seperti ini caranya Mas, kamu kan bisa omongan dulu denganku," sahut Mona geram.


"Mona....."


"Sudahlah Mas, aku mau pergi dulu, aku capek Mas, kamu itu terlalu nurut kepada Ibumu," potong Mona dengan nada marah-marah.


Saat Rizal begitu frustasi, Mona meraih tas selempangnya, lalu ia berlalu pergi begitu saja dari hadapan Rizal. Entah Mona akan pergi kemana?


Rizal juga tidak bisa mencegahnya, sungguh kenapa hidupku kacau seperti ini? Lirih Rizal dalam hatinya.


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia

__ADS_1


__ADS_2