Jatah Lima Puluh Ribu Satu Minggu

Jatah Lima Puluh Ribu Satu Minggu
Mengingat Tiara


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu Faris dan Lisa tidak pergi berbulan madu, bukannya Lisa tidak mau diajak pergi bulan madu, tapi Faris meminta Alena tidak ikut, akhirnya daripada Lisa harus ninggalin anak tirinya lebih baik bulan madunya di rumah saja. Kasian kalau Alena harus di titipkan ke Ipah atau Nenek dan Kakeknya.


Faris juga tidak marah saat Lisa menolak diajak pergi bulan madu, ia malah kagum sama Lisa yang sangat perduli dengan putri semata wayangnya, sungguh ibunya Alena sendiri saja tidak pernah perduli dengan Alena dan Alena saja tidak pernah di tengok atau sekedar menanyakan kabar Alena lewat pesan singkat saja Fitri tidak pernah melakukan itu. Malangnya nasib Alena punya ibu kandung bag ibu tiri, tapi punya ibu tiri bag ibu kandung.


Lisa dan Alena sedang asik bermain di ruang tengah, mereka berdua terlihat begitu bahagia, membuat Faris juga sangat bahagia.


"Mama, ajakin Papa jalan-jalan yuk Ma!" kata Alena dengan nada menggemaskan. Alena begitu luwes memanggil Lisa dengan sebutan mama, sungguh Lisa bahagia sekali setelah sekian lama akhirnya panggilan mama kembali terdengar dari mulut seorang anak kecil yang lucu, ya biarpun bukan anak kandung tapi Lisa begitu sayang pada Alena.


"Kemana Nak? Papa kan sedang kerja," ujar Lisa dengan nada lembut. Gemas rasanya, pingin cubit pipi gembul Alena tapi takut nangis jadi tidak aku lakukan.


Biarpun Alena hanya anak tiriku tapi aku sangat menyayangi Alena seperti anakku sendiri. Tiara, maafkan mama karena mama akhirnya menikah lagi tapi Tiara selalu ada di hati mama, biarpun Tiara sudah di surga sana.


Saat bermain dengan Alena, tidak terasa air matanya menetes membasahi kedua pipi mulusnya, rasanya sangat kangen pada Tiara hanya saja Tiara sudah tidak mungkin kembali lagi ke dunia ini.

__ADS_1


"Terimakasih Lisa, kamu sudah menyayangi putriku seperti putrimu sendiri," lirih Faris penuh rasa syukur.


Saat melihat Lisa menghapus air matanya, Faris melangkahkan kakinya ke anak dan istrinya yang sedang duduk. Faris yang baru saja pulang kerja, ia tampak kawatir saat melihat Lisa menangis sambil memeluk Alena.


"Sayang," dengan lembut Faris menyentuh bahu Lisa dan itu membuat Lisa menoleh.


"Mas, sudah pulang?" buru-buru Lisa menghapus air matanya yang sedari tadi mengalir di kedua pipi mulusnya.


"Apa yang membuatmu menangis istriku?" tanya Faris dengan nada lembut, Alena yang sudah terlepas dari pelukannya kini menatap Lisa dengan tatapan bingung.


"Mas, Alena, mama tidak apa-apa, mama hanya teringat sama Tiara," jawabnya dengan nada sendu.


Faris ikut memeluk Lisa, kini mereka bertiga bag Teletubbies yang sedang berpelukan.

__ADS_1


Setengah satu minggu menikah dengan Lisa, Faris memang melupakan sesuatu. Ya Faris lupa mau mengajak Lisa dan Alena ke makam Tiara untuk ziarah, Faris juga menyayangi Tiara dengan tulus biarpun Tiara sudah tidak ada tapi doa Faris selalu menyertai Tiara.


"Lisa, maaf ya sayang. Besok kita ke makam Tiara ya! Kita ziarah kesana, kirim doa untuknya," kata Faris dengan nada lembut.


Tak terasa aliran air mata Lisa semakin deras, entah karena bahagia apa terharu? Lisa saja tidak tahu. Rizal saja tidak pernah perduli dengan Tiara yang bapak kandungnya, ke makam Tiara saja mungkin Rizal tidak pernah. Tapi Faris yang orang lain, dia malah sangat menyayangi Tiara. Mungkin jika Tiara masih ada, Tiara pasti akan bahagia punya papa seperti Faris dan punya adik secantik Alena.


"Iya mas, makasih ya mas," kata Lisa dengan nada lembut. Hatinya tenang dan sangat bahagia, Mas Faris adalah laki-laki yang baik, aku beruntung bisa menikah dengannya.


"Sama-sama istriku, sudah jangan sedih lagi! Mas tidak mau melihat kamu nangis, nanti Tiara juga akan sedih di surga sana," ujar Faris dengan nada lembut.


"Iya Mama, Alen sayang Mama," sambung Alena menggemaskan.


Hanya bisa mengucapkan kata syukur, setelah penderitaan yang telah di lalui kini kebahagiaan datang di kehidupan Lisa.

__ADS_1


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2