Jatah Lima Puluh Ribu Satu Minggu

Jatah Lima Puluh Ribu Satu Minggu
Faris Sudah Menaruh Hati


__ADS_3

"Terlanjur apa Mas?" Lisa bertanya dengan nada lembut tapi tampak gugup.


Faris terdiam, ia mengumpulkan keberaniannya dalam hatinya.


Faris menaruh makanannya di atas meja, lalu ia kembali menatap Lisa dengan tatapan yang cukup dalam. Debaran hati dan jantung Lisa semakin kencang, bagaimana tidak kencang? Faris menatap Lisa dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Mas, jangan membuatku takut," kata Lisa menghilangkan rasa gugupnya yang saat ini ada pada dirinya.


"Lis, aku sudah terlanjur menaruh hati padamu. Tadi saat kamu mengatakan kalau aku ini calon suamimu, hatiku sungguh bahagia," kata Faris dan ia menarik nafasnya sejenak, tiba-tiba rasanya menjadi gugup. Aduh, aku ini sudah duda anak satu bukan ABG lagi masa aku gugup di hadapan seorang wanita.


"Mas aku tadi hanya asal bicara," ujar Lisa hati-hati.


"Lis, aku boleh bertanya padamu? Tapi kamu harus jawab dengan jujur!" pinta Faris, membuat Lisa semakin gugup.


"Emm, boleh Mas," katanya yang lagi-lagi begitu gugup.


"Lisa, maukah kamu menikah denganku? Menjadi istriku dan Ibu untuk Alena," tanya Faris dengan keberanian yang sudah ia kumpulkan.

__ADS_1


Deg.... Tiba-tiba hati Lisa merasa bahagia, bahkan saat Faris mengatakan itu Lisa ingin sekali tersenyum namun Lisa berusaha menahannya.


"Mas, apa ini tidak terlalu cepat?" Lisa malah balik bertanya bukannya menjawab.


"Masa idahmu sudah berakhir, jika aku terus datang ke rumahmu, aku tidak enak dengan tetangga. Jadi aku ingin melamarmu untuk menjadi istriku," ujar Faris dengan serius.


Bukan sekali dua kali Faris datang berkunjung ke rumahnya Lisa, ya biar bagaimanapun status Lisa adalah seorang janda, tak baik rasanya jika terus datang dan takut akan terjadi fitnah yang tidak-tidak.


Hati Lisa berbicara, Mas Faris itu orang baik. Untuk apa kamu menjanda terlalu lama? Bukankah jika menikah dan punya teman hidup itu akan jauh lebih bahagia dan kamu juga tidak ada kesepian karena sudah ada Alena, bisa untuk obat saat kamu merindukan Tiara. Niat baik jangan di tunda Lisa!


Lisa mendengarkan kata hatinya, ada benar juga niat baik itu tidak boleh di tunda.


"Mas, aku menerima lamaranmu. Niat baik harus di segerakan Mas," jawab Lisa membuat hati Faris langsung merasa lega.


Faris yang begitu bahagia, ia hendak memeluk Lisa tapi Faris urungkan, karena belum muhrim.


"Aku akan segera menyiapkan semuanya, aku akan menggelar pernikahan kita dengan mewah," kata Faris antusias. Aku yakin aku sudah menemukan wanita yang tepat untuk menjadi istriku dan juga ibu dari anakku.

__ADS_1


"Mas, tidak usah terlalu mewah. Cukup syukuran saja tidak apa-apa," tolak Lisa tidak enak.


"Lis, aku ingin semua orang merasakan kebahagiaan kita, aku akan mengurus semuanya dengan baik," sahut Faris begitu bahagia.


Lisa hanya tersenyum kecil, beruntung sekali mendapatkan Faris. Dulu Rizal tak seroyal ini, nikahan saja hanya di KUA.


Setelah lamaran di terima, waktu juga tidak terasa sudah sore, Faris dan Alena pamitan pulang ke Lisa.


Rasanya tidak sabar ingin menyiapkan pernikahannya dengan Lisa.


Setelah Faris dan Alena pulang, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahnya lagi.


"Tok...tok....."


Lisa yang hendak duduk ia akhirnya tak duduk dan ia pergi untuk membukakan pintu rumahnya.


"Ceklek...."

__ADS_1


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2