Jatah Lima Puluh Ribu Satu Minggu

Jatah Lima Puluh Ribu Satu Minggu
Mona Berubah


__ADS_3

Malam yang begitu dingin membuat Lisa hanya berbaring di atas kasur rebahan sambil selimutan, sedangkan Alena di jemput Nenek dan Kakeknya untuk di ajak jalan-jalan Tasya juga ikut bersama mereka.


Kata Nenek dan Kakeknya mereka sengaja mengajak cucu-cucu mereka jalan-jalan dan menyuruh Faris dan Fahmi segara produksi lagi untuk adiknya Alena dan Tasya. Lucu dengernya tapi Mas Faris malah mesam-mesam, baginya ini adalah kesempatan yang bagus. Kalau Alena di rumah kan sering kali gagal, apalagi saat Alena meminta tidur bersama dan akhirnya menjadi batas di tengah-tengah kami tidur, sungguh wajah Mas Faris lucu sekali. Tapi mau kesal pun tidak bisa, apalagi Mas Faris begitu sayang pada Alena. Kadang aku hanya tertawa kecil seolah meledek dia, tapi dia membalasnya dengan senyuman masam. Ya mungkin yang di bawa sana sudah tidak sabar ingin keluar dari dalam sangkarnya tapi harus di tahan.


"Sayang, tidak ada Alena, produksi yuk!" ajaknya dengan nakal.


"Mas sudah malam, pabrik aku sudah tutup," goda Lisa dengan nakal juga.


"Buka lagi saja sayang! Kalau besok pagi sudah tidak sempat, kan mau ziarah ke makam Tiara," tutur Faris penuh usaha. Jangan sampai gagal malam ini, ini adalah kesempatan bagus apalagi Mama dan Papa itu mengerti kalau kami itu masih pengantin baru, jadi mereka ingin aku dan istriku banyak menghabiskan waktu berduaan saja.


Lisa tersenyum kecil, membuat Faris sangat gemas dan tidak sabar menggigit bibirnya yang mungil itu.


"Baiklah Mas, aku buka," katanya dengan nada lembut. Tatapan Faris berseri-seri sangat bahagia, pokoknya malam ini harus jadi itu adonanku.


Tanpa menunggu lama Faris melancarkan aksinya di atas ranjang tempat tidur, Lisa hanya bisa pasrah saat merasakan kenikmatan surga dunia ini.


Malam yang dingin ini terasa hangat karena pergulatan panas di atas ranjang, Lisa dan Faris saling berperang sahutan dari dalam mulutnya mereka, d e s a han penuh kenikmatan jelas terdengar dari mulut dua sejoli itu. Hingga akhirnya cairan hangat tumpah begitu saja membahasi dinding rahim milik Lisa.


"Ahh," lega sudah rasanya. Faris merebahkan tubuhnya di samping Lisa.

__ADS_1


"Terimakasih istriku," katanya lalu mencium kening Lisa dengan lembut.


"Sama-sama Mas," jawab Lisa dengan nada lembut.


Lisa tak langsung bangun dari tempat tidur, ya membiarkan tubuhnya tetap tenang agar cairan hangat suaminya mengalir dengan baik di dalam sana.


***


Di saat Lisa dan Faris baru saja selesai memadu kasih dengan penuh kebahagiaan.


Di sisi lain Rizal malah tampak kesal karena sudah jam 12 malam tapi Lisa belum pulang juga ke rumah, di telpon tidak di angkat, di kirim pesan juga tidak di balas.


Jarum jam terus berjalan dan kini jam sudah menunjukkan pukul 1 malam, akhirnya Mona pulang juga.


"Kok belum tidur, Mas?" tanya Mona ketus. Bukannya bersyukur suaminya setia nungguin ini malah kelihatan tidak suka sekali.


"Kamu darimana? Mona aku tidak bisa tidur karena kawatir padamu," kata Rizal pada Mona.


"Aku sudah gede, aku bisa pulang sendiri, lagian kamu nungguin aku juga percuma. Sudahlah aku mau tidur, aku capek." Mona berlalu pergi masuk ke dalam kamarnya, ia meninggalkan Rizal begitu saja yang masih duduk di sofa.

__ADS_1


Saat Mona masuk ke dalam kamar, Rizal menghela nafas kasar, semakin kesini kok Mona semakin gila pulang ke rumah saja tidak tahu aturan, aku di rumah ini sungguh seperti satpam. Padahal tidak di gaji, tapi setiap hari kerjaannya menunggu Mona dan Mona saja.


Rizal beranjak dari tempat duduknya, lalu ia menyusul Mona masuk ke dalam kamar.


Rizal duduk di tepi ranjang, ia melihat selimut Mona tersingkap hingga menunjukkan bagian paha Mona yang begitu mulus.


Di eluslah paha mulus itu. "Sayang, Mas mau ya malam ini," katanya dengan nada nakal.


"Apa sih Mas? Tidur saja sudah malam! Aku capek Mas," tolak Mona dengan ketus.


Kaget rasanya, sekarang Mona benar-benar berubah, entah apa yang membuat Mona berubah? Dulu Mona begitu manja, manis sekali, tapi sekarang galak bagikan singa jantan tak ada lagi Mona yang selembut sutra dan semanis madu. Jadi pingin selingkuh lagi rasanya, lelah sering kali di tolak sama istri.


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia


Mampir juga yuk kakak-kakak ke karya temannya Asti 🙏


__ADS_1


__ADS_2