Jatah Lima Puluh Ribu Satu Minggu

Jatah Lima Puluh Ribu Satu Minggu
Ratna, Mona dan Rizal


__ADS_3

Saat melihat seorang itu, Mona langsung berapi-api, rasanya tidak senang saat melihat orang itu.


"Ibu...."


Saat melihat ibunya datang Rizal merasa tidak enak karena Mona sedang marah-marah.


"Kenapa? Kaget Ibu tiba-tiba datang," cetus Ratna tampak kesal dan tatapannya begitu tidak suka dengan Mona.


"Ibu, untuk apa kesini?" Samber Mona, sudah seperti petir saja main samber tanpa permisi.


"Mona, lembutlah saat bicara pada Ibu!" Pinta Rizal dengan nada lembut, ia menyuruh Mona untuk duduk tapi Mona malah mendengus kesal.


Ratna melangkahkan kakinya, lalu ia juga duduk di sofa agak jauh dari tempat Mona duduk. Jika dekat mungkin mereka akan saling perang dan jambak-jambakan.


Rizal menghela nafas berat, ia menatap istrinya lalu beralih ke sang ibu.


"Tahu, dasar mulutnya tidak pernah di didik sepertinya oleh orang tuanya dulu," cebik Ratna geram.


"Jaga bicaramu dasar orang tua tapi selalu saja ikut campur rumah tangga anaknya," sahut Mona tidak suka.

__ADS_1


"Ehh Mon, kamu itu seorang istri. Jangan nyuruh-nyuruh suami, itu tidak boleh! Ingat ya Ibu saja tidak pernah menyuruh-nyuruh Rizal, dia Ibu besarkan dengan penuh kasih sayang," tutur Ratna merasa dirinya paling baik dalam mengurus Rizal di masa kecilnya dulu.


Mona semakin menghela nafas kasar, kenapa tiba-tiba tua bangka ini datang ke rumah. Lagian aku hanya menyuruh Mas Rizal, aku juga capek nenek peot. Bawa belanjaan pakai motor, aduh rasanya tidak enak enak sekali. Kapan aku punya suami kaya raya? Mertua yang baik? Sungguh Tuhan bersikaplah adil padaku!


Mona-Mona, kamu ingin Tuhan bersikap baik padamu, lalu kamu sendiri tidak mau memperbaiki sikap dan sifatmu.


"Aduh Ibu, kepala Mona sakit dan Mona mau istirahat dulu. Mas Rizal, itu urusin semua belanjaan tadi, ingat saat aku bangun tidur nanti semuanya sudah rapi!" Tandas Mona, ia berlalu pergi masuk ke dalam kamar meninggalkan Rizal dan Ratna di ruang tengah begitu saja.


Dasar mantu tidak punya akhlak, ada mertua datang bukannya di sambut dengan baik, ini malah di tinggal tidur. Rasanya menyesal aku sudah menyuruh Rizal menikahimu.


Ratna-Ratna, apa gunanya menyesal sekarang? Percuma tidak akan ada gunanya.


"Zal, istrimu itu tidak ada sopan santunnya sama sekali," protes Ratna dengan tatapan Ratna begitu marah pada Rizal.


"Biarkan sajalah Bu! Mungkin Mona juga kecapean, kami baru pulang belanja dan jalanan juga begitu macet sekali," sahut Rizal dengan santainya.


"Kamu itu didik istrimu dengan baik! Ingat jangan mau di injak-injak oleh wanita! Kamu itu laki-laki, jangan mau kalah dari istrimu!" Pungkas Ratna, lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan berlalu pulang begitu saja. Rasanya aku tidak punya harga diri di rumah mantuku sendiri, dulu saja sebelum menikah dia begitu baik sekali padaku sekarang sudah berubah semuanya.


Sambil berjalan pulang Ratna ngedumel tidak jelas, mungkin bagi orang yang tidak tahu akan mengira dirinya itu orang gila.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Lita masih menonton televisi sendirian di ruang tengah.


"Ibu, darimana?" Tanyanya saat Ibunya baru saja masuk dengan raut wajah kusut.


"Dari rumah Mas kamu, kenapa?" Ratna balik bertanya dengan sinis.


"Di tanya baik-baik juga, pasti Ibu ribut lagi sama Mba Mona dan Mas Rizal. Ibu, mereka kan sudah berumah tangga, ada baiknya biarkan mereka hidup dengan tenang dan Ibu jangan terlalu ikut campur akan rumah tangga mereka. Cukup Ibu hancurkan pernikahan Mas Rizal dan Mba Lisa!" cecar Lita dengan nada agak geram. Aku bukan anak kecil lagi, aku tahu permasalahan di rumah ini, bahkan Ibu terang-terangan menyuruh Mas Rizal menikah dengan Mba Mona aku saja tahu. Aku tahu semuanya, entah kapan ibuku akan sadar kalau terlalu ikut campur masalah rumah tangga anak itu salah besar.


Ratna langsung menatap garang Lita, rasa marahnya langsung naik begitu saja saat mendengar Lita mengatakan semuanya.


"Hey, kamu itu anak kecil, kamu tahu apa? Kamu itu cukup sekolah yang benar saja!" Sentak Ratna dengan tatapan geram.


"Sudah sana masuk kamar!" Lanjutnya lagi dengan nada menyentak.


Lita tidak tahu lagi bagaimana cara membuat ibunya ini sadar? Ibuku orangnya tidak mau salah dan tidak mau di salahkan, ia harus benar dan selalu benar. Aku saja hidupnya di atur oleh ibuku tapi aku tidak mau sepatuh Mas Rizal, yang ada kalau aku patuh pasti hidupku akan di setir oleh Ibuku. Ya seperti mobil yang di setir oleh pengemudinya dan akan menurut kemana saja pergi.


"Ibu, sadar sudah tua!" Lita beranjak dari tempat duduknya, lalu berlalu masuk ke dalam kamarnya. Jika tetap berada di ruang tengah pasti akan terjadi perdebatan panjang seperti kereta api.


Setelah Lita masuk ke dalam kamar, Ratna memikirkan cara untuk memisahkan Rizal dan Mona itu bagaimana?

__ADS_1


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2