Jatah Lima Puluh Ribu Satu Minggu

Jatah Lima Puluh Ribu Satu Minggu
Faris Dan Rizal


__ADS_3

Satu hari telah berlalu, Lisa sedang menyiram tanaman di depan rumahnya. Tiba-tiba Rizal datang, membuat Lisa sejenak menghentikan kegiatannya.


"Mas Rizal, ada apa?" Tanya Lisa terlihat begitu cuek pada Rizal. Sedikitpun perasaan untuk mantan suamiku sudah tidak ada, hatiku untuk saat ini masih kosong.


"Lis, aku kesini mau minta maaf. Maaf kemarin aku tidak hadir di makam Tiara," kata Rizal pada Lisa.


Lisa tersenyum, lalu ia duduk di kursi depan rumahnya, Rizal juga ikut duduk.


"Ini kursi baru Lis?" Tanya Rizal, dulu tidak ada kursi sebagus ini di depan rumah ini.


"Iya ini baru Mas, aku beli dengan hasil kerja kerasku sendiri," jawab Lisa agak kesal. Di saat dia minta maaf, tapi kursi juga dia bahas. Sungguh tidak penting sekali, apa kursi ini jauh lebih penting dari anaknya?


"Hebat sekarang kamu Lis, kamu kerja apa sih Lis?" Lanjutnya, Rizal tampak penasaran dengan kehidupan Lisa yang sekarang.


Lisa menghela nafas kesal. "Maaf mas jika kesini tidak ada kepentingan, lebih baik pulang saja nanti istrimu marah-marah," kata Lisa sinis.


"Eh Lis, aku kesini untuk minta maaf padamu," dengan gugup Rizal berbicara.


"Tidak apa-apa Mas, lagian tanpa ada kamu juga semua acara berjalan lancar," jawab Lisa dengan nada lembut tapi menekan.


"Aku jadi tidak enak, Lis...."


"Untuk apa tidak enak padaku? Lagian kan semasa hidupnya Tiara kamu juga tidak pernah perduli padanya, sudahlah Mas lupakan saja!" Sahut Lisa tampak malas.

__ADS_1


"Lis, kok kamu bicara seperti itu. Dari dulu aku sangat menyayangi Tiara," kilah Rizal sedikit tidak terima.


Lisa geleng-geleng kepala. Sayang sama Tiara? Yakin, jika mantan suamiku ini benar-benar sayang kepada anakku tidak mungkin Tiara sampai sakit karena meminta sepatu dan akhirnya meninggal.


"Sayang yang bagaimana? Selama hidupnya tega kamu mas hanya memberikan makanan tempe, tahu dan bayam setiap hari, kamu punya uang tapi kamu pelit sama anakmu, sudahlah Mas simpan saja rasa sayangmu sama Tiara, lagian Tiara sudah bahagia di surga sana!" Sahut Lisa, ia cukup muak melihat mantan suaminya selalu pandai berdrama seperti ibunya.


"Maaf Mas aku sibuk, sebaiknya kamu pulang saja! Tidak enak juga sama tetangga," sambung Lisa sinis.


Rizal menggelengkan kepalanya, ia tak mau pulang, lagian di rumah juga jenuh karena Mona selalu saja marah-marah padaku.


Ibu-ibu yang lewat di depan rumah Lisa, tampak tidak suka saat melihat Rizal ada di rumah Lisa.


"Lihat, Rizal itu sama seperti Ibunya, dia tidak tahu malu sama sekali, bahkan dia datang ke rumah Lisa. Mau apalagi coba?" Katanya tidak suka.


"Aku yakin Lisa tidak akan mau," kekeh yang lainnya.


Tiba-tiba ada mobil sedan warna hitam, membuat semua ibu-ibu mengalihkan pandangannya ke mobil sedan yang baru saja datang.


"Mending sama yang ini, ganteng..." Kata salah satu ibu-ibu penuh kagum. Auranya lebih kelihatan, cocok dengan Lisa.


"Benar, daripada sama Rizal," sambung yang lainnya lagi.


Ibu-ibu tetangga Lisa memang demen banget menggibah.

__ADS_1


Faris turun dari mobil sambil mengendong Alena dengan penuh kasih sayang.


"Mas Faris," senyum Lisa langsung sumpringah saat melihat kedatangan Faris, beda sekali saat bertemu dengan Rizal.


Perasaan saat bertemu denganku Lisa terlihat begitu tidak suka, giliran sama laki-laki lain, ia begitu sumpringah.


"Lisa, aku bawakan kamu sarapan," kata Faris dengan nada lembut.


"Makasih Mas," kata Lisa dan mengabaikan Rizal begitu saja.


Kini Faris duduk, Lisa bergegas masuk ke dalam untuk mengambil piring dan yang lainnya, tidak lupa Lisa juga membuatkan kopi untuk Faris. Tapi Rizal tidak di buatkan.


Saat Lisa kembali duduk, tatapan Rizal tampak tidak suka pada Faris.


"Maaf, Mas siapanya Lisa ya?" Tanya Rizal kepo.


"Saya..."


"Mas Faris ini,"


Kini Rizal menatap keduanya saling bergantian, rasanya sangat penasaran sekali, siapa sih Faris ini?


Bersambung

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2