
"Lisaa," panggilnya begitu manis.
"Ibu," sahut Lisa cuek. Tumben banget suaranya merdu.
"Sekarang kamu cantik sekali," pujinya dengan tatapan penuh arti.
Lisa mesem kecil, dulu mana pernah ibu muji aku cantik? Bagi ibu aku hanyalah menantu yang selalu salah di hadapannya, ingat sekali saat pemakaman Tiara dulu, bahkan mantan mertuaku ini begitu kejam dan tidak ada rasa sedih sama sekali, entahlah hatinya itu terbuat dari apa? Kok ada wanita sejahat mantan mertuaku ini.
"Terimakasih Bu. Allahamdulilah Bu, setelah Lisa berpisah dari Mas Rizal anak kesayangan Ibu itu, hidup Lisa jauh lebih baik dan lebih bahagia," ujar Lisa dengan bangga.
Dalam hati Ratna, sepertinya Lisa itu sudah punya uang banyak. Aku harus baik-baikin dia dan membuatnya kembali kepada Rizal.
"Eh Nak, nanti setelah pulang dari acara mampir ke rumah Ibu ya!" Katanya dengan nada lembut dan penuh harap.
"Untuk apa Bu? Aku takut istri barunya Mas Rizal salah paham," dengan sopan Lisa berbicara pada Ratna. Biar bagaimanapun ini banyak orang dan Lisa harus bisa jaga sikap.
Mona yang ternyata ikut datang di acara pengajian itu, tatapan matanya tampak tidak suka saat melihat ibu menantunya dan mantan istri suaminya begitu dekat.
"Mon, lihat Ibu mertuamu dekat sekali dengan mantan istrinya Mas Rizal," kata ibu-ibu yang duduk di sebelahnya.
"Halah itu hanya penceritaan saja Bu Melis," sahut Mona tidak suka.
"Padahal lihat mantunya di sini, tapi Bu Ratna malah milih duduk di samping manta menantunya," timpal yang lainnya.
Mona semakin geram, telinganya semakin panas, kini orang-orang di sebelah kanan-kiri, mereka begitu membuatnya kesal. Bukannya mendengarkan ceramah dengan baik, ini malah pada ngibah.
"Maaf ibu-ibu, ini sedang acara pengajian, cukup dengarkan ceramah saja dengan baik. Tidak usah mengibah," cetus Mona sinis. Menyesal aku duduk di sebelah Bu Melis.
__ADS_1
Ceramah berlangsung dengan khidmat, tapi yang datang malah asik menghibah.
Setelah beberapa lama akhirnya ceramah selesai. Kini semuanya menikmati makanan yang sudah di sediakan oleh para panitia dan
Semua pengurus pengajian hari ini.
***
"Lisa, ayo mampir ke rumah Ibu dulu!" Ajak Ratna dengan senang hati, padahal ada Mona ada di hadapannya tapi Ratna tampak cuek kepada Mona.
"Bu Ratna, ini ada Mona. Kok malah Lisa yang di suruh mampir ke rumah," cibir Bu Melis ia tampak menyebalkan. Mona menatapnya geram.
"Bu, saya kangen sama mantan mantu saya," sahut Ratna enteng dan membuat Lisa meringis tipis. Kangen! Perasaan dari dulu tidak pernah kangen, ini pasti ada maksud tertentu.
Tiba-tiba Bu Ani ikut bergabung di antara mereka.
Mona semakin geram, rasanya dia di situ tapi seperti patung yang di abaikan.
"Maaf Bu, Lisa masih ada urusan, jadi tidak bisa mampir. Mona, kamu tidak usah terlihat kesal seperti itu," kata Lisa, ia menatap Ratna, lalu beralih ke Mona.
"Sudah mantan jangan cari perhatian!" Sindir Mona kepada Lisa.
Lisa berpamitan, lalu berlalu pergi meninggalkan Ratna, Mona dan yang lainnya.
Saat melihat Lisa sudah agak jauh, tatapan mata Ratna begitu tajam kepada Mona.
"Eh Mon, kamu itu tidak baik, nyesal aku menikahkan kamu dengan Rizal." Ratna berbisik di telinga Mona, lalu ia pergi begitu saja.
__ADS_1
Berharap Lisa mau mampir ke rumah, ini sih Mona malah menggagalkan semuanya. Dasar mantu sialan kamu Mona, aku bersumpah akan membuat kamu berpisah dengan Rizal.
"Dulu juga Ibu, mengatakan hal yang sama tentang Lisa. Katanya Lisa tidak baik," dengan geram Mona balik berbisik di telinga Ratna.
Ratna mendesis kesal, Mona lalu pergi meninggalkannya begitu saja.
***
Pagi yang cerah, Lisa baru saja selesai mencuci baju, kini ia sedang menjemur baju di depan rumah.
"Tiittt!!!!"
Klakson mobil terdengar nyaring di telinganya. Lisa mengalihkan pandangannya ke sumber suara, saat melihat mobil sedan berwarna hitam ia tersenyum kecil saat melihat pemilik mobil itu keluar dari dalam mobilnya.
"Ante Lisa," suara itu terdengar begitu lembut di telinga Lisa dan saat melihat senyumannya Lisa juga langsung tersenyum bahagia.
"Alena," panggilnya, Alena berlari ke Lisa, lalu memeluk Lisa penuh kehangatan. Mungkin Alena merasakan rindu yang begitu berat pada Lisa.
Faris berdiri tegak sambil menyaksikan anaknya dan Lisa berpelukan erat, sungguh sudah seperti Teletubbies yang baru saja bertemu.
"Tante, Alen kangen," katanya terdengar nada bicara agak cadel.
"Ayo masuk, Mas!" ajak Lisa, ia mengendong Alena, membuat Alena jingkrak-jingkrak bahagia.
Kini mereka bertiga masuk ke dalam rumah Lisa, Lisa juga tidak menutup pintu rumahnya, karena takut terjadi fitnah.
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia